Andalkan Otomatisasi Produksi, Kapasitas Pabrik Pertamina Lubricant Tembus Segini per Tahun

PT Pertamina Lubricants memperkuat daya saing di industri pelumas global, melalui penerapan teknologi otomatisasi produksi dan pengembangan produk berbasis rise

oleh Arief AszhariDiterbitkan 29 Oktober 2026, 17:03 WIB
Kapasitas Pabrik Pertamina Lubricant Tembus 535 Juta Liter per Tahun (ist)

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Lubricants memperkuat daya saing di industri pelumas global, melalui penerapan teknologi otomatisasi produksi dan pengembangan produk berbasis riset. Langkah ini dilakukan untuk menjaga konsistensi kualitas, meningkatkan efisiensi operasional, serta memenuhi kebutuhan pelumas untuk kendaraan dan peralatan industri yang semakin beragam.

Salah satu fasilitas andalannya adalah Production Unit Jakarta (PUJ), yang berlokasi di Jalan Jampea No. 2227, Koja, Jakarta Utara. Berdiri sejak 1957, pabrik dengan luas lebih dari 12 hektare ini menjadi fasilitas manufaktur pelumas terintegrasi yang diklaim terbesar di Asia Tenggara.

PUJ menggabungkan produksi pelumas, gemuk atau grease, serta viscosity modifier yang berfungsi meningkatkan performa pelumas.

Manager Production Unit Jakarta PT Pertamina Lubricants, Dody Arief Aditya mengatakan kualitas pelumas tidak hanya bergantung pada bahan baku, tetapi juga ketepatan formulasi dan proses pencampuran.

"Kualitas produk tidak hanya ditentukan oleh bahan baku, seperti base oil dan aditif, tetapi juga ketepatan formulasi serta konsistensi proses pencampuran atau blending," jelas Dody, saat kunjungan media ke PUJ, Rabu (28/10/2026).

Dari sisi kapasitas, PUJ mampu memproduksi pelumas hingga 270 juta liter per tahun. Fasilitas ini juga memiliki Grease Plant berkapasitas 8.000 metrik ton per tahun dan Viscosity Modifier Plant dengan kapasitas 14 juta liter per tahun.

Skala produksi tersebut mendukung pemenuhan kebutuhan pelumas kendaraan penumpang, kendaraan komersial, hingga aplikasi industri. Kapasitasnya bahkan diklaim setara dengan kebutuhan pelumas untuk lebih dari 67,5 juta mobil.

Untuk menjaga kualitas produk, Pertamina Lubricants menerapkan sejumlah teknologi otomatisasi. Salah satunya In-Line Blending (ILB), yang memungkinkan pencampuran bahan pelumas secara kontinu melalui jalur pipa.

Ada pula Simultaneous Metered Blending (SMB) untuk menghasilkan pelumas dengan kandungan logam rendah, serta Automatic Batch Blender yang mampu memproduksi 30 ton pelumas dalam setiap batch.

Proses pemindahan produk turut didukung Automatic Piggable Manifold, sistem perpipaan dan katup otomatis yang mengatur aliran dari tangki menuju mesin pengisian sekaligus membantu membersihkan jalur produksi.

Pengendalian mutu juga diperkuat melalui Lubricants Technology Center (LTC) yang mendukung penelitian dan pengembangan formulasi.

Penerapan Teknologi di Pertamina Lubricant

Kapasitas Pabrik Pertamina Lubricant Tembus 535 Juta Liter per Tahun (ist)

Senior Analyst PCO & Specialties Pertamina Lubricants, Mulianto menyebut penerapan teknologi berperan dalam meningkatkan produktivitas dan menekan potensi ketidaksesuaian produk.

PUJ telah mengantongi sertifikasi ISO 9001:2015 untuk manajemen mutu, ISO 14001:2015 untuk manajemen lingkungan, serta ISO/IEC 17025:2017 untuk kompetensi laboratorium pengujian dan kalibrasi.

Produk pelumasnya juga mengacu pada standar American Petroleum Institute (API), termasuk API-SN untuk mesin kendaraan penumpang dan API-CJ untuk mesin diesel komersial, serta mendapat pengakuan dari produsen kendaraan seperti Toyota, Daihatsu, dan Mercedes-Benz.

Selain memenuhi kebutuhan domestik, fasilitas PUJ turut menopang ekspansi ekspor Pertamina Lubricants ke 17 negara di Asia, Australia, Timur Tengah, hingga Afrika.

Pasar yang dilayani antara lain Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Filipina, Australia, Malaysia, Singapura, Yaman, Tanzania, Afrika Selatan, dan Nigeria.

Secara keseluruhan, Pertamina Lubricants mengoperasikan tiga unit produksi di Jakarta, Gresik, dan Cilacap, serta satu unit di Thailand, dengan kapasitas gabungan lebih dari 535 juta liter per tahun.

Ke depan, perusahaan perlu menjaga daya saing harga, konsistensi mutu, keandalan pasokan, serta kesesuaian produk dengan kebutuhan teknis dan regulasi di setiap negara tujuan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya