Peneliti Korea Selatan Klaim Sedotan Kertas Lebih Berbahaya untuk Lingkungan Dibanding Plastik

Seperti apa kajian dari peneliti Korea Selatan terkait sedotan kertas?

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 30 Oktober 2026, 20:30 WIB
Sedotan kertas ramah lingkungan (Meghan Rodgers/Unsplash).

Liputan6.com, Seoul - Dalam sebuah studi yang pemerintah tugaskan untuk mengukur dampak karsinogenik (risiko pemicu kanker) selama proses produksi, penggunaan, dan pembuangan, sedotan kertas tercatat memiliki nilai 6,33 kali lebih tinggi daripada sedotan plastik konvensional.

Dikutip dari The Straits Time, Jumat (30/10/2026), laporan yang Kementerian Iklim, Energi dan Lingkungan Hidup Korea Selatan tugaskan dan diungkapkan pada 21 Oktober oleh anggota parlemen Kim Wi Sang dari Partai Kekuatan Rakyat ini mengevaluasi dampak lingkungan dari empat jenis sedotan seperti sedotan plastik konvensional, sedotan kertas, sedotan plastik yang dapat terurai secara hayati atau biodegradable, dan polietilena berbasis hayati (bio-PE).

Para meneliti mengukur dampak tersebut mulai dari produksi bahan baku hingga pembuangan limbah berdasarkan 16 kategori.

Angka dampak karsinogenik bagi manusia adalah ukuran berbasis model untuk siklus hidup, bukan ukuran langsung dari risiko kanker bagi orang-orang yang menggunakan sedotan tersebut.

Berdasarkan statistik limbah nasional, penilaian ini mengasumsikan bahwa 73,6 persen sedotan bekas dibakar dan 26,4 persen dikirim ke tempat pembuangan akhir.

Kemudian, jika dibandingkan dengan sedotan plastik konvensional, sedotan kertas juga memiliki dampak pengasaman 2,04 kali lipat.

Sedotan Bio-PE memiliki dampak yang lebih buruk, dengan dampak karsinogenik terhadap manusia 16,18 kali lipat dan dampak pengasaman 5,9 kali lipat. Sedotan plastik yang dapat terurai secara hayati memiliki dampak karsinogenik 3,34 kali lipat dan dampak pengasaman 1,98 kali lipat.

Sementara itu, sedotan plastik konvensional memiliki dampak terkecil di 10 dari 16 kategori, termasuk perubahan iklim, pengasaman, partikel halus, dan toksisitas terhadap manusia.

 

Argumen tentang Kebijakan Sedotan Kertas

Ilustrasi sedotan plastik. (dok. unsplash.com/thoango)

Sedotan Bio-PE memiliki dampak terbesar pada 10 kategori, termasuk penipisan lapisan ozon, pengasaman, dan kabut asap. Sementara itu, sedotan kertas memiliki dampak terbesar pada tiga kategori, sedangkan sedotan plastik yang dapat terurai secara hayati memiliki dampak terbesar pada dua kategori.

Korea Selatan melakukan pembatasan penggunaan sedotan plastik di kafe dan restoran pada November 2022, tapi memperpanjang masa tenggang penegakan aturan tersebut tanpa batas waktu pada November 2023 di tengah keluhan masyarakat dan pertanyaan mengenai efektivitas kebijakan tersebut.

"Pemerintah harus mengakui kegagalan kebijakan 'greenwashing'-nya, yang terlalu terpaku pada bahan pengganti yang tidak efektif, dan menghindari pengulangan kesalahan tersebut," tutur Kim. "Kebijakan harusnya fokus pada pengurangan penggunaan produk sekali pakai secara keseluruhan."

Bio-PE terbuat dari sumber nabati yang dapat diperbarui seperti tebu, tapi secara kimiawi identik dengan polietilena konvensional dan tidak dapat terurai secara hayati. Bahan ini berbeda dengan plastik yang dapat terurai secara hayati.

Sedotan kertas sering dipromosikan sebagai produk yang dapat didaur ulang, tapi penelitian tersebut menemukan bahwa sedotan dari segala jenis bahan sulit didaur ulang dalam praktiknya. Para peneliti mengatakan bahwa ukurannya yang kecil membuat fasilitas pemilahan sulit memisahkannya. Lapisan dan perekat juga bisa menghambat proses daur ulang.

Dalam sebuah survei terhadap 1.001 orang yang tercakup dalam laporan tersebut, 87,5 persen di antaranya menyatakan lebih memilih sedotan plastik. Sekitar 54,4 persen mendukung kebijakan penyediaan sedotan hanya jika pelanggan minta, sementara 18,4 persen menentang kebijakan tersebut.

Para peneliti merekomendasikan agar toko-toko tidak menyediakan sedotan sekali pakai dalam bentuk apapun secara langsung dan hanya memberikannya jika pengunjung minta.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya