Liputan6.com, Jakarta: Peledakan bom di depan Kantor Kedutaan Besar Australia, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis silam, mengingatkan bahwa teror bom masih menghantui. Terlepas dari bermuatan politis atau tidak, teror bom memang menjadi momok menakutkan bagi masyarakat di Tanah Air. Apalagi, korban umumnya orang-orang yang tak berdosa.
Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani menyatakan aksi bom ini adalah kejahatan yang luar biasa. Sebab bisa terjadi di mana saja, kapan saja atau sembarang waktu. "Masyarakat harus terima kenyataan ini," ujar Kapolda saat berdialog dengan Ira Koesno dalam program Sigi di Studio Liputan 6 SCTV, Jakarta, Jumat (10/9) malam.
Menurut Kapolda, sebenarnya warning atau peringatan akan terjadinya peledakan seperti ini sudah diberikan jauh-jauh hari, meski masih bersifat internal. Ini diwujudkan dengan penambahan personel di beberapa titik rawan aksi bom--saat ini ada 335 titik rawan di Ibu Kota. Tapi kenyataannya, bom tetap saja meledak. Itulah sebabnya, peningkatan keamanan bukanlah hal yang paling utama dalam mencegah aksi itu. Yang paling utama adalah peran aktif masyarakat untuk memerangi terorisme. "Mari kita sama-sama meningkatkan kewaspadaan," ujar mantan Kapolda Jawa Timur ini.
Terlepas dari itu, bom yang meledak di depan Kantor Kedubes Australia menjadi pekerjaan rumah baru bagi kepolisian. Sejumlah penyelidikan pun terus dilakukan. Beberapa petunjuk yang mengarah pada pelaku sudah ditemukan. Yang terbaru, polisi menduga bom itu berasal dari sebuah mobil boks Daihatsu Zebra berwana putih--bukan hijau seperti diduga sebelumnya. Mobil inilah yang membawa sejumlah bahan peledak jenis trinitrotoluena (TNT) [baca: Suyitno Landung: Sumber Ledakan dari Daihatsu Zebra]. Ini diperkuat dengan gambar yang terekam kamera keamanan atau close circuit television (CCTV) di Plaza Kuningan, gedung yang bersebelahan Kedubes Australia, pada hari kejadian sekitar pukul 10.17 WIB.
Menurut Ketua Tim Penanggulangan Bom Kuningan Komisaris Jenderal Polisi Suyitno Landung, kedua pelaku yang berada dalam mobil boks juga tewas. Karena itulah, polisi menduga peledakan di Kedubes Australia ini adalah bom bunuh diri. Dan, pelaku bom bunuh diri ini adalah relawan yang direkrut salah satu tersangka serangkaian peledakan bom di Tanah Air, Noordin Mohammad Thop. Sedangkan tersangka lainnya, Doktor Azhari Husin diduga berperan sebagai perakit bom.
Dugaan keterlibatan kedua tersangka kakap ini bukan tanpa alasan. Menurut Suyitno, jenis bom yang digunakan sama dengan yang ditemukan pada bom Natal pada 2000 hingga bom di Hotel J.W. Marriott, 2003. Semuanya berdaya ledak tinggi atau high explosive.
Tapi, bom yang meledak di Kuningan, lebih canggih. Selain berdaya ledak lebih dahsyat, bom ini tak mengeluarkan api seperti bom-bom sebelumnya. Dari berbagai jenis bom itu, terkesan pembuatnya kian pintar membuat bom dan pelakunya terkait dalam satu jaringan. Suyitno meyakini dalang pengeboman di Kedubes Australia adalah Doktor Azhari dan Noordin M. Thop yang telah merekrut beberapa orang berani mati yang siap menebar bom.
Genap dua tahun, polisi memburu Dr Azhari dan Nurdin Muhammad Top. Dua warga Malaysia ini dituding sebagai otak serangkaian bom di Indonesia mulai dari bom pada malam Natal 2000, Bali 2002, Marriott 2003 hingga di Kedubes Australia, Kamis silam. Namun hingga saat ini, keduanya belum dapat ditangkap. Padahal, polisi berkali-kali menemukan tempat persembunyian kedua tokoh itu. Tercatat, lebih dari 20 nama telah ditangkap dan dituduh menyembunyikan dua buron kelas kakap ini.
Pada akhir Juli silam, misalnya. Dua buron ini diyakini tinggal dan bersembunyi di kontrakan di Jalan Raya Enam, Rukun Tetangga 04/Rukun Warga 09, Cengkareng Barat, Jakarta Barat [baca: Komplotan Azhari Sempat Bermukim di Cengkareng]. Selain Azhari dan Nurdin, ada dua orang lagi yang diduga bagian dari kelompok ini. Menurut Ketua RT 04/RW 09, Cengkareng Barat, Sampur, mereka melaporkan diri dengan mengaku sebagai sales (tenaga pemasaran) untuk sebuah perusahaan pusat perbelanjaan di daerah Grogol, Jakbar. Tak ada tanda-tanda mencurigakan, karena mereka cukup terbuka dengan warga sekitar. Tapi yang pasti, aktivitas mereka lebih banyak di luar rumah dan baru pulang malam hari.
Sumber SCTV di kepolisian menyebutkan, sebenarnya keberadaan Doktor Azhari sudah tercium polisi di Kota Surabaya, Jawa Timur, Juni silam. Kelompok ini berada di kediaman Saefudin Umar alias Abu Fida di Surabaya. Dari Surabaya, Azhari diduga membawa bom ke Yogyakarta, Bandung, Bogor, Jawa Barat, hingga ke Cengkareng.
Kemunculan salah seorang terpidana kasus bom Bali, Ali Imron ke Jakarta kabarnya dalam rangka mengorek keterangan tentang keberadaan komplotan Azhari yang diyakini ada di Ibu Kota sekaligus sebagai umpan. Tapi, sang buron keburu lepas lantaran media massa mengungkap berita soal Ale yang dipergoki berada di sebuah cafe[baca: Ali Imron "Nongkrong" di Sebuah Kafe]. Lalu, terjadilah peledakan bom di Kedubes Australia ini.(ORS)
Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani menyatakan aksi bom ini adalah kejahatan yang luar biasa. Sebab bisa terjadi di mana saja, kapan saja atau sembarang waktu. "Masyarakat harus terima kenyataan ini," ujar Kapolda saat berdialog dengan Ira Koesno dalam program Sigi di Studio Liputan 6 SCTV, Jakarta, Jumat (10/9) malam.
Menurut Kapolda, sebenarnya warning atau peringatan akan terjadinya peledakan seperti ini sudah diberikan jauh-jauh hari, meski masih bersifat internal. Ini diwujudkan dengan penambahan personel di beberapa titik rawan aksi bom--saat ini ada 335 titik rawan di Ibu Kota. Tapi kenyataannya, bom tetap saja meledak. Itulah sebabnya, peningkatan keamanan bukanlah hal yang paling utama dalam mencegah aksi itu. Yang paling utama adalah peran aktif masyarakat untuk memerangi terorisme. "Mari kita sama-sama meningkatkan kewaspadaan," ujar mantan Kapolda Jawa Timur ini.
Terlepas dari itu, bom yang meledak di depan Kantor Kedubes Australia menjadi pekerjaan rumah baru bagi kepolisian. Sejumlah penyelidikan pun terus dilakukan. Beberapa petunjuk yang mengarah pada pelaku sudah ditemukan. Yang terbaru, polisi menduga bom itu berasal dari sebuah mobil boks Daihatsu Zebra berwana putih--bukan hijau seperti diduga sebelumnya. Mobil inilah yang membawa sejumlah bahan peledak jenis trinitrotoluena (TNT) [baca: Suyitno Landung: Sumber Ledakan dari Daihatsu Zebra]. Ini diperkuat dengan gambar yang terekam kamera keamanan atau close circuit television (CCTV) di Plaza Kuningan, gedung yang bersebelahan Kedubes Australia, pada hari kejadian sekitar pukul 10.17 WIB.
Menurut Ketua Tim Penanggulangan Bom Kuningan Komisaris Jenderal Polisi Suyitno Landung, kedua pelaku yang berada dalam mobil boks juga tewas. Karena itulah, polisi menduga peledakan di Kedubes Australia ini adalah bom bunuh diri. Dan, pelaku bom bunuh diri ini adalah relawan yang direkrut salah satu tersangka serangkaian peledakan bom di Tanah Air, Noordin Mohammad Thop. Sedangkan tersangka lainnya, Doktor Azhari Husin diduga berperan sebagai perakit bom.
Dugaan keterlibatan kedua tersangka kakap ini bukan tanpa alasan. Menurut Suyitno, jenis bom yang digunakan sama dengan yang ditemukan pada bom Natal pada 2000 hingga bom di Hotel J.W. Marriott, 2003. Semuanya berdaya ledak tinggi atau high explosive.
Tapi, bom yang meledak di Kuningan, lebih canggih. Selain berdaya ledak lebih dahsyat, bom ini tak mengeluarkan api seperti bom-bom sebelumnya. Dari berbagai jenis bom itu, terkesan pembuatnya kian pintar membuat bom dan pelakunya terkait dalam satu jaringan. Suyitno meyakini dalang pengeboman di Kedubes Australia adalah Doktor Azhari dan Noordin M. Thop yang telah merekrut beberapa orang berani mati yang siap menebar bom.
Genap dua tahun, polisi memburu Dr Azhari dan Nurdin Muhammad Top. Dua warga Malaysia ini dituding sebagai otak serangkaian bom di Indonesia mulai dari bom pada malam Natal 2000, Bali 2002, Marriott 2003 hingga di Kedubes Australia, Kamis silam. Namun hingga saat ini, keduanya belum dapat ditangkap. Padahal, polisi berkali-kali menemukan tempat persembunyian kedua tokoh itu. Tercatat, lebih dari 20 nama telah ditangkap dan dituduh menyembunyikan dua buron kelas kakap ini.
Pada akhir Juli silam, misalnya. Dua buron ini diyakini tinggal dan bersembunyi di kontrakan di Jalan Raya Enam, Rukun Tetangga 04/Rukun Warga 09, Cengkareng Barat, Jakarta Barat [baca: Komplotan Azhari Sempat Bermukim di Cengkareng]. Selain Azhari dan Nurdin, ada dua orang lagi yang diduga bagian dari kelompok ini. Menurut Ketua RT 04/RW 09, Cengkareng Barat, Sampur, mereka melaporkan diri dengan mengaku sebagai sales (tenaga pemasaran) untuk sebuah perusahaan pusat perbelanjaan di daerah Grogol, Jakbar. Tak ada tanda-tanda mencurigakan, karena mereka cukup terbuka dengan warga sekitar. Tapi yang pasti, aktivitas mereka lebih banyak di luar rumah dan baru pulang malam hari.
Sumber SCTV di kepolisian menyebutkan, sebenarnya keberadaan Doktor Azhari sudah tercium polisi di Kota Surabaya, Jawa Timur, Juni silam. Kelompok ini berada di kediaman Saefudin Umar alias Abu Fida di Surabaya. Dari Surabaya, Azhari diduga membawa bom ke Yogyakarta, Bandung, Bogor, Jawa Barat, hingga ke Cengkareng.
Kemunculan salah seorang terpidana kasus bom Bali, Ali Imron ke Jakarta kabarnya dalam rangka mengorek keterangan tentang keberadaan komplotan Azhari yang diyakini ada di Ibu Kota sekaligus sebagai umpan. Tapi, sang buron keburu lepas lantaran media massa mengungkap berita soal Ale yang dipergoki berada di sebuah cafe[baca: Ali Imron "Nongkrong" di Sebuah Kafe]. Lalu, terjadilah peledakan bom di Kedubes Australia ini.(ORS)