Emiten TRIS Kantongi Penjualan Rp 1,3 Triliun hingga September 2026

PT Trisula International Tbk (TRIS) mencatat penjualan naik 12,15% dan laba bersih periode berjalan tumbuh 3,1% hingga September 2026.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 05 November 2026, 14:44 WIB
Pabrik PT Trisula International Tbk (TRIS) (Foto: Trisula International)

Liputan6.com, Jakarta - PT Trisula International Tbk (TRIS) mencatat pertumbuhan penjualan dan laba hingga kuartal III 2026. Hal itu ditopang dari pasar ekspor yang tetap mendominasi penjualan dan menjadi salah satu pendorong utama kinerja.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis,(5/11/2026), PT Trisula International Tbk meraup penjualan Rp 1,33 triliun, naik 12,15% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,18 triliun.

Seiring pertumbuhan penjualan itu, laba bersih periode berjalan tumbuh 3,13% menjadi Rp 82,75 miliar hingga September 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 80,23 miliar.

Akan tetapi, laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 22,% menjadi Rp 33,23 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 42,92 miliar.

Mengutip keterangan resmi Perseroan, segmen manufaktur menjadi penopang utama pertumbuhan dengan kontribusi 66% terhadap total penjualan. Segmen ini mencatatkan perolehan Rp 1,1 triliun dengan pertumbuhan 10,9% Year on Year (YoY).

Kinerja positif juga dicetak lini bisnis distribusi yang tumbuh hingga 32,2% YoY menjadi Rp 317,5 miliar, dengan kontribusi 19% menyusul sebagai kontributor terbesar kedua terhadap total pendapatan. Selanjutnya disusul oleh lini bisnis ritel dengan perolehan Rp 115,7 miliar, lini bisnis seragam dengan perolehan Rp 113,5 miliar, serta lini bisnis perhotelan yang mencetak pendapatan Rp 16,4 miliar.

Berdasarkan wilayah penjualannya, pasar ekspor tetap menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 60% terhadap total penjualan. Pada periode ini, penjualan ekspor meningkat 11,4% YoY menjadi Rp 802,2 miliar. Pada September 2026, penjualan domestik turut mengalami pertumbuhan mencapai 13,3% YoY, dengan perolehan Rp 531,2 miliar.

"Kami bersyukur bahwa TRIS masih dapat melanjutkan kinerja yang positif hingga kuartal III 2026 yang mencerminkan fundamental bisnis yang tetap terjaga di tengah dinamika pasar,” kata Direktur Utama PT Trisula International Tbk, Widjaya Djohan.

 

Aset TRIS

PT Trisula International Tbk (TRIS) (Foto: Trisula International)

Adapun beban pokok penjualan naik 15,02% menajdi Rp 1,02 triliun hingga September 2026 dari September 2025 sebesar Rp 893,58 miliar. Laba kotor perseroan naik 3,47% menjadi Rp 305,56 miliar. Pada periode sama tahun sebelumnya, laba kotor perseroan tercatat Rp 295,29 miliar.

Beban usaha perseroan naik 4,88% menjadi Rp 197,68 miliar hingga September 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 106,81 miliar. Seiring hal itu, laba usaha naik menjadi Rp 107,87 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 106,81 miliar.

Laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan turun menjadi Rp 10,20 hingga September 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 13,94.

Ekuitas perseroan naik menjadi Rp873,61 miliar hingga September 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 1,35 triliun. Liabilitas turun menjadi Rp 492,59 miliar hingga 30 September 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 518,13 miliar.Aset perseroan naik menjadi Rp 1,36 triliun hingga 30 September 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 1,35 triliun.

Perseroan juga mengantongi kas dan setara kas Rp 167,38 miliar hingga September 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 132,5 miliar.

 

Buyback Saham

PT Trisula International Tbk (TRIS), emiten integrated apparel provider yang bergerak di bidang tekstil dan garmen akan meningkatkan kapasitas produksi. (Foto: Trisula International)

Perseroan juga akan membeli kembali atau buyback saham Rp 10 miliar untuk menjaga stabilitas harga saham dan mempertahankan kepercayaan investor di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.

Pelaksanaan buyback tersebut akan berlangsung selama tiga bulan, terhitung sejak 3 November 2026 hingga 2 Februari 2027.

Dalam periode tersebut, Perseroan berencana membeli kembali saham sebanyak-banyaknya 2% dari modal disetor atau setara dengan 62 juta saham. Penentuan harga pembelian akan mempertimbangkan harga yang dinilai wajar bagi Perseroan, dengan harga pembelian maksimum sebesar Rp165 per saham.

Perseroan meyakini bahwa pelaksanaan buyback tidak akan mengganggu kinerja maupun keberlangsungan operasional, seiring dengan fundamental bisnis yang tetap solid. Hal ini tercermin dari capaian laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp33,2 miliar hingga kuartal III 2026.

Di samping itu, buyback diharapkan dapat menjaga stabilitas perdagangan saham sekaligus memperkuat kepercayaan investor di tengah dinamika pasar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya