Liputan6.com, Jakarta - Demonstrasi mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat sipil berpotensi menambah tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek. Aksi unjuk rasa yang berlangsung di tengah ketidakpastian pasar dikhawatirkan memengaruhi sentimen investor, terutama jika memicu kekhawatiran terhadap stabilitas politik dan kepastian kebijakan pemerintah.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengatakan besarnya dampak demonstrasi terhadap pasar saham akan bergantung pada skala aksi, durasi, serta respons pemerintah terhadap tuntutan demonstran.
Advertisement
"Namun, besarnya dampak akan bergantung pada skala aksi, durasi, dan respons pemerintah. Aksi demo juga tidak otomatis memicu aksi jual asing," kata Elandry kepada Liputan6.com, Rabu (28/10/2026).
Menurut dia, demonstrasi tidak serta-merta memicu aksi jual oleh investor asing. Keputusan investor global untuk mempertahankan atau melepas aset di pasar saham Indonesia biasanya dipengaruhi oleh kombinasi sejumlah faktor, baik dari dalam maupun luar negeri. Investor juga mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, ketidakpastian terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI), hingga kondisi ekonomi global yang turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan.
"Investor global biasanya mempertimbangkan kombinasi faktor, termasuk stabilitas politik, pelemahan rupiah, ketidakpastian MSCI, serta kondisi ekonomi global. Jika aksi berlangsung kondusif dan tidak mengganggu aktivitas ekonomi, dampaknya berpotensi lebih terbatas," jelasnya.
Investor Disarankan Wait and See
Di tengah meningkatnya volatilitas pasar saham, Elandry menyarankan investor untuk tetap selektif dan tidak terburu-buru mengambil keputusan berdasarkan sentimen sesaat. Strategi wait and see atau menunggu perkembangan pasar dapat menjadi pilihan ketika volatilitas meningkat dan arah pergerakan IHSG belum menunjukkan kepastian.
Namun, bagi investor dengan horizon jangka menengah-panjang, koreksi IHSG bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat, valuasi menarik, dan likuiditas yang baik.
"Tidak perlu terburu-buru masuk sekaligus, tetap perhatikan diversifikasi dan batas risiko. Kuncinya adalah membedakan tekanan sentimen jangka pendek dengan perubahan fundamental perusahaan, sambil mencermati perkembangan aksi demonstrasi dan respons pemerintah," pungkasnya.
IHSG Sesi Pertama
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meninggalkan posisi 5.200 pada penutupan perdagangan saham sesi pertama, Rabu (28/10/2026). Koreksi IHSG hari ini di tengah dolar Amerika Serikat (AS) makin perkasa terhadap rupiah dan seluruh sektor saham tertekan.
Mengutip data RTI, IHSG sesi pertama ditutup turun 1,65% menjadi 5.179,06. Indeks saham LQ45 merosot 1,33% menjadi 525,91. Seluruh indeks saham acuan tertekan.
Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 5.256,38 dan level terendah 5.167,33. Sebanyak 553 saham melemah sehingga menekan IHSG. 131 saham menguat dan 104 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan saham 921.678 kali dengan volume perdagangan saham 16,6 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 7,4 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 18.170.
Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham infrastruktur turun 3,74%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi melemah 3,18%, sektor saham basic susut 2,81%, sektor saham industri merosot 3,3%. Lalu sektor saham consumer nonsiklikal melemah 2,11%, sektor saham consumer siklikal tergelincir 1,91%, sektor saham kesehatan turun 0,20%, dan sektor saham keuangan merosot 0,41%. Lalu sektor saham properti turun 1,42%, sektor saham teknologi melemah 0,68%, sektor saham transportasi melemah 1,81%.