Saham HSC Keluar dari Perhitungan IHSG Mulai 2 November 2026, Ini Dampak ke Indeks

Pengamat pasar modal Hendra Wardhana menilai, kebijakan BEI mengeluarkan saham kategori HSC dalam perhitungan IHSG mengubah struktur pembobotan indeks.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 02 November 2026, 07:00 WIB
Seorang pria melihat ponselnya di depan layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan kriteria evaluasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai Senin, 2 November 2026. Salah satu langkah yang dilakukan BEI mengeluarkan saham kategori high shareholding concentration (HSC) atau saham yang hanya dimiliki segelintir pihak dalam perhitungan IHSG. Lalu bagaimana potensi dampak dikeluarkannya saham HSC ke IHSG hari ini?

Pengamat pasar modal Hendra Wardana menuturkan, tekanan terhadap IHSG menjelang pengumuman evaluasi MSCI November masih cukup besar. Pada perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026, investor asing kembali mencatatkan aksi jual Rp 176 miliar, sehingga akumulasi aksi jual sepanjang tahun berjalan mencapai sekitar Rp 126 triliun.

Ia menuturkan, kondisi ini menunjukkan tekanan pasar bukan sekadar koreksi teknikal, melainkan juga mencerminkan krisis kepercayaan investor terhadap transparansi, tata kelola, dan kepastian regulasi pasar modal Indonesia.

Selain itu, mulai Senin, 2 November 2026, saham-saham yang masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) tidak lagi diperhitungkan dalam bobot IHSG. Ia menilai, langkah BEI itu berpeluang memberikan tekanan ke saham-saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi.

"Kebijakan ini berpotensi mengubah struktur pembobotan indeks dan memberikan tekanan tambahan terhadap saham-saham yang selama ini memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi. Meskipun tidak berarti saham tersebut otomatis dikeluarkan dari perdagangan, penyesuaian ini dapat memengaruhi persepsi investor, strategi pengelolaan portofolio, serta aktivitas transaksi di pasar,” ujar Hendra dalam keterangannya kepada Liputan6.com, Senin, (2/11/2026).

Ia menuturkan, selama persoalan transparansi dan tata kelola belum terselesaikan secara meyakinkan, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia.

“Dari sisi teknikal, IHSG masih berada dalam tren bearish dengan kecenderungan melemah menuju area 4.980. Jika level tersebut ditembus, indeks berpotensi melanjutkan koreksi ke support berikutnya di kisaran 4.907,” kata dia.

 

Picu Volatilitas Tambahan

Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpampang di Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, skenario menuju level 4.000, menurut dia tidak dapat sepenuhnya diabaikan, tetapi membutuhkan kombinasi sentimen negatif yang lebih ekstrem, seperti keputusan MSCI yang merugikan, arus keluar asing semakin masif, pelemahan rupiah, dan memburuknya kepercayaan pasar.

“Pengumuman MSCI November menjadi katalis penting, sementara penerapan penyesuaian bobot HSC mulai 2 November berpotensi memicu volatilitas tambahan, khususnya pada saham-saham yang terdampak,” ujar Hendra.

Ia menuturkan, jika hasil evaluasi MSCI lebih moderat dibandingkan kekhawatiran pasar dan disertai komitmen perbaikan transparansi, IHSG berpeluang mengalami technical rebound.

“Penurunan IHSG berdampak langsung terhadap kapitalisasi pasar emiten karena turunnya harga saham mengurangi nilai pasar perusahaan,” kata dia.

Saham berkapitalisasi besar dapat kehilangan nilai pasar secara nominal sangat signifikan, sedangkan emiten dengan penurunan harga terbesar mengalami penyusutan kapitalisasi paling dalam.

“Tekanan berpotensi terkonsentrasi pada saham konglomerasi, energi dan pertambangan, infrastruktur, teknologi, serta properti, terutama yang memiliki free float rendah atau menjadi perhatian terkait transparansi kepemilikan dan pembentukan harga,” kata dia.

Ia menambahkan, tidak diperhitungkannya saham kategori HSC dalam bobot IHSG juga dapat mengurangi kontribusi saham-saham tersebut terhadap pergerakan indeks, meskipun sahamnya masih tetap tercatat dan diperdagangkan.

“Penurunan valuasi tidak selalu mencerminkan memburuknya fundamental, tetapi juga meningkatnya diskon risiko yang diminta investor. Selama ketidakpastian tata kelola belum terselesaikan, kapitalisasi pasar dan valuasi masih berpotensi tertekan,” ujar dia.

 

Sisi Fundamental

Papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Dari sisi fundamental, investor perlu membedakan emiten yang tertekan akibat sentimen pasar dengan perusahaan yang memang mengalami penurunan kinerja bisnis. Emiten dengan arus kas kuat, utang terkendali, profitabilitas stabil, dan daya tahan terhadap perlambatan ekonomi tetap memiliki peluang mempertahankan kinerja.

Ia menuturkan, sentimen positif dapat berasal dari penguatan harga komoditas, efisiensi operasional, peningkatan permintaan, dan potensi dividen.

Sebaliknya, pelemahan harga komoditas, tekanan nilai tukar, kenaikan biaya pendanaan, serta berlanjutnya arus keluar asing menjadi risiko utama.

“Investor juga perlu mencermati dampak penyesuaian bobot HSC karena perubahan bobot indeks berpotensi memengaruhi alokasi dana investor institusi dan strategi rebalancing portofolio. Karena itu, penurunan harga saham perlu dimanfaatkan secara selektif, bukan menjadi alasan untuk membeli seluruh saham yang sudah terkoreksi,” ujar dia.

Rekomendasi Saham

Pekerja berjalan dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026. (KLY/ Arie Basuki)

Di tengah kondisi pasar yang belum stabil, Hendra memilih saham berbasis komoditas dengan fundamental dan potensi arus kas relatif kuat masih menarik untuk dicermati. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dapat dipertimbangkan dengan strategi speculative buy dan target harga Rp 3.500, didukung aset batu bara yang kuat dan potensi dividen, meskipun menghadapi risiko normalisasi harga batu bara.

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dapat dipertimbangkan dengan speculative buy dan target Rp 2.600, ditopang diversifikasi bisnis, tetapi tetap perlu mencermati risiko eksekusi proyek dan belanja modal.

Sementara itu, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dapat dipertimbangkan dengan speculative buy dan target Rp 1.550, didukung bisnis minyak dan gas, meskipun sensitif terhadap harga energi, nilai tukar, dan tingkat utang.

"Ketiganya lebih tepat dikoleksi secara bertahap dengan tetap menjaga likuiditas dan disiplin terhadap risiko, mengingat volatilitas pasar masih berpotensi tinggi selama proses evaluasi MSCI dan penyesuaian bobot HSC berlangsung," ujar dia.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya