Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji, berharap Perum Bulog dapat menjual beras pecah (broken rice) dengan harga murah kepada pelaku industri pengolahan makanan dalam negeri. Pasalnya, kebutuhan bahan baku beras pecah bagi industri pengolahan seperti pabrik bihun sangat tinggi.
Sarmuji mengaku telah berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Perdagangan Budi Santoso, dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Ia menyoroti lebarnya jurang harga (gap) antara beras pecah impor dan lokal.
Advertisement
"Pabrik bihun kita, misalnya, sangat membutuhkan bahan baku beras pecah. Di pasar internasional, harganya berkisar Rp 5.700 hingga Rp 6.000 per kilogram. Namun di dalam negeri, harganya dipatok Rp 11.000. Tentu ada selisih yang sangat tinggi," ungkap Sarmuji pada Rapimnas Kadin Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Melihat pertimbangan efisiensi biaya, pelaku industri berpotensi memilih opsi impor. Meski demikian, Sarmuji menilai opsi impor kurang tepat di tengah kondisi cadangan beras nasional yang berlimpah di gudang-gudang Bulog.
"Tentu riskan jika kita memilih impor sementara status kita swasembada pangan dan gudang Bulog penuh. Jika beras Bulog terus menumpuk karena pasokan lebih tinggi dibanding permintaan, nilainya berisiko turun, bahkan bisa mendekati nol," bebernya.
Oleh karena itu, Sarmuji terus menjajaki skema harga khusus yang lebih kompetitif bagi industri bersama Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian.
"Bagaimana caranya industri bisa mengambil beras dalam negeri dengan harga kompetitif. Toh pada akhirnya, beras yang tersimpan terlalu lama nilainya akan turun. Ini yang sedang kita komunikasikan, mudah-mudahan ada jalan keluar," tuturnya.
Stok Beras Melimpah dan Swasembada
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengklaim stok beras nasional mencapai 25 juta ton, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Dengan konsumsi nasional rata-rata 2,5 juta ton per bulan, pasokan tersebut diproyeksikan aman memenuhi kebutuhan nasional hingga Juli 2027 tanpa perlu impor.
Amran menyebut ketersediaan beras dalam kondisi aman meski dibayangi ancaman fenomena El Nino. Total stok 25 juta ton tersebut tersebar di beberapa lini, yakni 10 juta ton standing crop (tanaman padi di lahan), 10 juta ton di sektor rumah tangga serta hotel, restoran, dan katering (horeka), serta 4,5 juta ton tersimpan di gudang Perum Bulog.
"InsyaAllah stok kita aman sampai bulan Juli. Stok saat ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah," ujar Amran usai rapat koordinasi ketahanan pangan di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Ia menambahkan, capaian swasembada beras berkelanjutan ini telah bertahan selama dua tahun berturut-turut tanpa adanya impor beras. Keberhasilan menjaga produktivitas lahan di tengah cuaca ekstrem didukung oleh program percepatan seperti pompanisasi, optimalisasi lahan (oplah), perbaikan irigasi, dan penggunaan benih tahan kering.