Liputan6.com, Beijing - Semakin banyak pensiunan China yang tertarik dengan liburan bertukar rumah, yaitu bertukar kunci rumah dengan orang asing untuk berwisata dengan dana terbatas sekaligus memperluas lingkaran pertemanan mereka.
Dikutip dari South China Morning Post, Kamis (5/11/2026), konsep ini berawal dari para guru Eropa di tahun 1950-an dan menjadi populer di seluruh dunia berkat film The Holiday di tahun 2006. Di China, konsep ini muncul di kalangan muda pada tahun 2023 di tengah melonjaknya harga hotel.
Advertisement
Selama libur Hari Nasional China pada bulan Oktober, pengeluaran rata-rata per orang untuk perjalanan dilaporkan turun menjadi sekitar 894 yuan (Rp 2,4 juta) per perjalanan, angka terendah sepanjang sejarah.
Di tengah kondisi penghematan ketat ini, para pensiunan dan orang-orang paruh baya yang pensiun dini, yang memiliki waktu luang dan properti, dengan antusias ikut serta dalam tren ini.
Komunitas khusus pertukaran rumah dan agensi yang memfasilitasi pertukaran tersebut sekarang berkembang pesat di media sosial daratan China.
Pertukaran ini umumnya mengikuti salah satu dari dua model, yaitu pertukaran simultan atau kunjungan bergiliran di mana salah satu pihak menjadi tuan rumah terlebih dahulu dan kemudian melakukan kunjungan ke pihak lain.
Selain untuk menghemat biaya, banyak lansia memandang pertukaran rumah sebagai cara yang bermakna untuk membangun kembali hubungan sosial di masa tua.
Menurut laporan dari North Latitude Laboratory, Wu Xiaoping, seorang guru dari Wenzhou di Provinsi Zhejiang yang sebentar lagi pensiun, bertukar rumah dengan seorang lansia di Nanjing, yang putrinya sedang menempuh pendidikan di Jepang.
Peraturan Bertukar Rumah dengan Orang Asing
Wu yang sekarang aktif di beberapa komunitas pertukaran memperhatikan pola demografis yang jelas, yaitu wanita cenderung bertukar dengan sesama perempuan, sementara guru lebih memilih pegawai negeri dibanding pengusaha.
Seorang mantan manajer operasional bernama Xiao Ping berumur 40 tahun asal Guangdong, China selatan, yang pensiun dini, menukar properti duplex cadangannya dengan sebuah vila pinggiran kota di Guizhou, lengkap dengan halaman, kolam, dan paviliun. Selama 20 hari tinggal di sana, ia memasak dan bersosialisasi dengan lingkaran pertemanan tuan rumah setempat.
Xiao berkata bahwa praktik ini bergantung pada kesepakatan tak tertulis. Para pemilik saling bertukar foto kartu identitas dan surat pernyataan pelepasan tanggung jawab, menyediakan seprai bersih dan perlengkapan mandi, dan menyepakati cara menangani tagihan utilitas.
Para tamu membersihkan properti sebelum pergi dan mengirimkan video untuk mengonfirmasi kondisinya.
"Diperlukan pikiran yang terbuka dan rasa saling percaya," ujar Xiao. "Jika Anda terus khawatir, Anda tidak akan pernah bisa bertukar properti."
Kemudian ada seorang pensiunan insinyur dari Xi’an barat laut China bernama Li Feng menukar apartemen cadangannya dua kali setahun. Pada suatu kesempatan, ia menginap di sebuah vila pemandian air panas di Guangdong.
Ia mencatat bahwa beberapa tamu bahkan meninggalkan peralatan listrik baru sebagai hadiah ucapan terima kasih.
Namun, tren ini menarik perhatian para pakar hukum, yang memperingatkan bahwa kerusakan properti, pelanggaran privasi, dan pelanggaran perjanjian masih belum diatur secara memadai.
Sisi Negatif Tren Ini
Pengalaman buruk juga terjadi. Contohnya seorang warga internet berkata bahwa masa tinggalnya di Hong Kong terganggu oleh dinding yang tipis dan nyamuk yang tidak muncul dalam video yang dikirim pemilik.
Menurut laporan media China, para pengacara merekomendasikan untuk menandatangani perjanjian tertulis, membuat daftar inventaris barang berharga, memverifikasi identitas, dan mengabari kerabat.
Di sisi lain, pihak berwenang di bidang kebudayaan dan pariwisata telah mengusulkan untuk mengaitkan program pertukaran rumah dengan sistem kredit sosial dan menerapkan sistem penilaian yang terstandarisasi.
Reaksi orang di internet masih beragam. Sebuah komentar berkata, "Menukar apartemen kecil dengan vila besar benar-benar sepadan, dan Anda bisa bertemu sesama penggemar liburan dari seluruh penjuru negeri."
Ada pula yang memperingati dengan berkata, "Menyerahkan rumah Anda sepenuhnya kepada orang asing sangat berisiko. Kita tidak boleh lengah."
Menurut Kementerian Urusan Sipil, populasi lansia di China diproyeksikan mencapai 380 juta pada tahun 2030, dengan pensiunan muda yang sehat mencapai lebih dari 60 persen.