Soal Impor 30 Juta Barel Minyak UEA, Bahlil: Masih Penjajakan

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meluruskan klaim SKK Migas terkait pasokan 30 juta barel minyak gratis dari UEA, menegaskan prosesnya masih tahap penjajakan.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 28 Oktober 2026, 18:15 WIB
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi / Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Dok Kementerian ESDM)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengklarifikasi bahwa rencana pasokan 30 juta barel minyak mentah dari Uni Emirat Arab (UEA) masih sebatas potensi dan belum mencapai kesepakatan final.

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah saat ini baru pada tahap penjajakan awal, sehingga realisasi impor minyak tersebut belum bisa dipastikan. 

"Itu masih potensi ya, belum ada keputusan. Semuanya masih sebatas penjajakan,” ujar Bahlil dalam Forum Eksekutif Hulu Migas (FOREK) 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Pernyataan ini meluruskan kabar yang disampaikan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto sehari sebelumnya. Djoko sempat mengungkap bahwa UEA akan mengirimkan minyak mentah ke Indonesia tanpa biaya tambahan, termasuk bebas ongkos kirim (free freight).

Informasi tersebut disampaikan Djoko usai mendampingi Bahlil dalam pertemuan bersama Duta Besar UEA dan Presiden Direktur Mubadala Energy.

Meski belum merinci skema pengirimannya, Djoko menyebut volume minyak mentah yang bakal dikirim mencapai 30 juta barel.

"Duta Besar Abu Dhabi menyampaikan bahwa pemerintah UEA akan segera mengirim minyak hingga 30 juta barel tanpa biaya working capital, termasuk gratis kapalnya. Ini tentu kabar yang sangat bagus buat kita,” kata Djoko di Jakarta,Selasa (27/10/2026).

Selain membahas potensi pasokan minyak, pertemuan tersebut juga mendiskusikan keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID) untuk proyek gas Andaman di Aceh.

"Salah satu yang dilaporkan mengenai FID untuk proyek pengembangan gas di Andaman, Aceh," pungkas Djoko.

Pertimbangan Impor Minyak Mentah

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan Jakarta.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan pertimbangan pemerintah dalam mengimpor minyak mentah dari luar negeri. Menurutnya, harga jual yang lebih murah menjadi salah satu aspek pertimbangan utama.

Bahlil menegaskan tidak condong ke negara produsen minyak tertentu saja. Selain ketersediaan pasokan, aspek keekonomian menjadi perhatian serius pemerintah.

“Pemerintah Indonesia akan selalu berpikir dan bertindak hati-hati dengan memprioritaskan asas keekonomian. Artinya, ketersediaan barang itu penting, tetapi nilainya juga harus ekonomis,” kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Jumat (18/9/2026).

Indonesia masih perlu mengimpor minyak mentah sekitar 1 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional yang mencapai 1,6 juta barel per hari. Seiring besarnya kebutuhan tersebut, Bahlil tidak ingin impor minyak justru menambah beban APBN.

“Tujuannya agar tidak membebani APBN atau masyarakat atas minyak yang kita beli. Kita cari yang terbaik dan paling murah, itu yang akan kita beli,” jelasnya.

Bahlil juga memastikan kecukupan pasokan minyak mentah nasional aman, termasuk potensi pemenuhan impor dari Rusia. “Ketersediaan pasokan crude kita insyaallah aman, termasuk dari Rusia. Mengenai hal teknis terkait Rusia, nanti akan saya jelaskan pada waktu yang tepat,” tuturnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya