Demo Gen Z di Jerman Berujung Kerusuhan, Lebih dari 100 Polisi Terluka di Frankfurt

Pemerintah menunjuk kelompok sayap kiri dan komunitas imigran sebagai dalang kerusuhan.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 02 November 2026, 14:22 WIB
Sejumlah demonstran mengikuti aksi protes bertajuk "Gen Z Takes Care of It" (Gen Z yang Akan Mengurusnya) di Berlin, Jerman, Sabtu (31/10/2026). (Dok. AP Photo/Ebrahim Noroozi)

Liputan6.com, Berlin - Demo besar-besaran yang diikuti lebih dari 100.000 orang di berbagai wilayah Jerman pada Sabtu (31/10/2026) berujung kerusuhan di sejumlah kota. Di Frankfurt, lebih dari 100 polisi terluka setelah sekelompok perusuh menyerang petugas keamanan dan menjarah sejumlah toko.

Mengutip laporan Associated Press, sebagian besar peserta demonstrasi merupakan anak muda yang menuntut pemerintah meningkatkan anggaran untuk pendidikan, perumahan, dan perlindungan iklim. Mereka pun mendesak pemerintah mengambil langkah agar biaya hidup sehari-hari lebih terjangkau.

Meski sebagian besar demonstrasi berlangsung damai, kerusuhan pecah di sejumlah kota pada malam hari.

Di Frankfurt, polisi menahan 54 orang berusia antara 13 hingga 29 tahun setelah kerusuhan terjadi di pusat kota. Belum diketahui berapa banyak demonstran yang terluka dalam peristiwa tersebut.

Menurut kepolisian, sebanyak 17 toko mengalami kerusakan dan lima di antaranya dijarah. Situasi berangsur tenang pada Minggu (1/11) dini hari setelah polisi menutup akses ke sebuah kawasan di pusat kota.

"Saya terkejut dengan tindakan kekerasan yang terjadi di Frankfurt. Para pelakunya tidak akan dibiarkan lolos dari hukuman," kata Boris Rhein, kepala pemerintahan Negara Bagian Hessen, tempat Frankfurt berada.

"Siapa pun yang bertindak seperti para penyerang di pusat kota Frankfurt telah menempatkan dirinya di luar masyarakat kita."

Kerusuhan juga terjadi pada Sabtu malam di Cologne, ketika polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan kerumunan massa. Sementara itu, di Berlin, sejumlah demonstran menyerang polisi dengan botol dan benda-benda piroteknik, seperti kembang api.

Penyelenggara demonstrasi, sebuah kelompok gerakan anak muda bernama "Gen Z regelt", yang secara bebas dapat diartikan sebagai "Gen Z Bisa Mengatasinya", mengunggah pernyataan melalui Instagram untuk menegaskan penolakan mereka terhadap kekerasan.

Kelompok tersebut menyatakan menolak "segala bentuk kekerasan, termasuk tindakan kekerasan oleh kelompok atau individu lain" yang tidak menjadi bagian dari demonstrasi.

Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt menuding kelompok sayap kiri dan para pembuat onar dari komunitas imigran telah membajak demonstrasi yang berlangsung damai.

"Para perusuh dan penjarah akan diidentifikasi dan dimintai pertanggungjawaban," kata Dobrindt kepada surat kabar harian Bild pada Minggu.

Kerusuhan di Prancis Mereda

Gelombang demonstrasi yang terinspirasi oleh gerakan anak muda berlangsung di berbagai wilayah Eropa pada Sabtu. Ratusan ribu orang mengikuti aksi yang sebagian besar berlangsung damai, meskipun kerusuhan terjadi di sejumlah lokasi.

Di Prancis, pemerintah menyatakan lega pada Minggu setelah demonstrasi besar-besaran memprotes kenaikan biaya hidup berlangsung dengan tingkat kekerasan yang lebih rendah dibandingkan akhir pekan sebelumnya.

Namun, polisi memperkirakan demonstrasi kembali terjadi ketika sekolah-sekolah menengah atas dibuka pada Senin setelah libur musim gugur. Para pelajar sekolah menengah selama ini berperan penting dalam gerakan demonstrasi tersebut.

Di Paris, sekelompok perusuh menyerang polisi dengan bom molotov menjelang berakhirnya demonstrasi pada Sabtu di kawasan timur kota. Menurut kepolisian, serangan itu menyebabkan tiga petugas terluka dan sebuah mobil terbakar.

Di lokasi lain di Paris, kelompok bertopeng melemparkan kembang api ke arah polisi di sebuah tempat untuk menikmati pemandangan yang berhadapan dengan Menara Eiffel. Polisi berulang kali bergerak maju untuk memukul mundur kelompok tersebut, membuat para pengunjung panik dan berlarian meninggalkan kawasan itu.

Meski demikian, secara keseluruhan kekerasan kali ini tidak separah kerusuhan pada 17 Oktober, ketika sebuah balai kota dibakar dan lebih dari 2.000 toko dijarah dalam kerusuhan yang berlangsung selama berjam-jam. Saat itu, pihak berwenang tampak tidak siap mengendalikan situasi. Tingkat kekerasan pada Sabtu juga lebih rendah dibandingkan demonstrasi lanjutan pada 24 Oktober.

Polisi menangkap 779 orang pada Sabtu, jauh lebih sedikit dibandingkan 2.628 orang pada 17 Oktober dan 1.314 orang pada akhir pekan sebelumnya. Kepolisian Paris dan Marseille menyebut sejumlah kecil toko menjadi sasaran, tetapi tidak ada laporan kerusakan besar. Sekitar 70.000 personel polisi dikerahkan di seluruh Prancis.

Kepada Associated Press, para demonstran menceritakan berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari keberadaan tikus di ruang kelas, pekerjaan dengan upah rendah, hingga kesulitan membeli bahan bakar untuk kendaraan mereka.

Polisi kini bersiap menghadapi kemungkinan meningkatnya ketegangan ketika sekolah kembali dibuka pada Senin. Sejumlah kelompok telah menyerukan aksi pemblokiran akses.

Pemogokan umum dijadwalkan berlangsung di Prancis pada Kamis, termasuk di sektor transportasi kereta api dan layanan publik. Pada hari yang sama, para pelajar dan serikat pekerja berencana menggelar demonstrasi untuk menuntut kenaikan upah serta berbagai kebijakan lainnya.

Menurut seorang pejabat yang dekat dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, pemerintah saat ini memusatkan perhatian pada aksi yang dijadwalkan berlangsung Kamis dan melakukan perundingan dengan serikat pekerja. Langkah tersebut merupakan bagian dari dinamika politik yang sudah lazim terjadi di Prancis. Pemerintah berharap kerusuhan yang lebih sulit dikendalikan dapat mereda.

Pejabat itu menggambarkan demonstrasi pada Sabtu sebagai "kembalinya ketertiban sesuai prinsip-prinsip republik", tetapi mengakui bahwa situasinya "belum sempurna". Pejabat tersebut berbicara tanpa disebutkan namanya karena sesuai kebijakan kepresidenan, ia tidak berwenang memberikan pernyataan dengan identitas terbuka.

Biaya Perumahan Jadi Pemicu Demonstrasi di Portugal

Para demonstran membawa spanduk bertuliskan "Kami Tidak Punya Rumah, Tenda-Tenda Tetap Berdiri" saat berunjuk rasa menuntut perumahan dengan harga terjangkau di pusat kota Lisbon, Portugal, Sabtu (31/10/2026). (Dok. AP Photo/Armando Franca)

Sementara itu, di Portugal, polisi antihuru-hara membubarkan secara paksa para demonstran yang bertahan di sebuah alun-alun di Lisbon pada Minggu dini hari, menyusul aksi protes yang menuntut biaya perumahan lebih terjangkau.

Ribuan orang sebelumnya menggelar demonstrasi dengan berjalan kaki melintasi kota pada siang hari. Setelah aksi berakhir, beberapa ratus demonstran tetap bertahan dan mendirikan tenda di Rossio, sebuah alun-alun terkenal di pusat kota Lisbon.

Polisi turun tangan pada Minggu dini hari dengan membongkar tenda-tenda dan memaksa para demonstran meninggalkan kawasan tersebut. Sejumlah orang ditahan.

Para demonstran di Portugal telah menggelar aksi protes selama beberapa pekan. Gerakan tersebut terinspirasi oleh aksi serupa di Spanyol untuk menyuarakan persoalan kenaikan biaya hidup, terutama tingginya biaya perumahan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya