Liputan6.com, Jakarta - Bursa kripto Binance dilaporkan mengalami peretasan dengan nilai aset terdampak sekitar US$ 6,3 miliar atau lebih dari Rp 100 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar US$ 3 miliar aset kripto telah dibekukan.
Binance berjanji menanggung seluruh kerugian. Namun, pemulihan dana yang dicuri tidak bisa dilakukan secara instan. Berikut sejumlah fakta terkait peretasan tersebut, dikutip dari CNBC, Sabtu (31/10/2026):
Advertisement
1. Dana yang Dibekukan Belum Tentu Langsung Kembali
Kepala Kebijakan Global TRM Labs, Ari Redbord, menjelaskan pembekuan aset kripto hanya menghentikan perpindahan dana. Pengembaliannya tetap membutuhkan proses hukum.
“Pembekuan menghentikan perpindahan uang, sedangkan pemulihannya dilakukan melalui proses hukum,” ujar Redbord.
Menurutnya, stablecoin seperti USDT dan USDC lebih mudah dipulihkan karena penerbitnya dapat membekukan, menghapus, dan menerbitkan kembali token.
Sebaliknya, Bitcoin dan Ether lebih sulit dipulihkan karena tidak memiliki penerbit yang dapat langsung membekukan aset.
2. Pemulihan Bisa Memakan Waktu Bertahun-tahun
Kepala Riset Chainalysis, Eric Jardine, mengatakan pengembalian dana memerlukan koordinasi antara aparat penegak hukum, bursa kripto, dan penerbit token.
Pembekuan secara teknis bisa berlangsung cepat. Namun, proses pengembalian aset kepada pemiliknya dapat memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Keterlibatan Korea Utara hingga Keamanan Industri Kripto
3. Kelompok Peretas Korea Utara Diduga Terlibat
TRM Labs mengaitkan serangan tersebut dengan TraderTraitor, kelompok peretas yang didukung pemerintah Korea Utara.
Kelompok yang sama sebelumnya diidentifikasi FBI sebagai pelaku peretasan Bybit senilai US$ 1,5 miliar pada Februari 2025.
TRM Labs memperkirakan sekitar US$ 6,36 miliar aset digital dipindahkan dari dompet Binance melalui 10 jaringan blockchain. Sebagian besar perpindahan terjadi dalam waktu sekitar 20 menit.
4. Risiko Keuangan Binance Jadi Sorotan
Kepala Strategi Aset Digital Fundstrat Global Advisors, Sean Farrell, menilai peretasan tersebut belum menunjukkan risiko besar terhadap kemampuan Binance memenuhi kewajibannya.
Sekitar US$ 3,3 miliar aset diperkirakan belum dibekukan. Dana darurat Binance atau SAFU yang bernilai sekitar US$ 1,2 miliar berpotensi menutup sebagian kerugian tersisa apabila stablecoin yang dibekukan berhasil dikembalikan.
Meski demikian, kecepatan pemulihan layanan penarikan dana dan besarnya arus keluar aset menjadi indikator penting.
5. Keamanan Industri Kripto Diuji
Kepala Franklin Crypto di Franklin Templeton, Chris Perkins, menekankan pentingnya peningkatan standar keamanan siber dan kerja sama internasional untuk menghadapi kejahatan digital.
Ia juga menilai kecerdasan buatan (AI) dapat membantu mendeteksi celah keamanan, meskipun teknologi tersebut juga dimanfaatkan pelaku serangan.
Di tengah kekhawatiran pasar, harga Bitcoin berada di bawah US$ 78.000 pada perdagangan Jumat.