Liputan6.com, Jakarta - PT Taspen (Persero) menata lagi porsi investasi dari dana yang dikelolanya. Investasi pada saham dikurangi seiring dinamika yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Corportae Secretary Taspen, Henra menyampaikan, penempatan investasi saham saat ini dilakukan dengan mengoptimalkan alokasi pada saham-saham bernilai intrinsik tinggi (undervalued) dengan fundamental yang solid, likuiditas tinggi, dan prospek pertumbuhan positif.
Advertisement
"Pendekatan ini dikombinasikan dengan diversifikasi selektif pada sektor yang adaptif terhadap dinamika dan sentimen makroekonomi," kata Henra kepada media di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026).
Dia menguraikan, porsi saham yang sebelumnya jadi mencakup sekitar 10% investasi Taspen, diubah ke sekitar 3% saja, dan lainnya ke reksadana. Sebagian besar alokasi investasi menyasar instrumen fixed income seperti obligasi.
"Per September (2026) ini kita proporsinya itu hampir 80% itu di fixed income, berbagai dari obligasi dan deposito sebagai likuiditas kita untuk membayarkan pensiun ataupun klaim kepada peserta," ucap dia.
Henra menegaskan, sebagai BUMN pengelola dana tabungan pensiun aparatur sipil negara (ASN), Taspen tak bisa sembarangan melakukan investasi. Ada pedoman yang disusun Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang menentukan syarat pengembangan dana kelolaan Taspen.
Pengalihan investasi juga mengurangi risiko dampak dari dinamika IHSG di pasar modal. Diketahui, beberapa waktu lalu IHSG sempat jatuh ke level 5.185, meski tercatat menguat di posisi 5.282 saat penutupan Rabu, 28 Oktober 2026.
Laba Taspen
Sebelumnya, PT Taspen (Persero) mencatat laba tahun berjalan sebesar Rp 1,04 triliun pada 2025, turun dibandingkan Rp 1,24 triliun pada tahun sebelumnya. Perseroan menjelaskan penurunan tersebut bukan disebabkan melemahnya kinerja investasi, melainkan karena meningkatnya pembentukan pencadangan penurunan nilai (impairment) sebagai langkah konservatif dalam pengelolaan portofolio investasi.
Antisipasi Potensi Risiko
Direktur Utama Taspen Rony Hanityo Aprianto mengatakan, pencadangan tersebut sengaja dilakukan untuk mengantisipasi potensi risiko pada sejumlah aset investasi yang dimiliki perusahaan.
"Sebagai bentuk kehati-hatian dan konservatif kita dalam mengelola Taspen, ada satu pos yang mengurangi laba cukup tinggi yaitu pos impairment," kata Rony dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Berdasarkan paparan perusahaan, nilai impairment Taspen pada 2025 mencapai Rp 1,82 triliun. Angka ini melonjak tajam dibandingkan 2024 yang sebesar Rp 288 miliar.
Rony menjelaskan, pencadangan tersebut antara lain dilakukan terhadap sejumlah obligasi BUMN karya yang masih menghadapi tantangan. Meski demikian, impairment bukan merupakan kerugian permanen karena dapat dipulihkan apabila kondisi instrumen investasi membaik.
Hasil Investasi
Rony menjelaskan, cadangan penurunan nilai tersebut dapat dibalik (reverse) apabila obligasi atau surat utang yang menjadi objek pencadangan mengalami perbaikan kondisi, direstrukturisasi, memperoleh peningkatan peringkat, atau dibayar saat jatuh tempo.
"Kalau impairment ini nantinya obligasi tersebut jatuh tempo atau surat utang tersebut jatuh tempo, itu bisa kita reverse atau kita balikin," ujarnya.
Menurut dia, tanpa pembentukan impairment, laba Taspen pada 2025 sebenarnya berpotensi mencapai sekitar Rp 2 triliun. Namun, perusahaan memilih membentuk cadangan sebagai bentuk kehati-hatian dalam penyusunan laporan keuangan.
Di sisi lain, hasil investasi Taspen justru menunjukkan peningkatan. Pada 2025, hasil investasi mencapai Rp 9,87 triliun, naik dari Rp 9,01 triliun pada 2024. Sementara itu, pendapatan iuran dan premi tercatat sebesar Rp 7,74 triliun, turun dibandingkan Rp 8,69 triliun pada tahun sebelumnya.