Liputan6.com, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya membebani sektor usaha yang bergantung pada impor, tetapi juga mengancam bisnis berorientasi domestik, mulai dari makanan dan minuman, kesehatan, konstruksi, properti, hingga industri digital.
Ketergantungan terhadap bahan baku, mesin, teknologi, dan layanan berdenominasi valuta asing membuat biaya operasional perusahaan meningkat ketika rupiah melemah.
Advertisement
Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) Anggawira mengatakan, dampak pelemahan rupiah dapat menjalar ke berbagai sektor yang selama ini terlihat tidak memiliki ketergantungan besar terhadap perdagangan internasional.
"Jadi, ukuran dampaknya bukan hanya apakah suatu usaha melakukan ekspor atau impor, tetapi seberapa besar ketergantungannya pada komponen berdenominasi valuta asing,” ujar Anggawira kepada Liputan6.com, Rabu (4/11/2026).
Dia menjelaskan, industri makanan dan minuman menghadapi risiko kenaikan biaya bahan baku, kemasan, mesin, serta bahan tambahan yang masih berasal dari impor. Sektor kesehatan juga menghadapi tekanan akibat kenaikan harga obat, alat kesehatan, dan bahan baku farmasi.
Sementara itu, industri konstruksi dan properti berpotensi menanggung kenaikan harga mesin, baja, komponen, serta biaya pembiayaan. Industri digital dan jasa juga menghadapi tekanan karena sebagian perusahaan menggunakan perangkat keras, lisensi perangkat lunak, dan layanan komputasi awan yang dibayar dalam dolar AS.
Anggawira menilai, pengalaman menghadapi gejolak nilai tukar memang dapat meningkatkan kemampuan adaptasi perusahaan. Namun, pengalaman tersebut tidak otomatis membuat pelaku usaha kebal terhadap pelemahan rupiah.
Perusahaan yang memetakan eksposur valuta asing, menerapkan lindung nilai, meningkatkan penggunaan bahan baku lokal, serta menyesuaikan kontrak dan harga memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi tekanan.
“Namun, usaha dengan margin tipis, ketergantungan impor tinggi, utang dalam valuta asing, dan daya tawar harga yang rendah tetap rentan,” katanya.
Dia menambahkan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menghadapi risiko lebih besar karena memiliki ruang terbatas untuk menyerap kenaikan biaya produksi. Pelemahan rupiah yang berlangsung lama juga dapat menekan keuntungan apabila tidak diimbangi peningkatan produktivitas dan dukungan pembiayaan.
Peluang bagi Berorientasi Ekspor
Di sisi lain, pelemahan rupiah membuka peluang bagi industri berorientasi ekspor yang memiliki kandungan lokal tinggi. Peluang tersebut mencakup produk pertanian dan perikanan olahan, manufaktur, serta produk bernilai tambah.
Industri pariwisata juga berpotensi memperoleh keuntungan karena biaya berkunjung ke Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif bagi wisatawan asing.
Selain itu, pelemahan rupiah dapat mendorong substitusi impor melalui pengembangan bahan baku, komponen, teknologi, dan jasa lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
Namun, Anggawira mengingatkan, pelaku usaha tetap harus menjaga kualitas, produktivitas, kepastian pasokan, dan standar produk agar dapat memanfaatkan peluang tersebut.
Dia meminta pemerintah memperkuat daya tahan dunia usaha melalui kepastian kebijakan, perluasan akses lindung nilai, dukungan pembiayaan, serta percepatan penguatan rantai pasok dalam negeri. Langkah tersebut diperlukan agar pelaku usaha mampu mengelola risiko nilai tukar sekaligus meningkatkan kapasitas produksi dan ekspor.