Liputan6.com, Madrid - Tabrakan dua kereta cepat di Spanyol selatan pada Rabu (28/10/2026) menewaskan sedikitnya 68 orang dan menyebabkan lebih dari 100 lainnya terluka. Kecelakaan tersebut menjadi tragedi perkeretaapian paling mematikan di negara itu dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Menurut laporan El Pais, kecelakaan terjadi di dekat Urda, Provinsi Toledo, sekitar 130 kilometer sebelah selatan Madrid. Dua kereta yang terlibat adalah kereta milik operator swasta Iryo dan kereta cepat milik perusahaan kereta api nasional Spanyol, RENFE.
Advertisement
Kedua kereta bergerak ke arah yang sama di jalur Madrid-Sevilla. Namun, kereta RENFE menabrak bagian belakang kereta Iryo yang berhenti di depannya akibat gangguan sistem keselamatan.
Berdasarkan keterangan Pemerintah Castilla-La Mancha, sebanyak 44 korban meninggal dunia merupakan penumpang kereta Iryo, sedangkan 24 lainnya berada di kereta RENFE.
Kecelakaan ini menjadi tragedi besar kedua di jaringan kereta cepat Spanyol sepanjang 2026. Sebelumnya, kecelakaan di Adamuz, Provinsi Cordoba, pada 18 Januari menewaskan 46 orang.
Dua kecelakaan besar dalam waktu sekitar sembilan bulan itu menimbulkan pertanyaan mengenai keselamatan jaringan kereta cepat Spanyol, yang selama ini dikenal sebagai salah satu yang paling modern di Eropa.
Lantas, bagaimana tabrakan kereta terjadi, mengapa sistem keselamatan gagal mencegahnya, dan apa dampaknya bagi Spanyol?
Kronologi Tabrakan Dua Kereta Cepat di Spanyol
Rangkaian peristiwa yang berujung pada kecelakaan bermula sekitar pukul 08.30 pagi waktu setempat.
Menurut laporan stasiun televisi publik Spanyol, RTVE, gangguan komputer menyebabkan sistem keselamatan otomatis yang disebut LZB berhenti berfungsi pada ruas jalur kereta cepat sepanjang sekitar 63 kilometer.
Sistem tersebut bertugas mengawasi perjalanan dan kecepatan kereta untuk membantu mencegah kecelakaan. Ketika mengalami gangguan, enam kereta yang sedang melintasi ruas tersebut berhenti secara otomatis.
Sekitar pukul 08.36, pusat kendali perjalanan kereta mengizinkan kereta RENFE kembali melaju, meskipun sistem keselamatan belum pulih.
Sementara itu, kereta Iryo yang berada di depannya tetap berhenti karena mengalami kesulitan mengaktifkan kembali sistem pengendali perjalanan.
Kereta RENFE kemudian menempuh jarak sekitar 25 kilometer sebelum menabrak bagian belakang kereta Iryo pada pukul 08.53.
Menteri Transportasi Spanyol Oscar Puente mengatakan kereta RENFE diduga melaju dengan kecepatan hingga 200 kilometer per jam. Namun, kecepatan pastinya saat tabrakan masih diselidiki.
Benturan keras menyebabkan sejumlah gerbong keluar dari rel dan terperosok ke lereng di samping jalur.
Menurut laporan El Pais, kedua kereta mengangkut total 544 penumpang, termasuk seorang bayi.
Ignacio Relano, salah seorang penumpang kereta RENFE, menceritakan detik-detik kecelakaan kepada stasiun televisi publik Spanyol, TVE.
Ia mengatakan kereta sempat melambat sebelum terjadi benturan hebat.
"Gerbong miring ke satu sisi, seperti hendak terguling. Hidung saya terbentur, semua barang beterbangan, koper, ponsel. Semuanya terguncang," ujarnya.
Mengapa Sistem Keselamatan Tidak Mencegah Tabrakan?
Penyelidikan awal mengarah pada keputusan pusat kendali yang mengizinkan kereta melanjutkan perjalanan tanpa mengikuti prosedur keselamatan ketika sistem otomatis mengalami gangguan.
Menurut laporan jaringan radio nasional Spanyol, Cadena SER, dalam kondisi tersebut kereta seharusnya hanya diperbolehkan bergerak dengan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam.
Pembatasan itu bertujuan memberikan waktu kepada masinis untuk menghentikan kereta jika menemukan hambatan di jalur yang dilalui.
Namun, rekaman komunikasi yang diperoleh Cadena SER menunjukkan petugas pusat kendali justru mengizinkan kereta RENFE melanjutkan perjalanan dengan kecepatan normal.
Rekaman tersebut juga mengungkap bahwa pusat kendali menerima laporan mengenai kondisi kereta Iryo yang masih berhenti.
Sekitar pukul 08.41, masinis Iryo melaporkan bahwa keretanya berhenti di dekat sinyal masuk stasiun Urda setelah kehilangan komunikasi dengan sistem keselamatan.
Petugas kemudian memintanya mematikan dan mengaktifkan kembali sistem tersebut agar perjalanan dapat dilanjutkan.
Menurut laporan Cadena SER, sekitar pukul 08.48, masinis Iryo kembali menghubungi pusat kendali karena keretanya tetap tidak dapat bergerak. Berdasarkan kronologi pemerintah Spanyol, laporan kedua itu disampaikan sekitar lima menit sebelum tabrakan terjadi.
Meski pusat kendali telah menerima informasi tersebut, dalam rekaman komunikasi yang dipublikasikan tidak terdengar instruksi kepada masinis RENFE untuk berhenti atau mengurangi kecepatan.
Menteri Puente menilai keputusan untuk melanjutkan perjalanan dalam kondisi tersebut sulit dijelaskan.
"Keputusan untuk melanjutkan perjalanan ketika sistem itu belum pulih berada di tangan pusat kendali. Pusat kendali mengambil keputusan tersebut dalam situasi yang, menurut pandangan kami, sulit dijelaskan," kata Puente.
Ia juga menyatakan bahwa masinis tidak dapat dipersalahkan atas instruksi yang diberikan pusat kendali.
Meski begitu, penyelidikan masih berlangsung. Pihak berwenang masih harus memastikan mengapa prosedur pembatasan kecepatan tidak diterapkan dan bagaimana informasi mengenai posisi kedua kereta ditangani.
Hasil penyelidikan akan menentukan apakah kecelakaan disebabkan oleh kesalahan pengambilan keputusan, kelemahan prosedur keselamatan, atau gabungan beberapa faktor.
Seberapa Aman Jaringan Kereta Cepat Spanyol?
Spanyol memiliki jaringan kereta cepat sepanjang sekitar 4.000 kilometer, menjadikannya yang terbesar kedua di dunia setelah China.
Sejak mulai beroperasi pada 1992, jaringan tersebut dikenal sebagai salah satu yang paling modern di Eropa. Namun, dua kecelakaan besar sepanjang 2026 kini menimbulkan kekhawatiran mengenai keselamatannya.
Kecelakaan di Adamuz pada Januari lalu merupakan insiden fatal pertama di jalur khusus kereta cepat Spanyol sejak jaringan tersebut dibuka.
Sementara itu, tragedi terbaru di Urda menjadi kecelakaan kereta api paling mematikan di Eropa sejak 2013, ketika sebuah kereta di Spanyol anjlok dari rel saat melewati tikungan dan menewaskan 80 orang.
Perhatian juga tertuju pada anggaran pemeliharaan infrastruktur perkeretaapian Spanyol.
Laporan Reuters yang mengutip data investasi perkeretaapian menyebutkan, sekitar 16 persen investasi jaringan kereta cepat Spanyol pada periode 2018-2022 dialokasikan untuk pemeliharaan, pembaruan, dan peningkatan infrastruktur.
Porsi tersebut menjadi perhatian karena Spanyol terus memperluas jaringan kereta cepatnya.
Namun, belum ada bukti bahwa anggaran pemeliharaan menjadi penyebab langsung tabrakan di Urda. Penyelidikan sementara lebih menyoroti gangguan sistem keselamatan dan keputusan operasional pusat kendali.
Dampak Kecelakaan Kereta bagi Pemerintah Spanyol
Kecelakaan terbaru ini juga berpotensi menimbulkan konsekuensi politik karena terjadi menjelang pemilu Spanyol pada 29 November 2026.
Pemerintahan Perdana Menteri Pedro Sanchez menghadapi tekanan untuk menjelaskan bagaimana standar keselamatan diterapkan pada jaringan kereta cepat nasional, terutama setelah dua kecelakaan besar terjadi dalam waktu kurang dari setahun.
Menurut laporan kantor berita Spanyol EFE, menteri transportasi menyatakan belum mempertimbangkan pengunduran diri setelah kecelakaan tersebut. Ia menegaskan bahwa prioritasnya saat ini adalah mengungkap penyebab tragedi.
Sementara itu, Sanchez mengunjungi lokasi kecelakaan dan berjanji akan mengusut penyebabnya secara menyeluruh.
Menurut laporan Associated Press, pemerintah Spanyol menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari, mulai 29 hingga 31 Oktober 2026, untuk menghormati para korban.
Di luar dampak politiknya, hasil penyelidikan akan menjadi dasar untuk memperbaiki prosedur keselamatan dan memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Bagi Spanyol, tragedi ini menjadi ujian besar untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap jaringan kereta cepat yang selama puluhan tahun menjadi salah satu kebanggaan sistem transportasi negara tersebut.