Liputan6.com, Jakarta - Tiga maskapai penerbangan terbesar di China berpotensi menanggung kerugian sepanjang tahun 2026. Kepastian ini terlihat setelah ketiganya mencatatkan kinerja kuartal ketiga yang jauh lebih lemah dibanding tahun lalu akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat, rendahnya tarif penerbangan domestik, serta gangguan badai topan pada periode yang biasanya paling menguntungkan.
Berdasarkan konsensus estimasi analis yang dihimpun LSEG (London Stock Exchange Group), Air China dan China Eastern Airlines kini bersiap menghadapi kerugian bersih tahunan selama tujuh tahun berturut-turut sejak pandemi Covid-19.
Advertisement
Sementara itu, China Southern Airlines yang sempat kembali mencetak laba pada 2025 untuk pertama kalinya sejak 2019, juga diperkirakan bakal kembali menanggung kerugian.
Mengutip Channel News Asia, Selasa (3/11/2026), laba bersih Air China pada kuartal ketiga tercatat merosot tajam 92,6% dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi 270,6 juta yuan (sekitar US$ 40,62 juta). Pada periode yang sama, China Eastern hanya membukukan laba bersih sebesar 64 juta yuan, anjlok 98,2% dari pencapaian tahun 2025.
Adapun China Southern harus menanggung kerugian bersih sebesar 609 juta yuan pada kuartal ketiga, berbalik dari raihan laba bersih 3,84 miliar yuan pada tahun lalu.
Ketiga maskapai tersebut melaporkan kerugian sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, padahal pada periode yang sama di tahun 2025 mereka berhasil membukukan laba.
Kuartal ketiga yang mencakup puncak musim liburan libur panas secara tradisional merupakan periode terkuat bagi maskapai penerbangan China sekaligus menjadi tolok ukur perbandingan yang tinggi dari tahun ke tahun. Namun, ketiga maskapai menyatakan bahwa lonjakan harga bahan bakar pesawat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kinerja keuangan mereka.
Harga bahan bakar pesawat melambung lebih dari dua kali lipat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan kampanye militer terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Maskapai penerbangan China tercatat melakukan lindung nilai (hedging) bahan bakar dalam jumlah yang jauh lebih kecil dibanding kompetitor mereka di Asia dan Eropa, sehingga membuat kinerja mereka lebih rentan terhadap gejolak harga minyak dunia.
Persaingan Domestik yang Sangat Ketat
Selain masalah bahan bakar, tarif penerbangan domestik pada kuartal ketiga juga cenderung melemah akibat persaingan yang kian sengit, termasuk ancaman dari moda transportasi kereta cepat.
Huatai Securities memperkirakan yield (indikator tingkat tarif tiket) Air China turun 5% selama periode tersebut, sehingga maskapai tidak mampu menutup pembengkakan biaya bahan bakar.
"Maskapai penerbangan China diperkirakan masih akan menanggung kerugian bersih hingga kuartal keempat yang secara musiman memang lebih lemah, mengingat tingginya dampak lonjakan harga bahan bakar," ujar Kepala Riset Transportasi Asia-Pasifik di BofA Global Research, Nathan Gee.
Gee menyebutkan bahwa kinerja keuangan kuartal ketiga ini sejatinya sedikit lebih baik dibanding 'ekspektasi pasar yang sangat rendah'.
"Hasil pemantauan menunjukkan tarif domestik sempat naik dua digit secara tahunan setelah libur panjang Golden Week Oktober, seiring langkah maskapai membatasi kapasitas penerbangan. Namun, isu bahan bakar tetap menjadi tantangan utama yang berat," jelasnya.
"Margin keuntungan maskapai China masih berada di bawah tekanan hebat akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat dan lemahnya daya beli konsumen," tambah Gee.
Maskapai kini berupaya meningkatkan jam terbang per armada demi menekan biaya operasional, meski pemotongan biaya dalam skala besar diperkirakan akan sulit dilakukan. Sepanjang tahun ini, saham Air China, China Eastern, dan China Southern masing-masing telah merosot sebesar 38%,46%, dan 39%.