SBY Juga Humoris dan Mengerti Bahasa Gaul

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lahir dan tumbuh dalam keluarga yang sederhana di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Sejak kecil Yudhoyono sudah menonjol di antara teman-teman sebaya.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 Oktober 2004, 16:22 WIB
Liputan6.com, Pacitan: Pacitan, nama sebuah kabupaten di Jawa Timur menjadi populer belakangan ini. Maklum, salah satu anak yang tumbuh di sana kini diambil sumpah di Gedung MPR/DPR sebagai orang nomor satu di Indonesia. Susilo Bambang Yudhoyono lahir di lingkungan Pondok Pesantren Tremas, Kecamatan Arjosari, sekitar 15 kilometer sebelah utara Kabupaten Pacitan. SBY--demikian ia sering dipanggil--yang lahir dari pasangan R. Soekotjo dan Siti Habibah, tak lama tinggal di lingkungan pesantren. SBY harus ikut ayahnya yang berpindah-pindah karena menjadi komandan komando rayon militer.

Karena itu, sejak kelas lima sekolah dasar, SBY diasuh Nyonya Watini, kakak kandung Soekotjo, di Jalan Gatot Subroto, Pacitan. Menurut Watini, SBY adalah anak yang patuh dan rajin belajar. Tak jarang, SBY makan sambil membaca buku pelajaran. "Makan juga seadanya. Nggak pernah neko-neko, apa yang saya kasih dimakan," ujar Watini.

Lama ditinggal SBY, hingga kini, rumah dan kamar semasa SBY kecil hingga remaja masih tetap terawat. Jika sedang berkunjung ke Pacitan, SBY biasa tinggal di rumah Sujono, saudara sepupu yang berada di depan Kantor Sekretariat Partai Demokrat setempat. Selain saudara, Sujono juga guru SBY semasa duduk di bangku sekolah menengah atas. Di mata Sujono, SBY adalah murid yang cerdas dan selalu bersikap baik. "Tak ada kenakalan," kata Sujono. Ia kemudian menunjukkan buku induk siswa SBY. Di buku itu masih tercatat angka prestasi SBY.

SBY memang menonjol di antara teman-temannya. Kecemerlangannya itu terbukti dengan menjadi lulusan terbaik Akademi ABRI pada 1973. Tiga tahun kemudian, SBY ditugaskan dalam operasi di Timor Timur. Saat itulah, SBY bertemu untuk pertama kali dengan Letnan Jenderal Purnawirawan Agus Widjojo, yang kala itu menjabat Komandan Kompi Batalyon 305 Surabaya. Bersama SBY, Agus disebut-sebut sebagai tokoh reformis di tubuh TNI. "Pertama kali bertemu, dia (SBY) melapor untuk mengambil posisi sebagai komandan peleton," kata mantan Kepala Staf Teritorial TNI itu.

Dari Timtim, keduanya bertugas di Bandung, Jawa Barat. Agus sebagai dosen, SBY sebagai muridnya di Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat (Seskoad). Kemudian, Agus bertemu kembali dengan SBY saat sama-sama bertugas di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur. Saat itu, SBY menjabat Kepala Staf Sosial Politik dan Aguss sebagai Asisten Perencanaan Umum dan Anggaran Panglima TNI. "Mulai saat itulah kita mulai menangani masalah reformasi," kata Agus.

Menurut Agus, SBY adalah sosok yang memahami demokrasi dan bisa menempatkan militer di dalam konteks sistem pemerintahan yang demokratis. Setelah pensiun, Agus masih berhubungan dengan SBY. "Mungkin karena persahabatan dengan Pak Bambang dilandasi dengan pemikiran dan paradigma yang sama sehingga sering muncul kebutuhan atau kerinduan saling membuka wacana atau menguji pikiran," kata Agus.

Sibuk meniti karier tidak membuat SBY melupakan perannya sebagai kepala keluarga. Istri SBY, Kristiani Herawati, mengatakan, suaminya selalu berusaha menyempatkan diri untuk berkomunikasi dengan keluarga, terutama untuk mendidik anak. "Bapak selalu berusaha mendidik dari jauh," kata Kritiana.

SBY di mata anak sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono, adalah sosok yang humoris. Tidak setiap kesempatan SBY bertutur kata yang baik dan tertata. "Ada juga bahasa-bahasa pergaulan yang beliau sesuaikan dengan usia kami," kata Agus.

Agus menambahkan, ayahnya sangat berpengaruh dalam kehidupannya. Ia pun memutuskan menjadi anggota TNI karena kekagumannya terhadap sang ayah. "Saya masuk militer juga karena sejak kecil mengikuti dia (SBY) menjadi anggota militer, meskipun itu keinginan saya juga," kata Agus.

SBY juga menjadi sosok panutan buat putra bungsunya, Edhie Baskoro Yudhoyono. Bagi Edhie, SBY adalah orang yang sangat disiplin dan memegang teguh pendiriannya. "Dia juga suka memberikan semangat di saat saya sedang terjatuh," kata lelaki yang sedang menuntut ilmu di Australia itu.

Kepribadian SBY yang tidak pernah berubah dikagumi teman-temannya. SBY hampir selalu mengajak Sutopo, Joko Darmanto, Bagiono, dan teman lainnya untuk berkumpul bila berada di Pacitan. Mereka biasanya bercerita tentang masa silam, bermain musik, dan menyanyi--sebuah hobi yang sampai saat ini masih dilakukan sang Presiden.

Sujono juga mengaku bangga Yudhoyono diangkat menjadi presiden. Dia berharap, SBY mampu menjalankan roda pemerintahan dengan baik sehingga membawa bangsa ini ke tahap yang lebih baik lagi. "Semoga kesejahteraan rakyat meningkat dan kemiskinan berkurang," kata pria yang kini menjabat anggota Dewan di Pacitan itu.

Sejak Ahad silam, Sujono sudah berada di Jakarta untuk menghadiri pelantikan SBY. Namun, sejak tiba di Jakarta, dia belum sempat menemui SBY. Kemarin, Sujono hanya bisa bertemu istri SBY saat mengambil undangan pelantikan SBY sebagai presiden. "SBY sedang menerima tamu dari Brunei," ujar Sujono.(ZAQ/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya