Bukan Cuma Ulubelu, Lampung Punya Harta Karun Panas Bumi di Suoh dan Rajabasa

Lampung menyimpan potensi geotermal melimpah seperti di Suoh dan Gunung Rajabasa untuk mendukung transisi serta ketahanan energi.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 06 November 2026, 14:45 WIB
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Dr. Ir. Surono atau yang akrab disapa Mbah Rono di Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila), Jumat (6/11/2026). (Liputan6.com/Ardi Munthe)

Liputan6.com, Lampung - Potensi energi panas bumi (geotermal) di Provinsi Lampung dinilai menjadi salah satu kekuatan strategis untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi daerah. Selain Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu yang telah beroperasi, wilayah Suoh di Lampung Barat dan Gunung Rajabasa di Lampung Selatan menyimpan potensi besar yang siap dikembangkan.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Surono, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki cadangan energi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW)—salah satu yang terbesar di dunia. Sumber energi ini dinilai sangat strategis karena diproduksi di dalam negeri dan bebas dari ketergantungan impor.

"Indonesia mempunyai potensi energi panas bumi terbesar di dunia, sekitar 24 GW. Ini tidak impor, dan Lampung menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi cukup besar untuk memperkuat ketahanan energi daerah," ujar pria yang akrab disapa Mbah Rono tersebut saat ditemui di Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila), Jumat (6/11/2026).

Surono menegaskan bahwa proses transisi energi tidak dapat dilakukan secara mendadak dengan serta-merta meninggalkan energi fosil. Perubahan harus berlangsung bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan energi nasional dan mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada industri batu bara.

"Transisi energi dilakukan secara perlahan. Kita tahu kelistrikan nasional saat ini mayoritas masih dipasok dari batu bara," jelanya.

Menurutnya, transisi energi memiliki dua sasaran utama, yakni meredam dampak perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional. Panas bumi menjadi pilihan unggulan karena mampu menghasilkan pasokan listrik yang stabil tanpa terpengaruh cuaca.

 

Potensi Suoh dan Rajabasa Berpeluang Dikembangkan

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Dr. Ir. Surono atau yang akrab disapa Mbah Rono di Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila), Jumat (6/11/2026). (Liputan6.com/Ardi Munthe)

Terkait peluang pengembangan panas bumi di Lampung, termasuk kawasan Suoh dan Gunung Rajabasa, Surono menyebut percepatan pemanfaatan geotermal menjadi agenda penting pemerintah.

Ia juga menepis kekhawatiran bahwa pengembangan panas bumi merusak lingkungan. Walaupun izin wilayah kerja geotermal bisa mencapai ratusan hektare, area yang terpakai untuk kegiatan operasional fisik sangat minim.

"Izinnya mungkin ratusan hektare, tetapi yang digunakan paling hanya 2 persen. Sisanya dimanfaatkan untuk kawasan konservasi agar kesinambungan energi panas bumi terjaga," terangnya.

Ia menambahkan, keberlanjutan pembangkit geotermal sangat bergantung pada kelestarian ekosistem hutan dan siklus air hujan. "Tanpa menjaga lingkungan, panas bumi akan mati. Jadi, tidak mungkin pengusaha panas bumi merusak lingkungan, itu sama saja bunuh diri," tegas Surono.

Selain ramah lingkungan, geotermal memiliki keunggulan sebagai baseload atau sumber daya energi yang mampu memasok listrik secara konsisten selama 24 jam nonstop.

 

DEN Dorong Energi Bersih Tanpa Menghambat Ekonomi

Pada kesempatan yang sama, Anggota DEN Muhammad Kholid Syeirazi menegaskan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan energi seiring target pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi.

Kholid menilai Indonesia tetap memerlukan peningkatan konsumsi energi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat. Saat ini, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Indonesia masih berada di kisaran US$ 5.000, sehingga pemenuhan energi murah dan bersih menjadi kunci untuk mengejar ketertinggalan dari negara maju.

"Kita tidak bisa memutus eksploitasi sumber daya alam secara total hanya karena energi fosil dianggap kotor. Tugas kita adalah bagaimana mengurangi dampaknya. Konsumsi energi harus terus didorong untuk industrialisasi, tetapi beralih ke sumber yang ramah lingkungan," papar Kholid.

Ia juga menyoroti lonjakan kebutuhan listrik akibat pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan layanan komputasi intensif. Sementara itu, sekitar 66 persen pembangkit listrik Indonesia saat ini masih mengandalkan batu bara.

 

Panas Bumi hingga Nuklir Masuk Strategi Transisi

Kholid menjelaskan arah kebijakan energi nasional dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 2025 yang mendorong bauran energi terbarukan, gas bumi sebagai energi transisi, hingga opsi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

"Di antara seluruh opsi pengganti pembangkit fosil, panas bumi paling unggul. Sifatnya stabil, beroperasi 24 jam, dan kompetitif secara ekonomi saat investasi awal sudah terbayarkan," paparnya.

Unila Siapkan Riset Energi Matahari hingga Sampah

Rektor Universitas Lampung, Lusmeilia Afriani, menyambut positif sosialisasi isu strategis energi nasional oleh DEN di Unila. Pihaknya terus mendorong pengembangan riset energi terbarukan di lingkungan kampus.

"Unila tengah mengembangkan penelitian pemanfaatan energi alternatif, mulai dari energi matahari, geotermal, hingga pengolahan sampah rumah tangga dan limbah organik menjadi sumber energi," pungkas Lusmeilia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya