Munir Meninggal

Sebelum meninggal di dalam pesawat yang membawanya ke Belanda, Munir sempat mengadakan acara perpisahan di Kantor Imparsial. Besar kemungkinan, aktivis HAM itu terkena serangan jantung.

oleh Liputan6Diterbitkan 07 September 2004, 21:05 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Munir meninggal. Aktivis hak asasi manusia itu mengembuskan napas terakhir di dalam pesawat saat menuju ke Amsterdam, Belanda, Selasa (7/9). Jenazah Munir saat ini masih berada di Belanda.

Sedianya, Munir terbang ke Belanda untuk melanjutkan studi master (S2) di Universitas Utrecht. Mantan Direktur Eksekutif Imparsial ini berangkat, kemarin malam, dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta Barat, dengan menumpang pesawat Garuda bernomor pernerbangan GA 974.

Sampai berita ini ditulis belum diketahui penyebab kematian Munir. Besar dugaan, bekas Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) ini terkena serangan jantung.

Menurut informasi staf Imparsial, sebenarnya Munir sempat mengeluh sakit dan muntah-muntah ketika transit di Singapura. Tapi bekas Direktur Lembaga Bantuan Hukum Semarang, Jawa Tengah, ini tetap meneruskan perjalanan sampai akhirnya meninggal tiga jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schiphol.

Informasi yang dirangkum SCTV, sebelum meninggal anak keenam pasangan Said-Jamilah itu sempat mengadakan acara perpisahan di Kantor Imparsial. Bahkan, sampai kini, tulisan pesan dari teman kerja Munir masih ada di kantor itu.

Munir lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965. Selama ini, sarjana hukum lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, ini dikenal luas sebagai pejuang HAM. Pada 1998, pemuda berperawakan kecil dan berkulit gelap itu pernah menerima penghargaan Yap Thiam Hien Award. Kemudian pada 2000, dia dinobatkan sebagai Young Leader for the Millennium in Asia versi Majalah Asia Week.

Semasa hidupnya, Munir dikenal sebagai kawan yang menyenangkan. Lucu dan humoris. Meski begitu, dia tetap berwibawa dan menguasai persoalan hukum. Mungkin cuma dua kelemahan Munir di mata rekan-rekannya: pelupa dan tidak tarlalu peduli dengan detail. Tapi kini semua tentang Munir tinggal kenangan. Selamat jalan Munir. Semoga arwahmu diterima di sisi Tuhan.(ICH/Nastiti dan Yoseph Herhudi Lestari)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya