Liputan6.com, Beslan: Pemerintah Rusia telah menangkap salah satu tersangka penyandera ratusan siswa di sekolah Beslan, Provinsi Ossetia Utara. Bahkan, Ahad (5/9), televisi Rusia menayangkan gambar tersangka. Dalam siaran itu tersangka mengaku menyandera atas perintah pemimpin pejuang Chechnya Aslan Maskhadov dan Shamil Basayev. Dia juga mengatakan bahwa para penyandera berasal dari banyak negara, termasuk Uzbekistan.
Beberapa media setempat mengidentifikasi tersangka sebagai Nur-Pashi Kulayev yang anggota kelompok Basayev. Tujuan dari kelompok ini adalah untuk meluaskan peperangan ke seluruh wilayah Kaukasia. Namun keakuratan pernyataan Kulayev belum dapat dikonfirmasikan. Pasalnya, Maskhadov melalui sebuah situs internet membantah terlibat dalam penyanderaan berdarah itu. Dia justru mengecam aksi yang mengorbankan anak-anak. Dari investigasi yang dilakukan aparat setempat, ada indikasi penyandera adalah kelompok yang sama dengan serangan di Ingushetia, perbatasan Rusia dan Chechnya, Juni silam [baca: Serangan Sporadis di Ingushetia, Puluhan Tewas].
Sementara itu sebanyak 120 korban tewas yang sudah dikenali identitasnya langsung dimakamkan pada Senin. Tampak keluarga korban mengiringi pemakaman tahap kedua ini dengan duka mendalam. Untuk mengenang para korban, pemerintah Rusia menyatakan saat itu juga sebagai hari berkabung nasional. Sebelumnya, 22 jenazah dimakamkan dari sedikitnya 322 korban tewas, Ahad silam [baca: Korban Tragedi Beslan Mulai Dimakamkan].
Peristiwa penyanderan ribuan orang ini terjadi saat dimulainya tahun ajaran baru, awal September silam. Mereka disekap di dalam gedung sekolah selama tiga hari dan tidak diberi makan serta minum. Untuk menghindari dehidrasi, beberapa di antara mereka meminum urinenya sendiri [baca: Korban Tewas Tragedi Beslan Mencapai 200 Orang].
Drama penyanderaan itu tak hanya menelan korban jiwa, namun ratusan sandera yang selamat terguncang kejiwaannya, terutama anak-anak. Buktinya, Rumah Sakit Anak-Anak Republikan di sebelah utara Vladikavkaz, ibu kota Provinsi Ossetia Utara, menerima 215 anak-anak yang selamat. Empat di antaranya tewas setelah beberapa saat mendapat perawatan dan dua lainnya dalam keadaaan serius. Sementara sisanya dipastikan sembuh. Namun secara mental, kondisi mereka mengkhawatirkan. Bahkan seorang siswi menyatakan tidak ingin hidup lagi karena tak dapat bertemu dengan teman-temannya yang tewas di kelas. Untuk itu, pihak rumah sakit membentuk kelompok rehabilitasi untuk membantu para pasien dalam mengatasi trauma. Bagi pasien juga disediakan ruang bermain dan komputer.(DNP/Ijx dan Idr)
Beberapa media setempat mengidentifikasi tersangka sebagai Nur-Pashi Kulayev yang anggota kelompok Basayev. Tujuan dari kelompok ini adalah untuk meluaskan peperangan ke seluruh wilayah Kaukasia. Namun keakuratan pernyataan Kulayev belum dapat dikonfirmasikan. Pasalnya, Maskhadov melalui sebuah situs internet membantah terlibat dalam penyanderaan berdarah itu. Dia justru mengecam aksi yang mengorbankan anak-anak. Dari investigasi yang dilakukan aparat setempat, ada indikasi penyandera adalah kelompok yang sama dengan serangan di Ingushetia, perbatasan Rusia dan Chechnya, Juni silam [baca: Serangan Sporadis di Ingushetia, Puluhan Tewas].
Sementara itu sebanyak 120 korban tewas yang sudah dikenali identitasnya langsung dimakamkan pada Senin. Tampak keluarga korban mengiringi pemakaman tahap kedua ini dengan duka mendalam. Untuk mengenang para korban, pemerintah Rusia menyatakan saat itu juga sebagai hari berkabung nasional. Sebelumnya, 22 jenazah dimakamkan dari sedikitnya 322 korban tewas, Ahad silam [baca: Korban Tragedi Beslan Mulai Dimakamkan].
Peristiwa penyanderan ribuan orang ini terjadi saat dimulainya tahun ajaran baru, awal September silam. Mereka disekap di dalam gedung sekolah selama tiga hari dan tidak diberi makan serta minum. Untuk menghindari dehidrasi, beberapa di antara mereka meminum urinenya sendiri [baca: Korban Tewas Tragedi Beslan Mencapai 200 Orang].
Drama penyanderaan itu tak hanya menelan korban jiwa, namun ratusan sandera yang selamat terguncang kejiwaannya, terutama anak-anak. Buktinya, Rumah Sakit Anak-Anak Republikan di sebelah utara Vladikavkaz, ibu kota Provinsi Ossetia Utara, menerima 215 anak-anak yang selamat. Empat di antaranya tewas setelah beberapa saat mendapat perawatan dan dua lainnya dalam keadaaan serius. Sementara sisanya dipastikan sembuh. Namun secara mental, kondisi mereka mengkhawatirkan. Bahkan seorang siswi menyatakan tidak ingin hidup lagi karena tak dapat bertemu dengan teman-temannya yang tewas di kelas. Untuk itu, pihak rumah sakit membentuk kelompok rehabilitasi untuk membantu para pasien dalam mengatasi trauma. Bagi pasien juga disediakan ruang bermain dan komputer.(DNP/Ijx dan Idr)