Liputan6.com, Boyolali: Persaingan perebutan kursi ketua Rois Aam atau penanggung jawab organisasi dan ketua umum Tanfidziyah atau Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama semakin runcing dan sengit. Pada pembukaan Muktamar ke-31 NU di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, Ahad (28/11) pagi, kedua kubu saling menyusun kekuatan dan merapatkan barisan.
Sejauh ini, persaingan poros Lirboyo dengan Langitan makin menampakan rivalitasnya. Kubu Langitan yang diusung oleh Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tetap mengajukan nama K.H. Mustofa Bisri alias Gus Mus untuk menjabat posisi puncak di organisasi massa Islam terbesar di Indonesia ini. Sebaliknya, poros Lirboyo mempercayakan K.H. Hasyim Muzadi untuk kembali memimpin kaum sarungan pada periode mendatang [baca: Gus Dur Mendukung Mustofa Bisri].
Dari pemantauan SCTV, untuk sampai ke tempat digelarnya muktamar, Gus Dur rela berjalan kaki sejauh sekitar 600 meter. Selain itu, mantan Ketua Umum PBNU tiga periode ini lebih memilih duduk di belakang, jauh dari barisan para kiai besar berada. Lantaran itulah Gus Dur tidak sempat berjabat tangan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah pejabat lainnya.
Menurut Gus Dur, hal itu dilakukannya sebagai wujud protes terhadap panitia pelaksana muktamar yang tidak mengundang beberapa kiai sepuh atau kiai yang dituakan. Dalam jumpa pers, Gus Dur menyatakan siap membentuk organisasi tandingan yang mungkin bernama Nahdlatul Alim Ulama atau Jamiah Kebangkitan Bangsa. Hal itu akan dilakukan jika kubu Hasyim merugikan pihaknya dalam pembahasan tata tertib nanti.
Pagi tadi, Presiden resmi membuka Muktamar ke-31 NU. Presiden didampingi istri, Kristiani Herawati Yudhoyono dan beberapa anggota Kabinet Indonesia Bersatu. Dalam sambutannya, SBY--biasa Presiden Yudhoyono dipanggil-- menyampaikan beberapa amanat dan menyambut gembira dari tema muktamar ini yakni "NU untuk Bangsa Menuju Indonesia Bersih dan Bermartabat" [baca: Muktamar NU Siap Digelar].
Pembukaan muktamar sempat diwarnai insiden kecil. Saat SBY tiba di lokasi muktamar, seorang wanita berguling-guling dan menjerit histeris persis di hadapan SBY. Diduga ia menjerit karena tidak bisa bersalaman dengan Kristiani Herawati. Nurul Istiqomah warga Brebes, Jawa Tengah, itu mengaku sebenarnya kedatangannya adalah untuk mendoakan agar muktamar berjalan dengan lancar.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)
Sejauh ini, persaingan poros Lirboyo dengan Langitan makin menampakan rivalitasnya. Kubu Langitan yang diusung oleh Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tetap mengajukan nama K.H. Mustofa Bisri alias Gus Mus untuk menjabat posisi puncak di organisasi massa Islam terbesar di Indonesia ini. Sebaliknya, poros Lirboyo mempercayakan K.H. Hasyim Muzadi untuk kembali memimpin kaum sarungan pada periode mendatang [baca: Gus Dur Mendukung Mustofa Bisri].
Dari pemantauan SCTV, untuk sampai ke tempat digelarnya muktamar, Gus Dur rela berjalan kaki sejauh sekitar 600 meter. Selain itu, mantan Ketua Umum PBNU tiga periode ini lebih memilih duduk di belakang, jauh dari barisan para kiai besar berada. Lantaran itulah Gus Dur tidak sempat berjabat tangan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah pejabat lainnya.
Menurut Gus Dur, hal itu dilakukannya sebagai wujud protes terhadap panitia pelaksana muktamar yang tidak mengundang beberapa kiai sepuh atau kiai yang dituakan. Dalam jumpa pers, Gus Dur menyatakan siap membentuk organisasi tandingan yang mungkin bernama Nahdlatul Alim Ulama atau Jamiah Kebangkitan Bangsa. Hal itu akan dilakukan jika kubu Hasyim merugikan pihaknya dalam pembahasan tata tertib nanti.
Pagi tadi, Presiden resmi membuka Muktamar ke-31 NU. Presiden didampingi istri, Kristiani Herawati Yudhoyono dan beberapa anggota Kabinet Indonesia Bersatu. Dalam sambutannya, SBY--biasa Presiden Yudhoyono dipanggil-- menyampaikan beberapa amanat dan menyambut gembira dari tema muktamar ini yakni "NU untuk Bangsa Menuju Indonesia Bersih dan Bermartabat" [baca: Muktamar NU Siap Digelar].
Pembukaan muktamar sempat diwarnai insiden kecil. Saat SBY tiba di lokasi muktamar, seorang wanita berguling-guling dan menjerit histeris persis di hadapan SBY. Diduga ia menjerit karena tidak bisa bersalaman dengan Kristiani Herawati. Nurul Istiqomah warga Brebes, Jawa Tengah, itu mengaku sebenarnya kedatangannya adalah untuk mendoakan agar muktamar berjalan dengan lancar.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)