Rupiah Melemah, UMKM Ekspor dan Pariwisata Berpotensi Cuan

Pelemahan rupiah buka peluang profit bagi UMKM ekspor dan pariwisata. Akumindo imbau pelaku usaha bijak atur margin agar bisnis tetap bertahan.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 04 November 2026, 15:00 WIB
Pekerja membuat mebel di kawasan Tangerang. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ternyata tidak selalu menjadi kabar buruk bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pelaku usaha yang mengandalkan pasar ekspor justru berpeluang memanen margin keuntungan lebih tinggi lantaran memperoleh pendapatan dalam dolar AS, sementara struktur biaya operasional dan produksinya berbasis mata uang rupiah.

Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), Edy Misero, menyoroti ekspor dan pariwisata sebagai dua lini bisnis yang paling berpotensi meraup berkah di tengah kondisi pelemahan rupiah ini.

"UMKM yang bekerja di sektor ekspor, UMKM yang bekerja di sektor pariwisata, itu tetap terbuka peluangnya untuk mendapatkan profit yang lebih baik,” ujar Edy saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (4/11/2026).

Edy memaparkan, menguatnya dolar AS memberikan keuntungan langsung saat hasil penjualan dikonversi ke rupiah. Dampak positif ini akan terasa maksimal bagi eksportir yang memproduksi barangnya menggunakan bahan baku lokal serta biaya operasional dalam negeri.

Namun, situasi berbanding terbalik bagi UMKM yang bergantung pada bahan baku impor. Kelompok pengusaha ini menghadapi pembengkakan biaya produksi yang berisiko tergerusnya margin keuntungan, terlebih jika disandingkan dengan penurunan daya beli masyarakat.

Saran untuk Pelaku Usaha

Teller menukarkan mata uang dolar ke rupiah di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Guna menyikapi tantangan tersebut, Edy menyarankan pelaku usaha untuk lebih sigap menyesuaikan tingkat margin ketimbang buru-buru menaikkan harga jual di pasaran demi kelangsungan bisnis.

"Yang tadinya misalnya profit-nya bisa 15%, kenapa dengan kita mengurangi profit menjadi 8% atau 9%? Tidak apa-apa. Tapi 8% atau 9% itu masih mampu membuat kita bertahan," katanya.

Di sisi lain, Edy turut mengimbau publik untuk semakin gencar mengonsumsi produk-produk lokal demi merawat daya serap pasar dalam negeri. Ia juga berharap pemerintah mengambil langkah konkret dengan mempermudah fasilitas izin usaha dan akses modal kerja, sehingga UMKM tak sekadar bertahan, tetapi mampu menggarap peluang pasar ekspor secara optimal.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya