BRI Peduli Ajak 35 Jurnalis Terjun Langsung Praktik Urban Farming Program BRInita di Bandung

BRI Peduli mengenalkan praktik urban farming berbasis komunitas melalui BRInita dengan mengajak jurnalis turun langsung ke area pertanian perkotaan.

oleh Laura AdeliaDiterbitkan 06 November 2026, 17:29 WIB
BRI Peduli ajak 35 jurnalis ikuti urban farming BRInita di Bandung. (c) BRI

Liputan6.com, Bandung - Pertumbuhan kawasan perkotaan yang semakin pesat membuat ketersediaan ruang terbuka kian terbatas. Di tengah kondisi tersebut, pemanfaatan lahan yang belum produktif melalui konsep urban farming dapat menjadi solusi untuk menghadirkan ruang hijau sekaligus memberikan manfaat pangan dan ekonomi bagi masyarakat.

Melalui BRI Peduli, BRI mengembangkan BRInita atau BRI Bertani di Kota sebagai bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Program ini mendorong pemanfaatan lahan di kawasan padat permukiman untuk mendukung ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, serta pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Komitmen tersebut turut diperkenalkan kepada 35 jurnalis dari berbagai wilayah Indonesia dalam rangkaian Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026, Jumat (30/10/2026). Para peserta diajak mengikuti kegiatan urban farming bersama masyarakat di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar RW 03, Kota Bandung, mulai dari menyemai benih, menanam, merawat tanaman, hingga memanen hasil budi daya.

BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar merupakan contoh pengembangan pertanian perkotaan berbasis komunitas yang dijalankan BRI Peduli bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat. Di lahan dengan panjang sekitar 60 meter dan lebar 5 meter tersebut, warga membudidayakan beragam tanaman, mulai dari pakcoy, kangkung, bayam, tomat, brokoli, dan ubi jalar; buah-buahan seperti jeruk, jambu, sawo, lengkeng, belimbing, dan pisang; hingga tanaman herbal dan rempah, antara lain pandan, serai, kunyit, jahe, dan lidah buaya.

Hasil Panen Dimanfaatkan untuk Kebutuhan Warga

BRI Peduli ajak 35 jurnalis ikuti urban farming BRInita di Bandung. (c) BRI

Adapun, hasil budi daya tersebut kemudian dimanfaatkan langsung oleh masyarakat, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun mendukung Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi Posyandu dan masyarakat lanjut usia. Dengan begitu, keberadaan BRInita tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi warga di lingkungan sekitar.

Pemanfaatan hasil panen tersebut turut didukung melalui penguatan sarana budi daya yang disalurkan BRI Peduli kepada BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. Pada 2025, BRI memberikan 16 jenis bantuan yang mencakup kebutuhan pengelolaan kebun, media tanam, pembibitan, serta pengembangan vertical garden.

Seiring dengan berkembangnya kegiatan kelompok, dukungan untuk BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar kembali diperluas pada 2026 melalui 28 jenis sarana dan perlengkapan, mulai dari kebutuhan budi daya, pengelolaan sampah, hingga pengembangan pertanian terpadu melalui budikdamber dan budi daya ikan lele.

Lurah Pajajaran Paridin menyampaikan apresiasi atas dukungan BRI terhadap masyarakat di Kelurahan Pajajaran. Menurutnya, pemanfaatan lahan kosong melalui urban farming merupakan langkah penting untuk membuat ruang yang sebelumnya tidak produktif menjadi lebih bermanfaat bagi warga.

“Urban farming menjadi salah satu solusi untuk memaksimalkan lahan kosong agar lebih produktif. Kami sangat senang karena manfaat program tersebut tidak hanya dirasakan dari sisi pangan, tetapi juga dapat membuka peluang tambahan penghasilan dan usaha sekaligus memperkuat kebersamaan dan gotong royong masyarakat. Kami berharap sinergi yang sudah terbangun dapat terus berlanjut serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.

Jurnalis Melihat Langsung Pemberdayaan Masyarakat

BRI Peduli ajak 35 jurnalis ikuti urban farming BRInita di Bandung. (c) BRI

Sementara itu, salah satu peserta BRI Fellowship Journalism 2026, Sylviani Salsabila Putri, dari Kabar Cirebon menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda karena para jurnalis tidak hanya menerima informasi melalui data dan paparan, tetapi juga melihat langsung bagaimana program pemberdayaan dijalankan bersama masyarakat.

“Biasanya kami menerima informasi dari data, paparan, atau materi yang sudah disiapkan. Di sini kami bisa melihat langsung prosesnya, berinteraksi dengan masyarakat, bahkan ikut menanam dan memanen. Pengalaman seperti ini memberi konteks yang lebih kuat bagi kami sebagai jurnalis karena kami dapat memahami bagaimana urban farming dijalankan dan manfaatnya dirasakan oleh warga,” ujarnya.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan bahwa BRInita merupakan salah satu bentuk implementasi TJSL BRI Peduli yang menggabungkan pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan, dan pengelolaan lingkungan melalui pemanfaatan lahan perkotaan. Terlebih, melalui rangkaian Fellowship Journalism Menanam, para jurnalis juga diajak melihat langsung bagaimana program tersebut dijalankan bersama masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, para jurnalis dapat melihat langsung bagaimana masyarakat terlibat sejak proses menanam hingga panen. Hasilnya kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan keluarga, mendukung kegiatan sosial, maupun memberikan tambahan nilai ekonomi bagi warga,” ujar Dhanny.

Ia menambahkan, pengelolaan BRInita juga diarahkan untuk memberi manfaat lingkungan melalui penambahan ruang hijau dan pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk serta eco enzyme. Pengembangan urban farming ini sekaligus mendukung ketahanan pangan, sejalan dengan Asta Cita Pemerintah dalam mendorong swasembada pangan dan ekonomi hijau, serta turut berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya terkait ketahanan pangan, kota berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim.

Rekam Jejak Dampak Positif BRInita untuk Lingkungan dan Ekonomi

BRI Peduli ajak 35 jurnalis ikuti urban farming BRInita di Bandung. (c) BRI

Sebagai informasi, sejak dijalankan pada 2021, Program BRInita telah berkembang di 40 kelompok penerima manfaat yang tersebar di 17 Regional Office dan 16 provinsi. Sepanjang 2021–2026, program BRInita ini telah menjangkau 764 penerima manfaat langsung dan 961 penerima manfaat tidak langsung. Dari sisi produksi, BRInita menghasilkan lebih dari 31,7 ton sayur dan buah, serta 4,7 ton hasil perikanan.

Program ini juga telah mengembangkan 70 produk olahan turunan, dengan pendapatan kelompok mencapai hingga Rp5,2 juta per bulan, serta menyelenggarakan 62 sesi pelatihan yang mencakup urban farming, pengelolaan sampah organik, dan pengembangan produk.

Efisiensi emisi gas rumah kaca sebesar 792,63 kg CO2-eq berhasil dicatat oleh program BRInita. Pada aspek lingkungan telah mengolah 4,7 ton limbah organik, menghasilkan lebih dari 12 ribu liter pupuk organik cair, serta menghadirkan 40 titik ruang terbuka hijau dengan luas sekitar 4.000 meter persegi.

Mendorong terciptanya lingkungan perkotaan yang lebih produktif dan berkelanjutan menjadi bagian dari upaya BRI Peduli melalui perluasan manfaat BRInita. Selain itu, berbagai capaian tersebut juga ditujukan untuk mendukung ketahanan pangan serta pemberdayaan masyarakat.

 

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya