Cerita Kepala BGN Tiap Hari Didemo soal Program MBG

Sudaryono menyatakan terbuka terhadap kritik soal MBG, tetapi menegaskan pihaknya selektif dalam menanggapi demonstrasi yang dinilai hanya ikut-ikutan.

oleh Tisha Maulida FazriahDiterbitkan 30 Oktober 2026, 01:00 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyoroti tiga masalah utama dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG). (Liputan6.com/Tisha Maulida Fazriah)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono bercerita tentang aksi demonstrasi terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama dirinya memimpin BGN. Dia mengaku heran karena tidak ada kelompok yang menggelar demonstrasi untuk menyatakan dukungan terhadap program pemenuhan gizi tersebut.

Sudaryono mengatakan, dalam sepekan BGN menerima aksi demonstrasi terkait MBG dari berbagai pihak. Mulai dari penolakan MBG hingga para mitra yang dihentikan kerja samanya karena temuan pelanggaran.

“Saya ini setiap hari didemo, Senin didemo oleh orang yang anti MBG, Selasa didemo oleh mitra dapur yang dapurnya sudah jadi belum beroperasi, Rabu didemo mahasiswa karena katanya mengurangi anggaran pendidikan, Kamis didemo sama kontraktor yang bangun dapur APBN ini karena fraud belum dibayar, terus hari Jumat saya didemo siapa lagi ya?” kata Sudaryono, dikutip Jumat (30/10/2026).

Surdayono pun mengaku heran, selama dia menjabat sebagai Kepala BGN tidak ada demo yang mendukung program MBG.

"Jadi ku pikir-pikir kok Senin sampai Jumat ini enggak ada demo mendukung MBG tuh enggak ada," ungkapnya.

Sudaryono juga menyoroti jumlah peserta demonstrasi yang terkadang hanya lima orang, tetapi menggunakan pengeras suara dengan volume besar.

"Yang demo itu kadang-kadang mohon maaf, itu yang demo 5 orang pakai toa gede-gede. Jadi satu orang teriak-teriak, empat orang minum es. Nanti kalau dia udah serak dia turun minum es, temannya naik. Astaga! Tapi kami elus dada,” sambungnya.

Meski program MBG kerap menjadi sasaran demonstrasi, Sudaryono mengaku tidak mempermasalahkannya. Dia menyatakan terbuka terhadap masukan dari siapa pun, mengingat Indonesia merupakan negara demokrasi.

“Apa pun ya dalam negara demokrasi ini orang boleh mengutarakan pendapatnya, orang boleh menuntut, orang boleh mengekspresikan harapan dan juga kami tidak anti kritik, kami enggak ada masalah,” ujar Sudaryono.

Namun, Sudaryono menegaskan bahwa pihaknya tetap selektif dalam menanggapi aspirasi, terutama jika aksi demonstrasi dinilai hanya dimanfaatkan oleh pihak yang memiliki kepentingan tertentu. Dia mengaku jengkel terhadap pendemo yang dianggap sekadar ikut-ikutan.

“Mohon maaf, kita tidak bisa teruskan,” tegasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya