Liputan6.com, Jakarta - Derap langkah bergegas para pekerja yang baru turun dari kereta api pada pagi hari menjadi pemandangan sehari-hari bagi Novi. Sejak pukul 05.30 WIB, lapak sederhananya di kawasan Stasiun Juanda sudah mengepulkan aroma harum masakan. Mulai dari nasi goreng, nasi putih, hingga nasi kebuli siap memanjakan lidah para pejuang rupiah sebelum mereka bertempur di meja kantor.
Sudah sekitar tiga tahun Novi berjualan sarapan take-away ini. Tak sendiri, ia bahu-membahu membangun usaha bersama dua saudaranya.
Advertisement
Menariknya, di tengah gempuran harga bahan pokok yang kerap melambung tak menentu, Novi dan saudara-saudaranya konsisten membanderol dagangan mereka dengan harga yang sangat ramah di kantong: mulai dari Rp 10.000 saja.
"Karena dengan harga segitu bisa terjangkau, ya. Dari kalangan bawah sampai kalangan menengah ke atas bisa terjangkau. Mulai dari anak-anak sekolah sampai pekerja," ujar Novi kepada Liputan6.com di Kawasan Stasiun Juanda, Selasa (3/11/2026).
Berjualan dari Senin hingga Jumat, lapak Novi mencapai puncak keramaian pada pukul 07.30 hingga 09.00 WIB. Konsumen utamanya adalah para pegawai kantor dan penumpang kereta yang sedang memburu waktu.
Saking cepatnya ritme di pagi hari, banyak pelanggan setianya yang sudah memesan via WhatsApp dari dalam kereta. Mereka tinggal menggapai boks sarapan begitu menjejakkan kaki di stasiun.
Setiap harinya, kolaborasi tiga bersaudara ini mampu menjajakan hampir 400 boks sarapan. Dengan pembagian tugas memasak menu yang berbeda-beda, modal yang mereka keluarkan berkisar Rp 700.000 per hari.
Dari situ, Novi mengaku bisa mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp 150.000 hingga Rp 170.000 per orang dalam sehari, angka yang baginya sudah cukup untuk disyukuri dan memenuhi kebutuhan hidup harian.
Rintangan Bumbu dan Strategi Menjaga Rasa
Menjual makanan matang yang dibanderol mulai dari Rp 10.000 untuk paket telur dan Rp 15.000 untuk paket ayam tentu bukan tanpa tantangan. Harga cabai yang kerap melonjak, telur, ayam, hingga kemasan plastik yang naik-turun menjadi rintangan tersendiri.
Kondisi ini membuat Novi harus memutar otak agar biaya produksi tetap terkendali tanpa harus kehilangan pelanggan.
Namun, ada satu hal yang berusaha mati-matian dipertahankannya: takaran bumbu. Bagi Novi, mengurangi racikan bumbu bisa merusak cita rasa masakan yang selama ini menjadi alasan utama pelanggan kembali datang.
"Kalau harga pada naik, paling kita kurangi ayamnya atau nasinya sedikit. Itu pun enggak ngurangin banyak banget. Tapi kalau bumbu, tetap normal. Karena kalau kita ngurangin bumbu, rasa bisa beda. Nanti pelanggan pada lari," tegasnya.
Prinsip menjaga kualitas rasa inilah yang menjadi senjata utamanya. Menu-menu favorit seperti lauk sambal matah, rica-rica, hingga teriyaki pun selalu ludes diburu pembeli.
Meski sering laris manis, ada kalanya dagangan Novi tidak habis terjual. Menjelang pukul 10.00 WIB, ketika lapak harus tutup, terkadang masih terdapat makanan yang belum terjual.
Alih-alih membiarkan makanan tersebut terbuang, ia memilih "melempar" sisa dagangannya ke para pekerja gudang ekspedisi di sekitar lokasi dengan harga diskon.
"Kalau ada sisa, kita lempar ke anak-anak gudang J&T dengan harga separuhnya. Nasi yang harga Rp 10.000 jadi Rp 5.000. Kalau yang ayam dari Rp 15.000 jadi Rp 10.000, atau Rp 7.000. Hitung-hitung bantu mereka karena udah siang," ceritanya.
Selain mengandalkan pembeli harian, lapak Novi juga sering menerima pesanan dalam jumlah besar dari perkantoran,terutama untuk kegiatan Jumat Berkah.
"Alhamdulillah yang (pesan untuk) Jumat Berkah banyak. Banyakan dari kantor-kantor, dia bagi-bagiin buat teman kerjanya, atau random bagi-bagi ke tukang ojek. Jadi belinya macam-macam, enggak cuma buat kebutuhan diri sendiri," cerita Novi.
Penyelamat Perut dan Kantong Pekerja
Strategi Novi dalam menjaga kualitas rasa rupanya membuahkan hasil manis. Salah satu pelanggan setianya adalah Abian, seorang pekerja kantoran yang rutin membeli sarapan di tempat tersebut ketika menjalani jadwal work from office(WFO).
Bagi Abian, keberadaan lapak sarapan ini menjadi pilihan paling praktis setelah turun dari kereta. Selain lokasinya yang dekat dengan jalur ke kantor, porsi dan rasanya dinilai sangat sepadan dengan harga.
"Dengan harga segitu worth it sih, masuk sama porsinya. Karena buat sarapan kan memang enggak makan begitu banyak juga. Apalagi saya sudah dekat dan kenal sama Ibunya," ungkap Abian.
Kebiasaannya memboyong nasi boks tersebut bahkan menular ke rekan-rekan kerjanya. Tak jarang, Abian menerima titipan pesanan dari teman kantor. "Teman-teman mungkin ngelihat saya sarapan dengan nasi boks ini, jadi suka nitip. Ya, kita juga sekalian nawarin buat bantu pedagangnya, hitung-hitung bantu UMKM sih sebenarnya," tambah Abian.
Bagi pembeli lainnya seperti Dara, sarapan seharga Rp 10.000 adalah 'penyelamat' untuk mengatur pengeluaran, terutama menjelang akhir bulan. Pekerja kantoran ini kerap memburu menu ayam katsu milik Novi.
Dara mengaku biasanya membeli sarapan ketika terburu-buru berangkat kerja. Namun, faktor penghematan menjadi pertimbangan utama ketika anggaran bulanan mulai menipis. "Biasanya sih beli karena kesiangan berangkat kerja, enggak sempat masak, jadi biar lebih praktis dan sat-set saja. Selain itu, saya belinya pas akhir bulan karena budget yang pas-pasan," tutur Dara jujur.
Di tengah biaya hidup yang terus merangkak naik, Dara kini jauh lebih selektif. Pada hari biasa, ia mengalokasikan budget Rp 20.000 untuk sarapan. Opsi menu Rp 10.000 ini membuatnya bisa berhemat separuh harga. Meski terkadang porsi Rp 10.000 terasa kurang mengenyangkan, Dara memaklumi hal tersebut dan mengapresiasi kualitas rasanya.
"Sejujurnya sih tidak cukup, tapi untuk rasa lumayan dengan harga segitu. Kalau harus memilih antara sarapan Rp 10.000 atau Rp 20.000, kayaknya bakal milih yang Rp 20.000 kalau porsinya lebih banyak. Tapi, kalau akhir bulan jelas lebih milih yang Rp 10.000," ujarnya terkekeh.
Ia pun tak keberatan jika suatu saat pedagang menaikkan harga secara wajar, asalkan porsinya ditambah serta kebersihan dan rasa tetap terjaga.
Kisah Novi di balik meja lapak, serta cerita Abian dan Dara sebagai konsumen, memotret hubungan saling membutuhkan di tengah kerasnya rimba ibu kota.
Di satu sisi, Novi memutar otak mempertahankan harga murah tanpa mengorbankan racikan bumbu. Di sisi lain, para pekerja mendapatkan asupan energi yang layak dan praktis tanpa bikin kantong bolong. Sebungkus nasi seharga Rp 10.000 di sudut stasiun itu bukan lagi sekadar pengganjal perut, melainkan penyambung harapan bagi yang menjual maupun yang membeli.