Liputan6.com, Jakarta - Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana, menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan saham Selasa (3/11/2026) semakin mengkhawatirkan.
IHSG ditutup anjlok 192 poin atau 3,78% ke level 4.904, dengan nilai transaksi mencapai Rp 11,7 triliun. Investor asing kembali mencatatkan net sell sebesar Rp 759 miliar, sehingga akumulasi net sell di pasar reguler sepanjang tahun berjalan mencapai Rp 127,5 triliun.
Advertisement
"Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap pasar saham Indonesia bukan lagi sekadar koreksi teknikal, melainkan telah berkembang menjadi krisis kepercayaan investor," ujar Hendra kepada Liputan6.com, Selasa, 3 November 2026.
Ia menjelaskan, penembusan level psikologis 5.000 memperlihatkan pelaku pasar masih memilih mengurangi risiko di tengah ketidakpastian global dan domestik yang semakin tinggi. Tekanan terhadap IHSG memang dipengaruhi memburuknya sentimen global.
Bursa saham Asia mengalami koreksi tajam, terutama Korea Selatan dan Taiwan yang masing-masing melemah 3,59%, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap keberlanjutan pertumbuhan sektor teknologi dan besarnya belanja kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Namun, pelemahan IHSG yang lebih dalam juga mengindikasikan bahwa pasar domestik memiliki persoalan tersendiri. Ketika sentimen global memburuk, pasar dengan tingkat kepercayaan investor yang kuat biasanya memiliki daya tahan lebih baik.
"Sebaliknya, Indonesia justru menghadapi tekanan berlapis akibat tingginya ketidakpastian kebijakan, kekhawatiran terhadap kualitas tata kelola pasar, serta belum pulihnya keyakinan investor terhadap prospek ekonomi dan investasi domestik," ujarnya.
Pengaruh Rupiah
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah yang berada di kisaran Rp 18.160 per dolar AS menjadi cerminan meningkatnya persepsi risiko terhadap perekonomian Indonesia.
Kekhawatiran investor tidak hanya berkaitan dengan pelemahan nilai tukar, tetapi juga kombinasi antara ketidakpastian fiskal, kenaikan harga energi, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak Brent yang menembus US$ 106 per barel berpotensi memperbesar beban subsidi energi dan mempersempit ruang fiskal.
"Jika tekanan tersebut tidak diimbangi dengan pengelolaan anggaran yang kredibel dan komunikasi kebijakan yang konsisten, investor akan semakin berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia," pungkasnya.