Liputan6.com, Jakarta - Mencari kerja membutuhkan biaya. Ada ongkos perjalanan, dokumen yang harus disiapkan, dan waktu yang dihabiskan untuk menunggu proses seleksi. Bagi mereka yang belum berpenghasilan, mendatangi job fair berarti mengeluarkan sebagian sumber daya yang masih dimiliki demi mengejar kesempatan.
Karena itu, kabar tentang ribuan lowongan kerja selalu mengundang harapan. Namun, setelah acara berakhir, ada pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan pencari kerja: apakah lamaran mereka berlanjut menjadi pekerjaan, atau justru menambah daftar perusahaan yang belum memberikan jawaban?
Advertisement
Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 7,22 juta penganggur pada Mei 2026, dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 persen. Besarnya persoalan ini membuat setiap upaya mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan layak diperhatikan. Namun, angka pengangguran nasional tidak dengan sendirinya menjelaskan seberapa efektif sebuah bursa kerja.
Job fair dapat membantu mempertemukan perusahaan dengan calon pekerja. Agar manfaatnya benar-benar terasa, penilaian tidak boleh berhenti ketika stan dibongkar dan peserta pulang. Perlu ada tindak lanjut untuk mengetahui berapa banyak lamaran yang berujung pada pekerjaan.
Ramai Belum Tentu Berhasil
Bursa kerja memiliki fungsi yang berguna. Pencari kerja dapat menemui beberapa perusahaan di satu tempat, bertanya tentang posisi yang tersedia, dan mengikuti seleksi awal. Perusahaan pun berkesempatan mengenali calon pekerja secara langsung.
Pertemuan semacam ini dapat menghemat waktu pencarian. Namun, perusahaan tetap merekrut berdasarkan kebutuhan usahanya. Banyaknya pelamar tidak otomatis membuat perusahaan menambah jumlah pekerja.
Di sinilah pentingnya membedakan kemudahan mencari pekerjaan dengan bertambahnya kesempatan kerja. Bursa kerja membantu mempertemukan dua pihak, tetapi penyerapan tenaga kerja tetap bergantung pada ketersediaan posisi dan kecocokan antara kebutuhan perusahaan dengan kualifikasi pelamar.
Penelitian Girum Abebe dan rekan-rekannya di Ethiopia yang terbit dalam The Economic Journal pada 2025 memberikan gambaran menarik. Bursa kerja yang mereka teliti menghasilkan sedikit perekrutan langsung, tetapi mendorong perusahaan dan pencari kerja meningkatkan upaya pencarian. Peluang memperoleh pekerjaan juga membaik bagi pencari kerja dengan tingkat pendidikan lebih rendah.
Temuan tersebut tidak serta-merta menggambarkan kondisi bursa kerja di Indonesia. Namun, ada pelajaran yang bisa diambil: manfaat sebuah bursa kerja dapat muncul melalui proses pencarian dan pemahaman yang lebih baik, bukan hanya dari jumlah orang yang langsung direkrut saat acara berlangsung.
Karena itu, evaluasi perlu mencakup proses setelah job fair dan hasil penempatan yang benar-benar terjadi.
Lowongan Harus Jelas Sebelum Pelamar Datang
Jumlah lowongan, jumlah lamaran, dan jumlah orang yang memperoleh pekerjaan merupakan tiga hal berbeda. Seorang pelamar bisa mengirimkan banyak lamaran, sementara satu posisi dapat diumumkan melalui beberapa kanal. Angka yang besar belum tentu menunjukkan adanya tambahan kesempatan kerja dalam jumlah yang sama.
Penyelenggara perlu memastikan perusahaan benar-benar sedang merekrut, posisi yang ditawarkan masih tersedia, dan jadwal seleksi disampaikan dengan jelas. Informasi mengenai lokasi penempatan, kisaran penghasilan, serta bentuk hubungan kerja juga sebaiknya tersedia sebelum peserta memutuskan datang.
Kejelasan ini membantu pencari kerja menghindari perjalanan yang tidak perlu. Informasi yang lengkap juga memungkinkan mereka memilih posisi sesuai kebutuhan dan kemampuan, sehingga waktu perusahaan maupun pelamar dapat digunakan untuk proses seleksi yang lebih terarah.
Pencari kerja juga berhak mempertimbangkan biaya transportasi dan tempat tinggal sebelum menerima tawaran. Pekerjaan di lokasi yang jauh mungkin membutuhkan pengeluaran tambahan yang belum sanggup mereka tanggung. Menolak tawaran dalam situasi seperti ini tidak selalu berarti seseorang enggan bekerja.
Perusahaan pun perlu mengevaluasi persyaratan rekrutmen. Jika suatu posisi ditujukan bagi lulusan baru, misalnya, tuntutan pengalaman yang terlalu tinggi patut ditinjau kembali. Ketidakcocokan dalam proses seleksi dapat berasal dari kedua belah pihak. Karena itu, kegagalan memperoleh pekerjaan tidak seharusnya selalu dibebankan kepada pelamar.
Kepastian Setelah Lamaran Diserahkan
Bagi pencari kerja, ketidakpastian tidak berhenti ketika lamaran diserahkan. Mereka masih harus menunggu kabar mengenai seleksi lanjutan, hasil wawancara, atau keputusan perusahaan.
Informasi tentang perkiraan waktu seleksi, cara memeriksa status lamaran, dan pemberitahuan ketika rekrutmen ditutup akan membantu pelamar menentukan langkah berikutnya. Mereka dapat mengatur waktu dan biaya untuk mengejar kesempatan lain tanpa terus menunggu kabar yang tak kunjung datang.
Penyelenggara job fair juga perlu menelusuri hasil kegiatan. Berapa peserta yang lolos seleksi lanjutan, menerima tawaran, dan benar-benar mulai bekerja? Ketiga tahap tersebut tidak bisa diperlakukan sebagai ukuran keberhasilan yang sama.
Status awal peserta juga penting dicatat. Sebagian orang mungkin sudah bekerja, tetapi datang untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Perpindahan kerja tentu dapat memberikan manfaat, tetapi perlu dibedakan dari penempatan orang yang sebelumnya menganggur. Tanpa pembedaan ini, angka penempatan berisiko dibaca seolah-olah seluruhnya merupakan pengurangan pengangguran.
Pelaporan hasil penempatan sebenarnya telah memiliki landasan regulasi. Permenaker Nomor 18 Tahun 2024 tentang Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri mengatur kewajiban penyelenggara job fair untuk menyampaikan laporan data penempatan hasil kegiatan. Peraturan tersebut juga melarang penyelenggara memungut biaya dari pencari kerja.
Agar evaluasi lebih bermakna, pelaporan itu dapat dilengkapi dengan tindak lanjut pada hari ke-30 dan ke-90 setelah acara. Pada tahap awal, penyelenggara memeriksa perkembangan seleksi dan penempatan. Selanjutnya, mereka menelusuri apakah peserta yang telah ditempatkan masih bekerja dan apa kendala yang dihadapi jika hubungan kerja berakhir.
Hasil evaluasi dapat dikonfirmasi kepada perusahaan dan peserta, kemudian diumumkan secara agregat dengan tetap menjaga kerahasiaan data pribadi. Peserta yang belum diketahui statusnya juga perlu dicatat secara terbuka sebagai keterbatasan laporan.
Dengan begitu, publik dapat membedakan antara jumlah lowongan yang diumumkan, proses rekrutmen yang berlangsung, dan pekerjaan yang benar-benar diperoleh.
Pengangguran Tidak Selesai di Ruang Pameran
Pendampingan bagi peserta yang belum memperoleh pekerjaan juga perlu menjadi bagian dari layanan setelah job fair. Jika hambatannya adalah keterampilan tertentu, mereka dapat dihubungkan dengan program pelatihan yang sesuai kebutuhan perusahaan. Jika persoalannya lokasi atau kondisi kerja, pendampingan dapat membantu mereka menemukan pilihan yang lebih realistis.
Kampus dan sekolah kejuruan dapat menggunakan informasi hasil seleksi untuk mengevaluasi kesesuaian pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja. Dinas tenaga kerja pun dapat memetakan posisi yang sulit terisi dan keterampilan yang paling banyak dicari perusahaan.
Dengan demikian, hasil bursa kerja tidak berhenti sebagai laporan kegiatan, tetapi menjadi bahan untuk memperbaiki layanan ketenagakerjaan berikutnya.
Meski begitu, layanan pencarian kerja bukan satu-satunya jawaban atas pengangguran. Dunia usaha tetap perlu menciptakan lapangan kerja. Perbaikan iklim usaha dan pertumbuhan kegiatan produktif harus berjalan beriringan dengan pengembangan keterampilan tenaga kerja.
Menambah agenda bursa kerja tidak dapat menggantikan kebutuhan akan pertumbuhan kesempatan kerja yang nyata.
Keberhasilan sebuah job fair juga tidak cukup dinilai dari jumlah orang yang memperoleh pekerjaan sesaat setelah acara. Keberlanjutan pekerjaan, penghasilan yang diterima, dan kesesuaian pekerjaan dengan kebutuhan pekerja turut menentukan manfaat yang dirasakan.
Bagi sebuah keluarga, memperoleh pekerjaan berarti memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membangun kepastian ekonomi. Itulah hasil yang semestinya menjadi perhatian utama ketika manfaat bursa kerja dievaluasi.
Pencari kerja datang membawa usaha, waktu, biaya, dan harapan. Tugas penyelenggara dan perusahaan bukan sekadar membuka akses pertemuan, melainkan memastikan proses rekrutmen jelas, hasilnya dapat ditelusuri, dan peserta memperoleh kepastian.
Sebab, kabar baik dari sebuah job fair seharusnya tidak berhenti pada ramainya pengunjung atau banyaknya lowongan. Kabar baik itu semestinya berlanjut hingga seseorang benar-benar mulai bekerja dan membawa penghasilan pulang.