Casingkem Kapok

Casingkem berniat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Yordania. Namun, dia malah dibawa ke Irak bersama Istiqomah dan dua TKI lain. Keduanya beruntung bisa bebas, tapi nasib dua TKI lain buram.

oleh Liputan6Diterbitkan 09 Oktober 2004, 09:33 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Casingkem, tenaga kerja Indonesia (TKI) yang sempat disandera kelompok gerilyawan Irak masih belum bisa melupakan pengalaman buruknya. Perempuan asal Indramayu, Jawa Barat ini, mengaku kapok dan tidak mau lagi bekerja di luar negeri. Semula dia berharap bisa mendulang fulus di Yordania. Tapi, yang terjadi, dia malah dibawa ke Irak dan disandera selama delapan hari oleh milisi Irak. Kepiluan perempuan berkerudung ini diungkapkan kepada SCTV di Jakarta, baru-baru ini.

Casingkem mengaku berangkat dari Indonesia ke Yordania bersama 10 TKI lainnya lewat dua agen penyalur TKI. Setiba di sana, agen memanggil empat TKI termasuk Casingkem yang akan diseleksi untuk menjadi pembantu rumah tangga. Casingkem, Istiqomah, dua TKI lain lolos seleksi. "Yang enam orang pisah dibawa sama agen lain," kata Casingkem. Selanjutnya mereka dibawa oleh Pak Bewok (brewok)--begitu Casingkem menyebut pria yang membawa dia dan para TKI--untuk menemui empat orang Amerika Serikat yang menunggu di kendaraan lain.

Setelah tujuh jam perjalanan dari kantor agen, rombongan Casingkem dan Istiqomah diserang para gerilyawan Irak. Konvoi kendaraan mereka--tiga mobil--diberondong tembakan. Selanjutnya, para penumpang digiring dengan mata tertutup dan tangan terikat ke sebuah tempat [baca: Casingkem: "Mobil Kami Ditembaki"].

Di markas militan Irak itu, mereka disekap dengan banyak sandera lain. Semua anggota rombongan diinterogasi, tidak terkecuali Casingkem dan Istiqomah. Mereka diduga istri warga AS yang ikut dalam rombongan kendaraan itu. Paspor dan tas yang dibawa Casingkem dan Istiqomah digeledah. Bahkan dipukuli juga oleh penyandera. Penganiayaan yang diterima Casingkem dan Istiqomah berakhir setelah keduanya mengaku beragama Islam. "Disuruh ngaji, terus ditanya agamanya apa. Islam, jawab saya. Habis itu enggak dipukulin lagi," tutur istri Dindin Ismail.

Setelah tahu Casingkem dan Istiqomah beragama Islam dan berasal dari Indonesia mereka diperlakukan dengan baik. "Kalau waktunya makan dikasih. Waktunya minum dikasih. Kalau waktunya salat disuruh salat," ujar putri pasangan Kaspin dan Karsinih.

Keduanya diantar oleh para penyandera dan diturunkan di pinggir jalan dengan secarik alamat. Akhirnya mereka menahan sebuah taksi dan meminta sopir mengantarkan mereka ke alamat itu yang ternyata adalah Kedutaan Besar Uni Emirat Arab di Irak. Berita pembebasan mereka yang ditayangkan televisi Abu Dhabi disambut gembira keluarga, pemerintah, dan jutaan warga.

Kini, Casingkem dan Istiqomah berbahagia bisa menghirup udara bebas dan berkumpul kembali dengan keluarga masing-masing. Padahal, ketika disekap oleh pasukan bersenjata Irak itu, dia sempat berpikir bakal mati. Namun, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Dia tak tahu bagaimana nasib dua TKI lain yang masih berada di tangan para penyandera [baca: Casingkem: Ada Dua TKI Lain yang Disergap]. Sanggupkan pemerintah menjawab pertanyaan Casingkem?(OZI/Aldi Yarman dan Yudi Wibowo)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya