PBB dan Penyandera di Afghanistan Masih Bernegosiasi

Kelompok milisi bersenjata yang menyandera tiga staf PBB di Kabul, Afghanistan, kemungkinan akan memperpanjang waktu penyanderaan jika negosiasi dengan PBB berhasil. Warga setempat mengutuk aksi ini.

oleh Liputan6Diterbitkan 03 November 2004, 06:49 WIB
Liputan6.com, Kabul: Kelompok Pasukan Muslim atau Jaish-e-Muslimin sedang bernegosiasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membebaskan tiga staf PBB yang disandera sejak pekan silam. Terbuka kemungkinan kelompok milisi Afghanistan ini memperpanjang tenggat eksekusi para sandera jika negosiasi dengan PBB berhasil. Demikian dikemukakan pemimpin Pasukan Islam Mullah Sayed Mohammad kepada wartawan Kantor Berita Reuters di Kabul, Afghanistan, Selasa (2/11).

Penculikan ketiga staf PBB menimbulkan kemarahan warga Kabul. Mereka mengutuk aksi itu karena menculik orang asing yang telah membantu rakyat Afghanistan. Warga juga curiga presiden terpilih Hamid Karzai terkait dalam penculikan ini.

Sementara itu Duta Besar Filipina untuk Pakistan, Jorge Arizabal, bertemu dengan para pekerja Filipina di Kabul, kemarin. Dalam kunjungan yang bertujuan untuk membantu upaya pembebasan sandera itu, Arizabal menyatakan keamanan para pekerja Filipina menjadi prioritas pemerintah Filipina.

Para staf PBB itu adalah Angelito Nayan dari Filipina, Annetta Flanigan dari Irlandia Utara, dan Shqipe Hebibi dari Kosovo. Mereka diculik saat melintas di jalanan Kota Kabul pada 28 Oktober silam [baca: Tiga Warga Asing Diculik di Afghanistan].

Dalam rekaman video yang disiarkan kemudian, para penculik menuntut pembebasan semua tahanan Taliban dan Al-Qaidah yang dipenjara di Afghanistan dan di Teluk Guantanamo, Kuba. Kelompok bersenjata ini juga menuntut evakuasi pasukan asing dan penarikan mundur staf PBB dari Afghanistan.(TNA/Yes)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya