Penyebab AS Roma Tak Mampu Halangi Kebangkitan Manchester United

Manchester United bangkit dan menang 3-2 atas AS Roma. Gian Piero Gasperini mengungkap kesalahan yang membuat timnya kehilangan kendali.

oleh Gia Yuda PradanaDiterbitkan 04 November 2026, 09:35 WIB
Para pemain Manchester United bereaksi setelah laga Liga Champions antara Manchester United vs AS Roma di Manchester, Inggris, Selasa, 3 November 2026. (AP Photo/Jon Super)

Liputan6.com, Jakarta - AS Roma pulang dari Old Trafford dengan membawa kekecewaan besar. Sempat unggul dua gol dalam 17 menit pertama, tim asuhan Gian Piero Gasperini justru kehilangan keunggulan dan takluk 2-3 dari Manchester United pada matchday keempat fase liga Liga Champions 2026-2027, Rabu (4/11/2026) dini hari WIB.

Kekalahan tersebut terasa menyakitkan karena AS Roma sebenarnya memiliki peluang untuk mengamankan kemenangan. Namun, perubahan intensitas permainan tuan rumah setelah jeda membuat mereka kesulitan mempertahankan kendali pertandingan.

Gasperini pun mengakui ada beberapa kesalahan yang menjadi penyebab timnya gagal mengatasi kebangkitan Manchester United. Mulai dari terlalu dalam bertahan, kehilangan kemampuan menekan lawan, hingga kegagalan mengelola tekanan setelah kebobolan.


Penalti Bruno Fernandes Mengubah Momentum

Pemain Manchester United, Bruno Fernandes, mencetak gol melalui penalti—gol pertama bagi timnya—dalam pertandingan fase pembuka Liga Champions antara Manchester United dan AS Roma di Manchester, Inggris, Rabu (4-11-2026). (Foto AP/Jon Super)

AS Roma mengawali pertandingan dengan sangat menjanjikan. Matias Soule membuka keunggulan pada menit ke-11, sebelum Donyell Malen menggandakan skor melalui penalti pada menit ke-17.

Tim tamu bahkan memiliki sejumlah kesempatan untuk mencetak gol ketiga. Namun, mereka gagal memaksimalkan peluang tersebut dan justru membiarkan Manchester United kembali mendapatkan momentum.

Titik balik terjadi pada menit ke-58 ketika Bruno Fernandes mencetak gol melalui penalti. Eksekusi pertamanya sempat ditepis kiper Devis Vasquez, tetapi harus diulang karena pelanggaran pemain yang memasuki kotak penalti terlalu cepat.

Gasperini menilai keputusan tersebut memberikan dorongan psikologis besar kepada tuan rumah. Setelah gol itu, Manchester United tampil dengan antusiasme yang jauh lebih tinggi, sementara AS Roma kesulitan mengimbangi perubahan permainan.


Terlalu Dalam Bertahan dan Kehilangan Tekanan

Pemain Manchester United Matheus Cunha mencetak gol ketiga timnya dalam laga Liga Champions antara Manchester United vs AS Roma di Manchester, Inggris, Selasa, 3 November 2026. (AP Photo/Jon Super)

Salah satu kesalahan terbesar AS Roma adalah tidak mampu mempertahankan intensitas pressing seperti yang mereka tunjukkan pada babak pertama. Para pemain semakin sering berada di area pertahanan sendiri sehingga Manchester United leluasa membangun serangan.

Gasperini mengakui timnya tidak lagi mampu menjaga pemain lawan sesuai dengan pola penjagaan yang telah disiapkan. Akibatnya, Setan Merah lebih mudah menguasai permainan, menekan pertahanan, sekaligus menciptakan peluang.

Pelatih asal Italia itu sebenarnya mempertimbangkan bahwa Manchester United akan meningkatkan tekanan setelah turun minum. Namun, AS Roma tidak cukup siap menghadapi situasi tersebut.

Lanjut Baca:

Ia menilai timnya seharusnya lebih sering memanfaatkan umpan panjang, melakukan duel untuk memutus ritme lawan, serta memperlambat tempo permainan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya