Liputan6.com, Jakarta: Perdagangan di Bursa Efek Jakarta dibuka kembali untuk pertama kalinya pada 2005 atau Senin (3/1). Direktur Utama BEJ Erry Firmansyah optimistis industri pasar modal tumbuh positif pada tahun ini.
Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Pada 2004, pasar modal Indonesia menjadi bursa saham yang memiliki kinerja terbaik di Asia. Nilai transaksi yang dimiliki pada tahun itu meningkat hampir 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 1 triliun per hari.
BEJ menargetkan tambahan 30 emiten masuk pasar modal pada tahun ini. BEJ juga akan mensosialisasikan bursa saham ke masyarakat umum. Namun, pemerintah diharapkan bisa menjaga kestabilan makro ekonomi dan memberikan insentif untuk para pelaku pasar modal.
Rencana pemerintah memberlakukan pajak reksadana dianggap menjadi salah satu hambatan untuk perkembangan pasar modal. Padahal, dana lokal sangat dibutuhkan karena investor lokal akan lebih setia dibanding asing. Jika demikian, pertumbuhan industri pasar modal di Tanah Air akan berkesinambungan.
Meski optimistis, BEJ cukup konservatif dalam menetapkan targetnya tahun depan. Indeks diperkirakan hanya naik 20 persen. Ini berdasarkan prediksi tidak ada peristiwa yang akan berpengaruh secara signifikan pada pasar modal sepanjang 2005.
Memang, 2004 menjadi tahun emas bagi BEJ. Level index yang ditutup pada tahun itu mencapai 1.000,433. Jumlah transaksi rata-rata meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Situasi kondusif ini tercipta lantaran suku bunga sertifikat Bank Indonesia menurun dan perkembangan makro ekonomi yang relatif stabil.
Kedatangan Presiden Megawati Sukarnoputri ke BEJ juga memberi sentimen positif. Kinerja BEJ membaik pada Januari 2004. Namun, indeks cukup rentan terhadap masalah keamanan dan kestabilan ekonomi di Tanah Air. Wabah flu burung pada Februari dan Bom Kuningan pada September 2004 sempat mengguncang indeks harga saham di BEJ.
Sentimen positif BEJ tercipta ketika rakyat diberikan kesempatan memilih langsung presiden dalam pemilihan umum. Bahkan, di bulan-bulan terakhir 2004, indeks harga saham terus mengalami peningkatan.
Salah satu faktor yang memberikan kontribusi terbesar bagi perbaikan kinerja BEJ pada 2004 adalah dominasi investor asing. Dari total kepemilikan saham, 70 persennya adalah asing. Sementara rata-rata transaksi harian, 60 persennya adalah asing. Namun, maraknya investor asing ternyata juga menimbulkan kekhawatiran karena indeks harga saham menjadi rentan anjlok jika mereka menarik dananya secara besar-besaran.
Dari seluruh kesuksesan BEJ itu, ada target yang tidak tercapai. Hanya 11 emiten baru yang mencatatkan sahamnya di BEJ dari 20 emiten yang ditargetkan. Sejauh ini, investasi di pasar modal telah memberikan keuntungan yang relatif lebih besar jika dibandingkan instrumen lain. Namun resiko yang ditanggung juga relatif besar. Pasalnya, dana tersebut tidak mendapat jaminan dari pemerintah.(AWD/Tim Liputan 6 SCTV)
Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Pada 2004, pasar modal Indonesia menjadi bursa saham yang memiliki kinerja terbaik di Asia. Nilai transaksi yang dimiliki pada tahun itu meningkat hampir 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 1 triliun per hari.
BEJ menargetkan tambahan 30 emiten masuk pasar modal pada tahun ini. BEJ juga akan mensosialisasikan bursa saham ke masyarakat umum. Namun, pemerintah diharapkan bisa menjaga kestabilan makro ekonomi dan memberikan insentif untuk para pelaku pasar modal.
Rencana pemerintah memberlakukan pajak reksadana dianggap menjadi salah satu hambatan untuk perkembangan pasar modal. Padahal, dana lokal sangat dibutuhkan karena investor lokal akan lebih setia dibanding asing. Jika demikian, pertumbuhan industri pasar modal di Tanah Air akan berkesinambungan.
Meski optimistis, BEJ cukup konservatif dalam menetapkan targetnya tahun depan. Indeks diperkirakan hanya naik 20 persen. Ini berdasarkan prediksi tidak ada peristiwa yang akan berpengaruh secara signifikan pada pasar modal sepanjang 2005.
Memang, 2004 menjadi tahun emas bagi BEJ. Level index yang ditutup pada tahun itu mencapai 1.000,433. Jumlah transaksi rata-rata meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Situasi kondusif ini tercipta lantaran suku bunga sertifikat Bank Indonesia menurun dan perkembangan makro ekonomi yang relatif stabil.
Kedatangan Presiden Megawati Sukarnoputri ke BEJ juga memberi sentimen positif. Kinerja BEJ membaik pada Januari 2004. Namun, indeks cukup rentan terhadap masalah keamanan dan kestabilan ekonomi di Tanah Air. Wabah flu burung pada Februari dan Bom Kuningan pada September 2004 sempat mengguncang indeks harga saham di BEJ.
Sentimen positif BEJ tercipta ketika rakyat diberikan kesempatan memilih langsung presiden dalam pemilihan umum. Bahkan, di bulan-bulan terakhir 2004, indeks harga saham terus mengalami peningkatan.
Salah satu faktor yang memberikan kontribusi terbesar bagi perbaikan kinerja BEJ pada 2004 adalah dominasi investor asing. Dari total kepemilikan saham, 70 persennya adalah asing. Sementara rata-rata transaksi harian, 60 persennya adalah asing. Namun, maraknya investor asing ternyata juga menimbulkan kekhawatiran karena indeks harga saham menjadi rentan anjlok jika mereka menarik dananya secara besar-besaran.
Dari seluruh kesuksesan BEJ itu, ada target yang tidak tercapai. Hanya 11 emiten baru yang mencatatkan sahamnya di BEJ dari 20 emiten yang ditargetkan. Sejauh ini, investasi di pasar modal telah memberikan keuntungan yang relatif lebih besar jika dibandingkan instrumen lain. Namun resiko yang ditanggung juga relatif besar. Pasalnya, dana tersebut tidak mendapat jaminan dari pemerintah.(AWD/Tim Liputan 6 SCTV)