Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah melonjak pada Kamis, 5 November 2026 (Jumat pagi WIB) seiring dengan penilaian ulang para investor terhadap prospek perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Sementara itu, serangan baru terhadap kapal-kapal tanker memicu kekhawatiran mengenai pasokan minyak.
Mengutip CNBC, Jumat (6/11/2026), harga minyak mentah berjangka Brent naik 3,8% dan ditutup pada level US$ 98,29 per barel. Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), meningkat 2,7% dan menetap di harga US$ 90,52 per barel.
Advertisement
Pada Rabu, kedua acuan harga tersebut sempat anjlok lebih dari 8% ke tingkat penutupan terendah sejak 31 Agustus.
"Situasi di Timur Tengah masih belum terselesaikan, dan itulah sebabnya terjadi pemulihan harga yang moderat saat ini," ujar analis UBS, Giovanni Staunovo.
Sementara itu, Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow mengatakan, laporan mengenai kapal tanker yang menabrak ranjau di Timur Tengah atau menjadi sasaran pesawat nirawak (drone) terus membuat pasar minyak khawatir. Para investor juga mencemaskan sikap Iran yang tidak berubah terkait negosiasi dengan AS.
Serangan terhadap kapal-kapal tanker di kawasan Teluk masih terus terjadi dengan intensitas yang mendekati rekor tertinggi, setidaknya lima kapal melaporkan insiden sejak hari Minggu, menurut badan keamanan maritim Inggris, UKMTO. Tingkat kejadian ini serupa dengan Oktober, saat badan tersebut mencatat 35 kapal terkena serangan, jumlah terbanyak dalam satu bulan selama masa perang berlangsung.
Perang melawan Iran, yang dilancarkan oleh Presiden AS Donald Trump bersama Israel pada Februari, telah menyebabkan lonjakan harga bahan bakar yang menjadi keluhan utama para pemilih.
Partai Demokrat berhasil menguasai kedua majelis di Kongres AS dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) Selasa, mengalahkan Partai Republik yang mengusung Trump.
Kongres baru yang dikuasai oleh Partai Demokrat akan mulai bertugas pada Januari.
Catatan Citi
Dalam sebuah catatannya, Citi menyebutkan adanya kekhawatiran setelah pemilihan paruh waktu usai, Gedung Putih mungkin akan lebih berfokus pada penggunaan wewenang eksekutif dalam kebijakan luar negeri, yang berpotensi meningkatkan eskalasi perang dengan Iran.
Namun, Eurasia Group menurunkan estimasi kemungkinan serangan baru AS terhadap Iran dari 65% menjadi 60%. Mereka juga memangkas probabilitas tercapainya kesepakatan dari 20% menjadi 10%, mengingat Iran tetap bersikeras pada tuntutan-tuntutan yang dinilai tidak mungkin diterima oleh Trump. Eurasia Group meningkatkan estimasi kemungkinan berlanjutnya kebuntuan dari 15% menjadi 30%.
Dalam sebuah catatannya, Eurasia Group menyatakan meskipun harga minyak sempat turun baru-baru ini, eskalasi konflik apa pun dapat mendorong harga minyak Brent ke kisaran US$ 110 hingga US$ 125 per barel.
Sementara itu, menurut kementerian luar negeri Iran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi membahas "perkembangan terkini" dalam upaya diplomatik untuk mendorong stabilitas regional melalui pembicaraan terpisah dengan rekan sejawatnya dari Arab Saudi dan Qatar.
Ketegangan di Timur Tengah Masih Tinggi
Ketegangan di kawasan tersebut masih tetap tinggi. Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia, mengeluarkan peringatan pada Kamis mengenai potensi bahaya di Yanbu pusat ekspor minyak kerajaan tersebut di Laut Merah di tengah berlanjutnya serangan kelompok Houthi dari Yaman yang berafiliasi dengan Iran terhadap kerajaan itu, sebagai bagian dari front lain dalam konflik yang melibatkan Iran.
Kelompok Houthi kemudian menyatakan telah menyerang Bandara King Fahd di kota Dammam, Arab Saudi, meskipun belum ada konfirmasi langsung dari pihak berwenang Arab Saudi.
Korps Garda Revolusi Islam Iran melaporkan bahwa dua kapal tanker minyak dan satu kapal tunda terbakar dalam insiden terpisah setelah mencoba melintasi rute yang tidak diizinkan di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Ukraina kembali melancarkan serangan terhadap kilang minyak Rusia, yang memicu kekhawatiran mengenai kemampuan Rusia untuk mengekspor bahan bakar diesel di bawah kesepakatan dengan Trump.
Berdasarkan analisis video oleh Reuters, kilang minyak Ryazan, salah satu yang terbesar di Rusia, tampaknya menjadi sasaran dalam serangan pesawat nirawak (drone) berskala besar semalam terhadap sejumlah lokasi industri di tenggara Moskow.
Jika terkonfirmasi, ini akan menjadi kilang minyak Rusia kedua yang diserang minggu ini, menyusul serangan terhadap fasilitas Yaroslavl pada Senin malam.