Ponpes Gontor Perpaduan antara Tradisional dan Modern

Pondok Pesantren Darussalam Gontor adalah salah satu tempat pendidikan para santri yang bersifat modern. Di ponpes ini telah banyak lahir tokoh-tokoh agama dan politik yang berkiprah di Tanah Air.

oleh Liputan6Diterbitkan 28 November 2004, 20:03 WIB
Liputan6.com, Ponorogo: Pondok Pesantren adalah basis massa organisasi Islam terbesar di Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan, ponpes sering mengesankan kehidupan dengan pola pendidikan tradisional dan sederhana. Bahkan ponpes terkenal dengan tempat berkembangnya kaum sarungan atau Nahdlatul Ulama. Namun, kesan tersebut tidak didapat di Ponpes Modern Darussalam Gontor, Desa Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

Di ponpes yang dirintis tiga bersaudara yakni Kiai Haji Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fanani, dan K.H. Imam Zarkasyi pada 9 Oktober 1926 ini banyak melahirkan tokoh-tokoh agama terkemuka di Tanah Air. Kemudian tokoh yang mendirikan ponpes itu dikenal dengan "Trimurti". Selain itu, ponpes ini telah menjadi tujuan santri baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Saat ini, ponpes yang berada di atas areal 8,5 hektare ini sedang sibuk untuk mempersiapkan para santri baru yang akan mondok. Wajah ceria tampak pada santri baru yang berjumlah sekitar 1.100 orang. Mereka akan segera berbaur dengan santri lama yang telah pulang dari liburannya. Para santri ini akan diasuh 200 ustad (guru) yang mayoritas bergelar master lulusan luar negeri seperti Mesir, Arab Saudi, Pakistan.

Sebelum masuk, para santri yang baru tiba wajib untuk melapor pada petugas bagian pemeriksaan barang yang beranggotakan santri lama. Pemeriksaan dilakukan untuk mencegah para santri membawa barang-barang terlarang seperti narkotik dan obat-obatan berbahaya, buku porno, dan senjata tajam. Sedangkan bagi para santri yang berambut panjang akan menjalani pemotongan rambut oleh senior mereka.

Suasana kehidupan di pesantren pun mulai terasa, saat para santri memulai aktivitasnya dengan menunaikan salat zuhur. Meski tata tertib pondok belum sepenuhnya diterapkan, karena terbiasa salat berjemaah, maka sekitar 4.000 santri berduyun-duyun datang ke Masjid Gontor untuk menjalankan ibadah salat. Usai beribadah, mereka makan siang bersama di dapur pondok.

Komunikasi sehari-hari yang digunakan para santri adalah bahasa Arab dan Inggris. Bagi sebagian santri, menuntut ilmu di Ponpes Gontor adalah pilihan yang tepat [baca: Ingin Mahir Berbahasa Asing, "Mondoklah" di Gontor]. Mereka mengaku cocok dengan sistem pendidikan dan kurikulum yang diterapkan. "Cara pendidikan di sini tidak didapat di tempat lain," kata seorang santri.

Semula ijazah yang dikeluarkan Ponpes Gontor ini tidak diakui baik oleh Departemen Agama maupun Departemen Pendidikan. Baru pada 1998 dan 2000, ijazah keluaran pondok yakni Kuliyatul Muallimin Al-Islamiyah (KMI) ini disamakan atau disetarakan. KMI tersebut berjenjang dari kelas satu hingga enam setaraf dengan sekolah lanjutan menengah pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas.

Beberapa tahun terakhir, banyak prestasi diperoleh para santri. Di antaranya lomba pidato berbahasa Arab dan Inggris, serta sebagai duta Jambore Asia Pasifik di Australia dan Thailand. Selain itu, banyak alumni yang telah berkiprah di tingkat nasional seperti Ketua MPR 2004-2009 Hidayat Nur Wahid, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi, dan cendekiawan Nurcholish Madjid, serta budayawan Emha Ainun Nadjib.(JUM/Agus Ainul Yakin dan Arie Wiriawan)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya