Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini semakin canggih hingga bisa mengelabui orang melalui konten media deepfake AI.
Dulu, mengenali konten palsu itu mudah hanya dengan dilihat dari jari tangan yang berlebih atau tekstur yang aneh. Namun, tanda-tanda tersebut kini sebagian besar telah hilang.
Advertisement
Menurut Marijus Briedis, Chief Technology Officer di perusahaan keamanan online NordVPN, mengandalkan cacat visual sudah tidak lagi relevan karena masifnya perkembangan teknologi. Demikian sebagaimana diwartakan Mashable, Senin (2/11/2026).
Masalahnya bukan sekadar soal misinformasi. Kejahatan siber berbasis deepfake mencatatkan kerugian global hingga lebih dari USD 148 miliar (sekitar Rp 2,6 kuadriliunan) pada 2025, melonjak lebih dari 25 persen dari tahun sebelumnya.
Untuk melindungi diri di tengah era di mana apa yang dilihat dan dengar belum tentu benar, pakar keamanan siber menyarankan tiga langkah berikut guna mendeteksi konten deepfake.
1. Periksa Sumbernya, Bukan Kontennya
Alih-alih mencari kejanggalan dari konten berbasis AI, para ahli menyarankan untuk memverifikasi sumber informasi.
Video palsu paling sering bersembunyi di dalam potongan klip pendek tanpa konteks. Jika kamu melihat video viral seorang tokoh politik, carilah pidato lengkap atau wawancara aslinya dari berbagai media kredibel.
Briedis menyarankan untuk memastikan apakah akun tersebut sudah aktif lebih dari sebulan, apakah informasi serupa muncul di sumber tepercaya, dan apakah konten itu mendesak kamu segera bertindak tanpa alasan jelas.
2. Gunakan Logika
Kamu harus mempercayai insting kamu sendiri. Selalu uji tingkat plausibilitas atau masuk akalnya sebuah peristiwa.
Jika sebuah konten menampilkan figur publik melakukan atau mengatakan sesuatu yang kontroversial, tanyakan pada diri sendiri, seberapa besar kemungkinan hal itu benar-benar terjadi di ruang publik?
Sofia Rubinson, Senior Editor di lembaga pengawas misinformasi NewsGuard, menekankan pentingnya mencari sudut pandang dan informasi pendukung sebelum mempercayai sebuah narasi.
3. Waspadai Ragebait
Deepfake dirancang untuk memicu reaksi emosional yang kuat. Jika sebuah video di media sosial membuat kamu langsung merasa marah, geram, atau panik, berhati-hatilah.
Menurut Sherman dan Rubinson, respons emosional yang terlalu kuat seringkali menjadi indikator utama sebuah konten sengaja disebar untuk memprovokasi.
4. Manfaatkan Alat Deteksi dengan Hati-Hati
Jika masih kurang yakin, gunakan perangkat profesional atau pantau lembaga pelacak hoaks seperti NewsGuard, McAfee, atau database deteksi seperti AI or Not.
Meskipun belum ada alat yang 100 persen sempurna, perangkat ini berguna untuk memvalidasi kecurigaan kamu sebelum melakukan verifikasi mendalam.
Jika kamu masih ragu apakah suatu gambar itu asli, penting untuk tidak langsung membagikannya.