Liputan6.com, Ramallah: Secara khusus Presiden Palestina Yasser Arafat memohon kepada para pejuang Irak agar segera membebaskan dua jurnalis Prancis, Christian Chesnot dan Georges Malbrunot yang diculik sebelas hari silam. Permintaan disampaikan atas nama Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan pemerintahan Palestina. Hal tersebut disampaikan Arafat di Ramallah, Tepi Barat, Senin (30/8) waktu setempat.
Permohonan Arafat soal pembebasan itu dinilai serius. Pasalnya, ia mengulang kalimat "saya mohon" hingga tiga kali. Menurut Arafat, bila keduanya dibebaskan, akan berdampak positif terhadap Irak, Palestina, dunia Arab, dan Islam. Di lain pihak, kelompok pejuang Irak yang menamakan diri tentara Islam mengaku bertanggung jawab atas penculikan keduanya.
Kedua jurnalis tersebut menghilang saat meliput berita di Baghdad, Irak. Diketahui, Chesnot bekerja bagi Radio France Internationale dan Radio France. Sedangkan Malbrunot bekerja bagi harian Le Figaro dan Ouest France.
Dari Kairo, Mesir, Menteri Luar Negeri Prancis Michel Barnier bertemu Sekretaris Jenderal Liga Arab Amir Musa. Ia dikirim Presiden Prancis Jacques Chirac ke Timur Tengah menyusul kabar penculikan dua jurnalis Prancis tersebut. Di sana, Barnier bertugas untuk menjelaskan bahwa pihaknya sangat menghormati Islam.
Di sana, Barnier dan Amir Musa menyerukan agar para penculik segera membebaskan kedua jurnalis Prancis itu. Menurut Musa, penculikan ini tidak seharusnya terjadi karena Prancis dinilai sahabat negara-negara arab. Maklum, sejak awal Prancis menentang rencana Amerika Serikat menyerang Irak.
Di pihak lain, pejuang Irak menuntut pemerintah Prancis mencabut larangan mengenakan jilbab di sekolah-sekolah dalam waktu dua hari. Tenggat waktu telah terlewati pada Senin malam. Reaksi itu muncul menyusul keputusan pemerintah Prancis yang hampir pasti mengesahkan undang-undang sekularisme kontroversial yang melarang penggunaan simbol agama di tempat-tempat tertentu [baca: Prancis Melarang Simbol Agama di Sekolah]. Chirac menilai sekularisme adalah salah satu hasil besar perjuangan Republik Prancis.(AIS/Idr)
Permohonan Arafat soal pembebasan itu dinilai serius. Pasalnya, ia mengulang kalimat "saya mohon" hingga tiga kali. Menurut Arafat, bila keduanya dibebaskan, akan berdampak positif terhadap Irak, Palestina, dunia Arab, dan Islam. Di lain pihak, kelompok pejuang Irak yang menamakan diri tentara Islam mengaku bertanggung jawab atas penculikan keduanya.
Kedua jurnalis tersebut menghilang saat meliput berita di Baghdad, Irak. Diketahui, Chesnot bekerja bagi Radio France Internationale dan Radio France. Sedangkan Malbrunot bekerja bagi harian Le Figaro dan Ouest France.
Dari Kairo, Mesir, Menteri Luar Negeri Prancis Michel Barnier bertemu Sekretaris Jenderal Liga Arab Amir Musa. Ia dikirim Presiden Prancis Jacques Chirac ke Timur Tengah menyusul kabar penculikan dua jurnalis Prancis tersebut. Di sana, Barnier bertugas untuk menjelaskan bahwa pihaknya sangat menghormati Islam.
Di sana, Barnier dan Amir Musa menyerukan agar para penculik segera membebaskan kedua jurnalis Prancis itu. Menurut Musa, penculikan ini tidak seharusnya terjadi karena Prancis dinilai sahabat negara-negara arab. Maklum, sejak awal Prancis menentang rencana Amerika Serikat menyerang Irak.
Di pihak lain, pejuang Irak menuntut pemerintah Prancis mencabut larangan mengenakan jilbab di sekolah-sekolah dalam waktu dua hari. Tenggat waktu telah terlewati pada Senin malam. Reaksi itu muncul menyusul keputusan pemerintah Prancis yang hampir pasti mengesahkan undang-undang sekularisme kontroversial yang melarang penggunaan simbol agama di tempat-tempat tertentu [baca: Prancis Melarang Simbol Agama di Sekolah]. Chirac menilai sekularisme adalah salah satu hasil besar perjuangan Republik Prancis.(AIS/Idr)