Liputan6.com, Jakarta - Sektor ekonomi kreatif (ekraf) nasional terus menunjukkan taji sebagai motor penggerak ekonomi baru yang inklusif. Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengungkapkan bahwa jumlah tenaga kerja di sektor ini telah menembus 27,4 juta orang.
Menariknya, struktur pekerja ekraf Indonesia saat ini didominasi oleh generasi muda dan perempuan. Komposisinya mencakup Gen Z dan milenial di bawah usia 40 tahun, serta melibatkan 58% pekerja perempuan.
Advertisement
Teuku Riefky menjelaskan bahwa potensi ekraf tersebar luas di berbagai daerah dengan ragam subsektor yang berakar kuat pada budaya lokal. Meski sebagian besar aktivitas masih terpusat di Pulau Jawa, simpul-simpul kreativitas baru dari desa-desa di luar Jawa kini mulai tumbuh pesat.
"Hal ini menunjukkan potensi yang semakin besar," ujar Teuku Riefky Harsya usai membuka acara IDE-IND di Kabupaten Tangerang, Banten, dikutip dari Antara, Jumat (6/11/2026).
Pertumbuhan pesat sektor ini juga diimbangi oleh penguatan kelembagaan di tingkat daerah. Jika pada akhir 2024 hanya ada sekitar 7 provinsi yang memiliki dinas khusus bidang ekraf, kini jumlahnya melesat mendekati 20 provinsi.
"Jumlah kabupaten/kota yang membentuk dinas ekraf juga ditargetkan akan bertumbuh hingga mencapai sekitar 100 daerah pada pertengahan tahun depan," tuturnya.
Kementerian Ekraf bersama pemerintah daerah terus memperkuat komitmen untuk mengungkit daya saing jenama (brand) serta kekayaan intelektual (IP) lokal agar mampu berbicara di panggung nasional hingga internasional.
Penyelenggaraan ajang IDE-IND di Banten menjadi salah satu wujud nyata komitmen pemerintah dalam mendorong karya kreatif lokal demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
"Kami berharap melalui program ini, para pelaku lokal dapat bertransformasi menjadi juara nasional hingga menembus pasar global," harap Teuku Riefky.
Strategi Tiga Program Utama
Guna menjawab tantangan seputar akses pasar, konsistensi produksi, serta keberlanjutan kualitas produk, Kementerian Ekraf menyiapkan tiga jurus utama: aktivasi desa kreatif, aktivasi creative hub, dan program Kreatif oleh Indonesia—yang salah satu turunannya diwujudkan melalui IDE-IND.
"Melalui kolaborasi erat antara pusat dan daerah ini, pemerintah optimistis para pelaku ekonomi kreatif lokal dapat terus meningkatkan kualitas produknya dan memperluas akses pasar demi mewujudkan kemandirian bangsa," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusumah, menegaskan bahwa Provinsi Banten memiliki modal sumber daya manusia yang sangat andal. Menurutnya, berinvestasi pada ide dan gagasan jauh lebih berkelanjutan ketimbang terus mengeksploitasi sumber daya alam yang dapat habis sewaktu-waktu.
Maka dari itu, Wagub mengajak generasi muda di Banten untuk mengubah pola pikir—tidak hanya bercita-cita menjadi aparatur sipil negara (ASN), melainkan berani berwirausaha di sektor ekraf.
"Kalau kekayaan intelektual yaitu ide atau kreativitas, itu malah membuat warga bertambah dan meningkatkan kekayaan atau sumber pendapatan yang diraih, termasuk membuka lapangan pekerjaan dan kemandirian," pungkas Dimyati.