Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan dan menguji level 5.200 dalam jangka pendek. Meski demikian, investor diingatkan untuk tetap berhati-hati karena kenaikan indeks masih berpotensi menjadi technical rebound setelah mengalami tekanan jual cukup dalam.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan IHSG menguat 2,25% atau naik 110 poin ke level 5.030 pada perdagangan Kamis, 5 November 2026.
Advertisement
Penguatan tersebut menjadi angin segar bagi pasar saham setelah mengalami koreksi tajam. Namun, kenaikan tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa pasar telah memasuki tren pemulihan yang solid.
"Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 2,25% ke level 5.030 pada perdagangan Kamis, 5 November 2026 memberikan angin segar setelah pasar mengalami tekanan jual cukup dalam,” kata Hendra kepada Liputan6.com, Jumat (6/11/2026).
Hendra memprediksi dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan menguji area resistance 5.100–5.200. Sementara itu, level 5.000 menjadi support psikologis penting yang perlu dipertahankan.
Ia mengingatkan, apabila tekanan jual kembali meningkat dan IHSG menembus level 4.980, indeks berisiko melanjutkan pelemahan menuju 4.907.
"Dalam jangka pendek, IHSG berpeluang menguji resistance 5.100–5.200, dengan level 5.000 menjadi support psikologis penting. Apabila tekanan jual kembali meningkat dan indeks menembus 4.980, risiko pelemahan menuju 4.907 perlu diwaspadai,” jelasnya.
Saham Perbankan dan Konsumer Jadi Pilihan
Di tengah peluang pemulihan IHSG, Hendra menilai saham sektor perbankan berpotensi menjadi salah satu motor penggerak indeks. Sektor ini memiliki kapitalisasi pasar besar, likuiditas tinggi, serta sensitif terhadap perubahan sentimen pasar dan arus dana investor asing.
Selain perbankan, sektor konsumer juga menarik untuk dicermati. Sektor ini memiliki karakter bisnis yang relatif defensif karena ditopang kebutuhan domestik.
"Untuk strategi investasi, saya merekomendasikan trading buy secara bertahap dengan tetap disiplin terhadap target keuntungan dan batas kerugian,” ujarnya.
Rekomendasi Saham
Adapun saham pilihan yang direkomendasikan Hendra meliputi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), serta PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Untuk saham BBCA, area beli yang direkomendasikan berada di Rp 4.840, dengan target harga pertama Rp 5.300 dan target kedua Rp 6.000. Investor disarankan memasang stop loss di Rp 4.720.
Sementara itu, BBRI direkomendasikan pada area beli Rp 2.670, dengan target pertama Rp 2.840 dan target kedua Rp 2.880. Batas stop loss saham ini berada di Rp 2.600.
Untuk BMRI, area beli berada di Rp 3.570, dengan target harga pertama Rp 3.790 dan target kedua Rp 4.050. Adapun stop loss direkomendasikan pada Rp 3.520.
Di sektor konsumer, INDF menjadi salah satu pilihan dengan area beli Rp 6.550. Saham ini memiliki target harga pertama Rp 6.750 dan target kedua Rp 6.950, dengan stop loss di Rp 6.400.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.