Liputan6.com, Jakarta: Bagi sebagian masyarakat Papua, seni melukis tubuh adalah salah satu warisan budaya leluhur mereka. Hingga kini warisan itu masih dijaga sebagian masyarakat di sana. Di antaranya adalah Benny Rumbiak dan empat putra Papua lainnya yang memamerkan keterampilan melukis tubuh pada "Kencan Budaya Nusantara" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Menurut Benny, pada mulanya karya seni lukis tubuh merupakan upaya warga menyatukan dengan alam. Terutama sebagai penyamaran fisik sebelum turun ke hutan belantara untuk berburu. Warna dasar merah dan hitam adalah warna keberanian yang diambil dari alam, yaitu dari arang dan pohon merah sejenis palem yang tumbuh di Bumi Cenderawasih. Sedangkan warna putih diambil dari warna tanah liat. Seiring kemajuan zaman, kini warga Papua sudah mengenal cat tubuh yang aman untuk kulit.
Bagi warga Nabire, Papua, melukis tubuh sudah diperkenalkan kepada anak laki-laki berusia 12 tahun. Alasannya, pada usia tersebut anak laki-laki sudah diharuskan mampu berburu. Namun warisan budaya itu tidak dilakukan pada anak wanita. Kaum perempuan khusus diperkenalkan karya seni lukis wajah yang digunakan pada acara pesta adat.(DEN/Jeremy Tetti dan Agus Kusno)
Menurut Benny, pada mulanya karya seni lukis tubuh merupakan upaya warga menyatukan dengan alam. Terutama sebagai penyamaran fisik sebelum turun ke hutan belantara untuk berburu. Warna dasar merah dan hitam adalah warna keberanian yang diambil dari alam, yaitu dari arang dan pohon merah sejenis palem yang tumbuh di Bumi Cenderawasih. Sedangkan warna putih diambil dari warna tanah liat. Seiring kemajuan zaman, kini warga Papua sudah mengenal cat tubuh yang aman untuk kulit.
Bagi warga Nabire, Papua, melukis tubuh sudah diperkenalkan kepada anak laki-laki berusia 12 tahun. Alasannya, pada usia tersebut anak laki-laki sudah diharuskan mampu berburu. Namun warisan budaya itu tidak dilakukan pada anak wanita. Kaum perempuan khusus diperkenalkan karya seni lukis wajah yang digunakan pada acara pesta adat.(DEN/Jeremy Tetti dan Agus Kusno)