Liputan6.com, Yogyakarta: Ada acara istimewa di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta, Selasa (14/9) malam. Ratusan tamu maupun undangan tampak memadati pelataran Kagungan Dalem Bangsal Kencana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Mereka menghadiri peringatan 16 tahun penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Tasyakuran Dwi Windu Jumenengan Dalem Nata.
Kendati demikian, peringatan dua windu tahta Sri Sultan HB X tampak lebih sederhana dari biasanya. Buktinya, perayaan istimewa ini hanya diisi doa bersama dan pentas tari karya Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono I atau Mangkubumi.
Adapun peringatan penobatan Sri Sultan HB X di Bangsal Kencana bertepatan dengan tanggal 29 Rajab 1937. Berdasarkan penanggalan Jawa, HB X memang naik tahta pada tanggal 29 Rajab 1921 atau tanggal 7 Maret 1989 dalam perhitungan kalender Masehi. Ia menggantikan ayahandanya, Sri Sultan HB IX yang wafat di Amerika Serikat, 1 Oktober 1988.
Acara diawali kedatangan Sultan yang mengenakan busana Jawa, yakni Ageman Rasukan Sembagi Sekaran Jambon dengan Jarit Barong Parikesit. Dengan didampingi permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Sri Sultan HB X menuju singgasana disaksikan seluruh kerabat keraton, abdi dalem, dan tokoh-tokoh masyarakat di Yogya.
Selanjutnya, pembacaan doa dipimpin Abdi Dalem Penghulu Keraton Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Ahmad Kamaludiningrat. Doa ini adalah memohon keselamatan Sultan Yogya, keluarga sang raja, Keraton Ngayogyakarta, dan Bumi Nusantara.
Usai doa, acara diisi dengan penampilan sebuah tari karya Sri Sultan HB I, yaitu Beksan Lawung Ageng. Tari ini menceritakan kegigihan prajurit Keraton Yogya dalam berperang, terutama saat Sri Sultan HB I berkuasa pada tahun 1755-1792. Dalam versi aslinya, tarian ini berdurasi satu setengah jam. Namun dalam acara ini, tarian itu sengaja dipadatkan hanya 20 menit agar tak membosankan para tamu.
Menurut Sultan HB X, perayaan penobatannya memang sengaja digelar lebih sederhana dari biasanya. Sebab, hal terpenting adalah berdoa demi keselamatan bersama. Apalagi, saat ini, kondisi Tanah Air sedang menghadapi banyak cobaan.
Sekadar diketahui, ia dilahirkan dengan nama Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito pada 2 April 1946. Setelah dewasa bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Mangkubumi dan setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Hamengku Negara Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataram. Pada 1972, dia menikah dengan Bendoro Raden Ayu (BRAy) Tatiek Drajad Supriastuti yang kemudian bergelar menjadi Gusti Kanjeng Ratu Hemas.
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada ini dinobatkan pada tanggal 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rajab 1921). Sri Sultan HB X yang bergelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono, Senopati Hingalaga Ngabdurrahman Syayidin Panatagama Kalifatullah Hingkang Jumeneng Kaping Sedasa, ini dikaruniai lima putri. Kelima putrinya itu adalah Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurmalita Sari, Gusti Raden Ayu (GRAy) Nurma Gupita (menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Suryokusumo dan memperoleh satu anak Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusmo), GRAj Nurkamnari Dewi, GRAj Nurabra Juwita, dan GRAj Nur Astuti Wijareni.(ANS/Wiwiek Susilo dan Ferry Aditri)
Kendati demikian, peringatan dua windu tahta Sri Sultan HB X tampak lebih sederhana dari biasanya. Buktinya, perayaan istimewa ini hanya diisi doa bersama dan pentas tari karya Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono I atau Mangkubumi.
Adapun peringatan penobatan Sri Sultan HB X di Bangsal Kencana bertepatan dengan tanggal 29 Rajab 1937. Berdasarkan penanggalan Jawa, HB X memang naik tahta pada tanggal 29 Rajab 1921 atau tanggal 7 Maret 1989 dalam perhitungan kalender Masehi. Ia menggantikan ayahandanya, Sri Sultan HB IX yang wafat di Amerika Serikat, 1 Oktober 1988.
Acara diawali kedatangan Sultan yang mengenakan busana Jawa, yakni Ageman Rasukan Sembagi Sekaran Jambon dengan Jarit Barong Parikesit. Dengan didampingi permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Sri Sultan HB X menuju singgasana disaksikan seluruh kerabat keraton, abdi dalem, dan tokoh-tokoh masyarakat di Yogya.
Selanjutnya, pembacaan doa dipimpin Abdi Dalem Penghulu Keraton Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Ahmad Kamaludiningrat. Doa ini adalah memohon keselamatan Sultan Yogya, keluarga sang raja, Keraton Ngayogyakarta, dan Bumi Nusantara.
Usai doa, acara diisi dengan penampilan sebuah tari karya Sri Sultan HB I, yaitu Beksan Lawung Ageng. Tari ini menceritakan kegigihan prajurit Keraton Yogya dalam berperang, terutama saat Sri Sultan HB I berkuasa pada tahun 1755-1792. Dalam versi aslinya, tarian ini berdurasi satu setengah jam. Namun dalam acara ini, tarian itu sengaja dipadatkan hanya 20 menit agar tak membosankan para tamu.
Menurut Sultan HB X, perayaan penobatannya memang sengaja digelar lebih sederhana dari biasanya. Sebab, hal terpenting adalah berdoa demi keselamatan bersama. Apalagi, saat ini, kondisi Tanah Air sedang menghadapi banyak cobaan.
Sekadar diketahui, ia dilahirkan dengan nama Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito pada 2 April 1946. Setelah dewasa bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Mangkubumi dan setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Hamengku Negara Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataram. Pada 1972, dia menikah dengan Bendoro Raden Ayu (BRAy) Tatiek Drajad Supriastuti yang kemudian bergelar menjadi Gusti Kanjeng Ratu Hemas.
Lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada ini dinobatkan pada tanggal 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rajab 1921). Sri Sultan HB X yang bergelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono, Senopati Hingalaga Ngabdurrahman Syayidin Panatagama Kalifatullah Hingkang Jumeneng Kaping Sedasa, ini dikaruniai lima putri. Kelima putrinya itu adalah Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurmalita Sari, Gusti Raden Ayu (GRAy) Nurma Gupita (menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Suryokusumo dan memperoleh satu anak Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusmo), GRAj Nurkamnari Dewi, GRAj Nurabra Juwita, dan GRAj Nur Astuti Wijareni.(ANS/Wiwiek Susilo dan Ferry Aditri)