Bukan Mistis, Ini Alasan Gedung Tinggi Hapus Lantai 13

Bukan sekadar mistis, penghilangan lantai 13 di gedung tinggi ternyata strategi bisnis pengembang. Simak asal-usul dan pengaruhnya pada nilai properti.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 01 November 2026, 16:45 WIB
Ilustrasi Foto Lift (iStockphoto)​

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah megahnya arsitektur modern dan canggihnya teknologi konstruksi abad ini, ada satu angka yang masih sering disingkirkan dari tombol lift gedung-gedung pencakar langit, yaitu lantai 13. Penghilangan angka ini bukan sekadar ketidaksengajaan, melainkan langkah terencana yang dianut banyak pengembang properti global untuk mengakomodasi takhayul kuno yang bertahan hingga era digital. 

Secara umum, kesialan angka 13 kerap dikaitkan dengan narasi-narasi sejarah dan keagamaan klasik yang diwariskan turun-temurun. Namun, jika diteliti lebih dalam dari sudut pandang sejarah budaya, asal-usul fenomena ini ternyata menyimpan plot yang cukup mengejutkan.

Praktik ini rupanya jauh lebih lazim di abad ke-21 daripada yang dikira. Sejumlah gedung modern, mulai dari apartemen hingga hotel, memilih untuk melewati angka 13 sama sekali.

Beberapa pengelola memilih mengganti nama lantai 13 menjadi lantai 12A, atau mengalokasikannya khusus sebagai area infrastruktur gedung ketimbang unit hunian dan kantor. Ada pula bangunan, seperti salah satu hotel tertinggi di Cardiff, yang melompat langsung dari lantai 12 ke lantai 14.

Di bidang properti, rumah bernomor 13 biasanya dijual lebih murah. Di masa lalu, beberapa dewan kota di Inggris bahkan melarang pengembang baru memakai nomor 13 karena sepinya minat calon pemukim. Sebuah survei di Britania Raya menunjukkan bahwa 14% warga percaya angka 13 membawa sial, sementara 9% lainnya mengaku ragu-ragu.

Seorang pekerja di Network Rail Cardiff, Sarah Thomas menyadari keanehan gedung di area Brain's saat keluar dari kantornya.

"Rasa penasaran saya terungkit begitu melihat angka itu hilang," ujarnya mengutip dari BBC, Minggu (1/11/2026).

"Saya menduga ini pasti karena takhayul, tapi setelah browsing untuk memastikan, saya baru sadar betapa luasnya praktik ini diterapkan. Banyak teman bercerita mereka pernah berada di gedung atau lift tanpa tombol lantai 13. Tampaknya saya harus lebih sering mengunjungi gedung-gedung tinggi."

Sarah mengaku tidak percaya takhayul, meski baginya beberapa kebiasaan lama murni dipicu oleh logika sehat. "Saya sebisa mungkin menghindari berjalan di bawah tangga, tapi itu demi mencegah risiko tertimpa barang," tambahnya.

"Namun, saya selalu tertarik mempelajari sejarah di balik takhayul karena hal itu memberi gambaran tentang cara manusia zaman dulu menghubungkan peristiwa tertentu dengan kehidupan sehari-hari."

Bahkan, landmark paling megah di Inggris pun mempertahankan takhayul ini. Ketika kawasan Canary Wharf di London direnovasi dan menara menakjubkan One Canada Square dibangun pada 1990, yang kala itu menjadi gedung tertinggi di Inggris, pengelola mengoperasikannya tanpa lantai 13, dan kondisi itu bertahan hingga hari ini.

Mengapa Angka 13 Dianggap Membawa Sial?

Ilustrasi Lift (sumber: Freepik)

Pandangan umum kerap mengaitkan kesialan angka 13 dengan berbagai narasi sejarah. Salah satunya berakar dari ajaran Kristen, yakni kisah Perjamuan Terakhir (The Last Supper) Yesus Kristus yang dihadiri oleh 13 orang tepat sebelum Ia dikhianati oleh Yudas Iskariot, tamu ke-13 yang duduk di meja, lalu ditangkap. 

Naskah serupa ditemukan dalam mitologi Nordik. Loki, dewa pembuat onar dan tipu daya, menjadi tamu ke-13 dalam jamuan para dewa. Di sana, ia memperdaya salah satu putra Odin untuk membunuh saudaranya sendiri.

Ketakutan berlebih terhadap angka 13 yang secara medis disebut triskaidekaphobia akan memuncak jika bertepatan dengan hari Jumat (Friday the 13th). Hari Jumat sendiri kerap dikaitkan dengan hari naas karena diyakini sebagai hari wafatnya Kristus.

Namun, mengapa masyarakat modern yang berpikiran terbuka masih menggenggam kepercayaan semacam ini?

Pakar mitologi dan cerita rakyat dari Cardiff University, Dr. Juliette Wood, menjelaskan bahwa mitos ini sebenarnya bukan tradisi tua berumur ratusan tahun seperti yang dibayangkan banyak orang.

"Ini bukan cerita rakyat kuno. Mitos ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan peristiwa 13 orang di Perjamuan Terakhir," ungkap Dr. Wood.

Menurutnya, fenomena ini lebih merupakan bentukan media yang mulai populer di era peralihan abad ke-20. Hal tersebut kemudian berkembang menjadi 'cerita rakyat modern' yang terus diperkuat oleh tayangan budaya populer, termasuk waralaba film horor seperti Friday the 13th.

Pencarian dokumen sejarah sebelum abad ke-20 pun gagal menemukan referensi tertulis yang menyebut angka 13 sebagai angka sial. Namun, masyarakat cenderung mencocokkan kisah-kisah masa lalu agar sesuai dengan narasi mitos yang berkembang.

"Mitos ini begitu mudah diterima, terutama karena dikaitkan dengan Perjamuan Terakhir sehingga akhirnya melekat erat di pikiran publik," jelas Dr. Wood.

Pengaitan dengan figur Loki dalam mitologi Nordik bahkan diperkirakan jauh lebih baru. "Gagasan menjadikan mitologi Nordik sebagai tolok ukur budaya baru muncul pada abad ke-19 di Inggris, saat para cendekiawan mulai menerjemahkan mitos-mitos Nordik ke dalam bahasa Inggris," tambah Dr. Wood.

"Kini, berkat film-film Marvel, Loki justru dikenal sebagai sosok pahlawan. Terjadi pergeseran makna dari figur yang difokuskan."

 

Hari Naas dan Ketakutan Manusia

Konsep mengenai 'hari naas' sejatinya merupakan tradisi yang jauh lebih tua. Sebut saja peristiwa Ides of March (tanggal 15 Maret) pada era Romawi Kuno yang kian dipercaya sebagai hari sial pasca-pembunuhan Julius Caesar, lalu dipopulerkan kembali oleh karya drama Shakespeare. 

"Manusia menyukai takhayul. Di tengah dunia yang makin mekanistik dan penuh ketidakpastian ini, kita suka berlindung di balik frasa 'ah, ini kan sudah tradisi'," ujar Dr. Wood.

"Meski terdengar tidak rasional, kemampuan untuk menimpakan suatu kejadian pada kekuatan di luar diri kita membuat manusia merasa lebih tenang dan tidak terlalu cemas."

Katie Griffin, pelaku usaha properti dari lembaga Propertymark di Devon, mengonfirmasi bahwa penghindaran angka 13 masih sering ditemui dalam proyek perumahan. 

"Saya tidak bisa bilang bahwa angka 13 akan menurunkan nilai jual rumah, tetapi untuk menghindari masalah, pengembang terkadang memilih melompati nomor tersebut dari 11, 12, langsung ke 14," kata Katie.

"Jarang ada pembeli yang secara terbuka mengaku tidak mau beli rumah nomor 13 karena takhayul. Namun, mereka kerap bilang tidak ingin tinggal di dekat area pemakaman. Jika digali lebih dalam, ada kecenderungan sensitif semacam itu. Padahal kalau dibalik sudut pandangnya, membeli rumah nomor 13 justru bisa memberikan penawaran harga yang lebih menguntungkan."

Survei singkat terhadap para pengguna jalan di sekitar menara Cardiff menunjukkan mayoritas masyarakat tidak terlalu ambil pusing dengan takhayul ini.

Odessa Barthorpe, warga Cardiff, menilai takhayul lahir dari pengaruh budaya dan pola asuh. Namun, ia pribadi tidak keberatan tinggal di lantai 13. "Saya pikir ini cuma sisa-sisa pemikiran masa lalu saat manusia belum memahami cara kerja dunia sehingga harus membuat penjelasan sendiri. Menarik untuk disimak, tapi bukan untuk dijadikan pedoman hidup."

Senada dengan Odessa, Carmen Abad yang berasal dari Rhoose mengaku tumbuh di Asia Tenggara yang kaya akan takhayul, namun ia tidak memercayainya. "Saya pribadi sama sekali tidak keberatan tinggal di lantai 13. Kalau harga sewa apartemennya lebih murah, tentu akan saya ambil."

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya