Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan sebuah kawasan hunian tidak hanya ditentukan oleh jumlah rumah yang dibangun. Ketersediaan infrastruktur, fasilitas sosial, hingga aktivitas ekonomi juga menjadi bagian penting dalam membentuk lingkungan tempat tinggal. Hal tersebut menjadi perhatian dalam pengembangan Hunian Warisan Bangsa (HWB) Purwakarta yang mulai memasuki tahap serah terima.
Deputy COO Hunian Warisan Bangsa I Putu Adi Sastrawan mengatakan pengembangan kawasan tersebut diarahkan tidak hanya untuk menyediakan rumah, tetapi juga membentuk lingkungan bagi keluarga.
Advertisement
“Apa yang kami bangun bukan hanya rumah, tetapi lingkungan tempat keluarga dapat membangun kehidupan dan masa depan mereka. HWB Purwakarta dibangun untuk manusia, diilhami oleh komunitas, dan dibentuk untuk masa depan," jelas dia, Senin (2/11/2026).
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Purwakarta Entin Suryatin menyoroti perkembangan kawasan sejak peluncuran hingga memasuki tahap serah terima. Ia berharap pembangunan dapat terus berjalan sehingga semakin banyak keluarga memiliki kesempatan menempati hunian yang layak dan nyaman.
Sementara itu, Didi menekankan pentingnya pembangunan kawasan yang tertata dan didukung infrastruktur memadai. Menurutnya, akses jalan, drainase, kebersihan, dan kenyamanan lingkungan perlu menjadi perhatian seiring bertambahnya jumlah penghuni.
Perkembangan kawasan tersebut juga dinilai berpotensi membawa dampak bagi masyarakat sekitar. Keberadaan kawasan hunian baru dapat menjadi pusat aktivitas yang mendorong kegiatan ekonomi sekaligus menghadirkan ruang interaksi bagi warga.
Aktivitas Sosial dan Peluang Usaha Mulai Berkembang
Bertambahnya penghuni membuat kebutuhan terhadap ruang interaksi dan fasilitas sosial menjadi semakin penting. Di kawasan HWB Purwakarta, salah satu fasilitas yang tersedia adalah Masjid Tajug Istimewa Nusantara yang diresmikan pada 30 Januari 2026.
Masjid tersebut berdiri di atas lahan sekitar 240 meter persegi dengan kapasitas kurang lebih 150 jemaah. Selain menunjang kegiatan ibadah, keberadaannya menjadi salah satu ruang berkumpul bagi masyarakat.
Aktivitas warga juga berlangsung di Balai Nusantara dan sejumlah ruang komunal lainnya. Berbagai kegiatan, seperti bazar makanan, pasar malam, pertunjukan musik, lomba mewarnai anak, senam, tari tradisional, hingga bersepeda bersama, menjadi sarana interaksi antarwarga.
Kegiatan tersebut sekaligus membuka kesempatan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkenalkan produk mereka. Kepala Desa Karangmukti H. Endin Jaenudin menilai kehadiran kawasan ini berpotensi memberikan manfaat bagi desa melalui peluang usaha dan interaksi masyarakat.
Peluang ekonomi juga disiapkan melalui Griya Niaga, kawasan komersial yang terdiri atas deretan ruko tiga lantai berukuran 4 x 12 meter. Ruko tersebut menghadap boulevard utama selebar 16 meter dan dilengkapi balkon serta jaringan listrik bawah tanah.
Sejumlah fasilitas dan usaha yang telah beroperasi di kawasan tersebut antara lain Toko MAMA, FmX, Bank Nobu, serta pusat kuliner dan UMKM. Pengembangan aktivitas ekonomi ini diharapkan dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan jumlah penghuni.