Liputan6.com, Jakarta - PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatat pertumbuhan pendapatan, tetapi laba merosot hingga kuartal III 2026.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (1/11/2026), Pendapatan Barito Pacific naik 56,25% menjadi US$ 8,69 miliar hingga September 2026. Pada periode sama tahun sebelumnya Perseroan mencatat pendapatan US$ 5,56 miliar.
Advertisement
Kontribusi pendapatan dari petrokimia, energi dan lainnya. Kontribusi pendapatan dari petrokimia tumbuh 60,51% menjadi US$ 8,18 miliar dari periode sama tahun sebelumnya US$ 5,10 miliar. Sementara itu, pendapatan dari bisnis energi naik 9,63% menjadi US$ 501 juta dari periode sama tahun sebelumnya US$ 457 juta. Pendapatan lainnya merosot 20% menjadi US$ 4 juta dari periode sama tahun sebelumnya US$ 5 juta.
Perseroan mencatat peningkatan pendapatan bersih dari entitas anak Perseroan yakni Chandra Asri Group terutama dari kinerja kilang dan pendapatan yang lebih kuat dari segmen infrastruktur. Peningkatna pendapatan 9,6% YoY pada segmen energi terbarukan mencapai US$ 501 juta hingga September 2026. Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan pembangkitan panas bumi dan penambahan kapasitas setelah proyek retrofit dan output pembangkit angin yang stabil selama periode itu.
“Memasuki kuartal ketiga 2026, lingkungan bisnis global masih diwarnai oleh berbagai tantangan, khususnya di sektor energi di tengah ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar yang berkelanjutan,” ujar Presiden Direktur Barito Pacific, Agus Pangestu dalam keterangan resmi.
Di tengah dinamika itu, ia menuturkan,portofolio Barito Pacific Group yang terdiversifikasi di sektor Energi, Kimia, dan Infrastruktur terus menunjukkan ketahanan serta menopang pertumbuhan kinerja Grup secara keseluruhan.
Laba bersih setelah pajak turun 66,14% menjadi US$ 616 juta dari periode sama tahun sebelumnya US$ 1,81 miliar. Perseroan mencatat laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 60,55% dari US$ 582 juta hingga September 2025 menjadi US$ 229 juta hingga September 2026.
Earning before interest, tax, depreciation and amortization (EBITDA) Perseroan merosot 35,21% dari US$ 2,16 miliar hingga September 2025 menjadi US$ 1,40 miliar. Margin EBITDA turun menjadi 19,06% dari periode sama tahun sebelumnya 61,13%.
Aset BRPT
Total ekuitas Perseroan tercatat US$ 6,63 miliar hingga September 2026 dari periode Desember 2025 US$ 6,04 miliar. Total utang naik menjadi US$ 8,40 miliar hingga September 2026 dari Desember 2025 sebesar US$ 7,68 miliar.
Liabilitas Perseroan tercatat US$ 12,94 miliar hingga September 2026 dari Desember 2025 US$ 11,30 miliar. Aset Perseroan tercatat naik menjadi US$ 19,57 miliar hingga September 2026 dari Desember 2025 sebesar US$ 17,35 miliar.
Perseroan menyatakan di tengah meningkatkan volatilitas dan tingginya ketidakpastian, Perseroan tetap mempertahankan profil likuiditas yang kuat, dengan rasio utang bersih terhadap ekuitas yang tetap stabil di 0,76x.
"Kami juga terus menjaga struktur permodalan yang sehat, tercermin dari rasio utang bersih terhadap ekuitas sebesar 0.77x. Hal ini memberikan fleksibilitas keuangan yang memadai untuk mendukung investasi strategis yang sedang berjalan sekaligus merealisasikan agenda pertumbuhan jangka panjang Grup,” ujar dia.
Portofolio Perseroan
Di seluruh portofolio, Agus mengatakan, pihaknya terus memperkuat sumber pendapatan dan mengakselerasi berbagai prioritas strategis. Chandra Asri Group terus mengembangkan portofolionya di bidang Energi dan Kimia, Infrastruktur Terintegrasi, serta Solusi Mobilitas.
Secara paralel, Grup juga mengoptimalkan sinergi operasional antara aset-asetnya di Singapura dan Indonesia guna memperkuat keandalan pasokan, meningkatkan integrasi operasional, serta memperkuat daya saing di tingkat regional. Sementara itu, Barito Renewables terus melanjutkan ekspansi bisnis panas buminya.
Penyelesaian retrofit Darajat Unit 3 (+8.55MW) pada Oktober 2026 telah meningkatkan total kapasitas terpasang panas bumi menjadi 935.55 MW, sekaligus semakin memperkuat posisi kami di sektor energi terbarukan Indonesia.
"Ke depan, kami tetap berkomitmen untuk merealisasikan berbagai proyek pertumbuhan strategis dengan senantiasa mengedepankan disiplin investasi dan pengelolaan risiko. Proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Indonesia telah mencapai 80% penyelesaian konstruksi dan berjalan sesuai jadwal untuk memasuki tahap commissioning pada 2027.
"Pada saat yang sama, ekspansi berkelanjutan portofolio panas bumi kami diharapkan dapat meningkatkan total kapasitas terpasang menjadi lebih dari 1 GW pada akhir 2026," ia menambahkan.
Agus mengatakan, seiring dengan langkah transformasi Barito Pacific menjadi grup energi dan industri terkemuka di kawasan, fokus strategis perseroan tetap pada pengembangan portofolio bisnis yang semakin terdiversifikasi dan tangguh, penguatan disiplin operasional dan keuangan, serta penciptaan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.
"Didukung oleh platform bisnis yang terintegrasi dan eksekusi strategi yang konsisten, kami optimistis Barito Pacific berada pada posisi yang tepat untuk menangkap peluang pertumbuhan, menjaga ketahanan bisnis dalam menghadapi berbagai siklus pasar, serta berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan,” ujar dia.