Pemilu Israel, Pemimpin Oposisi Klaim Karier Politik Netanyahu Telah Berakhir

Pemimpin oposisi Israel Gadi Eisenkot memperingatkan Netanyahu agar tidak menggunakan keamanan negara untuk kepentingan politiknya pasca Pemilu.

oleh Septian DenyDiterbitkan 28 Oktober 2026, 13:30 WIB
Bayangan sejumlah orang terpantul pada poster kampanye Gadi Eisenkot, pemimpin Partai Yashar yang berhaluan tengah, menjelang pemilihan umum Israel di Ramat Gan, Minggu (11/10/2026). (Dok. AP Photo/Oded Balilty)

Liputan6.com, Tel Aviv - Pemimpin oposisi Israel Gadi Eisenkot mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mundur dari dunia politik setelah hasil jajak pendapat pemilu menunjukkan persaingan ketat antara kedua kubu.

Dikutip dari Anadolu, Rabu (28/10/2026), Eisenkot menilai para pemilih menginginkan perubahan kepemimpinan dan memperingatkan Netanyahu agar tidak memanfaatkan isu keamanan Israel demi kepentingan politik.

Berbicara di hadapan para pendukungnya di markas Partai Yashar di Tel Aviv pada Rabu dini hari, Eisenkot mengatakan warga Israel telah memberikan suara untuk perubahan. Ia berjanji bekerja sama dengan para mitranya untuk membentuk pemerintahan yang mewakili seluruh lapisan masyarakat.

“Merupakan kesalahan jika menggelar pemilu lagi, dan merupakan kewajiban saya untuk melakukan segala yang mungkin demi mewujudkan kehendak rakyat,” kata Eisenkot.

Meski mengakui hasil akhir pemilu belum diumumkan, Eisenkot mengatakan Netanyahu kini menghadapi mayoritas Zionis yang lebih besar dan lebih kuat, yang menentang kelanjutan kekuasaannya.

Ia juga menyampaikan peringatan langsung kepada Netanyahu agar tidak menjadikan persoalan keamanan sebagai alat untuk mempertahankan kepentingan politik.

“Jangan berani menggunakan keamanan Israel untuk kepentingan politik Anda,” tegas Eisenkot.

Eisenkot Ingatkan Pejabat Keamanan

Eisenkot turut meminta para pimpinan lembaga keamanan Israel mengingat bahwa Netanyahu saat ini memimpin pemerintahan sementara. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab mereka adalah melayani masyarakat.

“Ingatlah bahwa Anda hanya melayani kepentingan warga Israel,” ujarnya.

Eisenkot juga mendesak para pejabat keamanan untuk tetap teguh menghadapi upaya tekanan dan menyatakan dukungannya kepada mereka.

Dalam pidatonya, Eisenkot menyatakan era perpecahan dan hasutan telah berakhir. Ia berjanji membentuk pemerintahan Zionis yang berfokus pada kewajiban dinas militer.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika hasil exit poll terbaru dari Channel 13 menunjukkan blok Netanyahu dan blok oposisi pimpinan Eisenkot sama-sama diproyeksikan memperoleh 51 kursi di Knesset, parlemen Israel yang memiliki 120 kursi. Sementara itu, partai-partai Arab diproyeksikan meraih 18 kursi.

Sebelumnya, Channel 12 memproyeksikan blok Eisenkot memperoleh 52 kursi, unggul tipis dari blok Netanyahu yang diperkirakan meraih 50 kursi. Partai-partai Arab juga diproyeksikan mendapatkan 18 kursi.

Kedua proyeksi tersebut menunjukkan tidak ada blok yang mampu mencapai 61 kursi, jumlah minimum untuk memperoleh mayoritas di parlemen.

 

Eisenkot Diproyeksikan Berpeluang Membentuk Pemerintahan

Channel 12 juga melaporkan bahwa Presiden Israel Isaac Herzog diperkirakan akan menugaskan Eisenkot untuk membentuk pemerintahan berikutnya.

Namun, keputusan tersebut akan bergantung pada hasil resmi pemilu serta rekomendasi partai-partai yang memiliki kursi di parlemen.

Menurut Komite Pemilihan Umum Pusat Israel, tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen, tertinggi sejak 1999. Angka tersebut meningkat 7,1 poin persentase dibandingkan pemilu 2022.

Penghitungan suara dimulai setelah tempat pemungutan suara ditutup pada pukul 22.00 waktu setempat atau pukul 20.00 GMT pada Selasa.

Meski hasil exit poll memberikan gambaran awal mengenai persaingan antarkubu, angka tersebut masih berupa proyeksi dan bukan hasil resmi pemilu.

Hasil resmi pemilu Israel diperkirakan diumumkan pada 4 November.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya