Liputan6.com, Jakarta: Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid mengakui bahwa menjelang pemilihan presiden putaran kedua, 20 September 2004, semakin banyak kampanye negatif dan fitnah yang ditujukan kepada partainya maupun Partai Demokrat sebagai pasangan koalisi dari PKS. Untuk itu, Hidayat meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) segera menindaklanjuti kampanye negatif itu. "KPU dan Panwaslu hendaknya dan seharusnya sebagai lembaga yang bertanggung jawab mengambil tindakan yang tegas. Jangan mereka [KPU dan Panwaslu] menjadi macan ompong saja," kata Hidayat di Jakarta, Ahad (19/9).
Hidayat menambahkan, jika dibiarkan, keadaan ini justru menghadirkan teror bagi rakyat karena akan memilih dengan cara yang salah. Dia juga meminta para pemimpin bangsa memanfaatkan momentum itu sebagai pembelajaran yang baik. Bukannya menyebarkan fitnah, menipu, ataupun berdusta kepada masyarakat.
Sekadar informasi, belum lama ini, ditemukan sekitar 500 lembar foto calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sebuah buku berjudul Sepuluh Alasan Tidak Memilih SBY di Pesantren Muhammadiyah di Kota Palu, Sulawesi Tengah [baca: Foto dan Buku yang Memojokkan SBY Beredar di Palu]. Selain itu, upaya untuk memecah belah antara PKS dan Partai Demokrat juga tampak kala Ahmad Heryawan, kandidat terkuat dari Fraksi PKS gagal menjadi ketua DPRD DKI Jakarta periode 2004-2009.
Saat itu, yang terpilih menjadi ketua DPRD Jakarta justru kandidat Partai Golongan Karya Ade Surapriyatna. Padahal, Ahmad yang sebelumnya diprediksi bakal mengantongi minimal 39 suara dengan dukungan penuh PKS, Partai Demokrat, dan Partai Amanat Nasional, ternyata hanya mampu meraup 30 suara [baca: Dikhianati Partai Demokrat, PKS Tetap Mendukung SBY-Kalla].(DNP/Tim Liputan 6 SCTV)
Hidayat menambahkan, jika dibiarkan, keadaan ini justru menghadirkan teror bagi rakyat karena akan memilih dengan cara yang salah. Dia juga meminta para pemimpin bangsa memanfaatkan momentum itu sebagai pembelajaran yang baik. Bukannya menyebarkan fitnah, menipu, ataupun berdusta kepada masyarakat.
Sekadar informasi, belum lama ini, ditemukan sekitar 500 lembar foto calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sebuah buku berjudul Sepuluh Alasan Tidak Memilih SBY di Pesantren Muhammadiyah di Kota Palu, Sulawesi Tengah [baca: Foto dan Buku yang Memojokkan SBY Beredar di Palu]. Selain itu, upaya untuk memecah belah antara PKS dan Partai Demokrat juga tampak kala Ahmad Heryawan, kandidat terkuat dari Fraksi PKS gagal menjadi ketua DPRD DKI Jakarta periode 2004-2009.
Saat itu, yang terpilih menjadi ketua DPRD Jakarta justru kandidat Partai Golongan Karya Ade Surapriyatna. Padahal, Ahmad yang sebelumnya diprediksi bakal mengantongi minimal 39 suara dengan dukungan penuh PKS, Partai Demokrat, dan Partai Amanat Nasional, ternyata hanya mampu meraup 30 suara [baca: Dikhianati Partai Demokrat, PKS Tetap Mendukung SBY-Kalla].(DNP/Tim Liputan 6 SCTV)