Pukul Sapu, Tradisi <i>Syawalan</i> Warga Maluku

Tradisi pukul sapu antara lain dilakukan warga Desa Morela dan Mamala, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Setiap peserta bebas memukuli lawannya dengan menggunakan sapu lidi secara bergantian.

oleh Liputan6Diterbitkan 22 November 2004, 14:15 WIB
Liputan6.com, Maluku Tengah: Sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri, umat muslim di berbagai daerah masih mempunyai kegiatan berkaitan dengan menyambut datangnya bulan Syawal. Salah satunya yang digelar masyarakat di Maluku. Untuk memperingati hari ketujuh bulan Syawal, masyarakat di sana menggelar tradisi pukul sapu. Dalam tradisi ini, setiap peserta harus merelakan tubuhnya dipukuli dengan sapu lidi hingga terluka.

Tradisi pukul sapu antara lain dilakukan warga Desa Morela dan Mamala, Kabupaten Maluku Tengah. Ritual ini sekaligus untuk mengenang Perang Kapahaha yang dipimpin oleh Kapitan Achmad Leakawa alias Telukabessy pada zaman penjajahan dulu.

Pukul sapu biasa dibagi dalam dua regu. Setiap regu diberikan kebebasan memukuli lawannya dengan menggunakan sapu lidi secara bergantian. Menurut panitia penyelenggra, banyak peserta pukul sapu yang terluka. Namun, mereka dipastikan tidak merasakan sakit karena sebelumya tubuh peserta telah diberikan mantra.

Acara yang dihadiri ribuan penonton ini juga dimanfaatkan sebagai ajang rekonsiliasi karena dihadiri dua komunitas yang bernah bertikai. Tradisi pukul sapu ini sudah menjadi acara tahunan yang sekaligus menjadi salah satu obyek wisata kawasan tersebut.(DEN/Sahlan Heluth dan Juhri Samanery)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya