Liputan6.com, Jakarta - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto menargetkan keputusan investasi akhir (final investment decision/FID) proyek LNG Abadi Masela dapat diketok pada awal 2027. Target ini menyusul rampungnya sejumlah tahapan krusial menuju fase produksi megaproyek tersebut.
Kepala SKK Migas, Djoko, mengapresiasi percepatan pada tahapan Front-End Engineering Design (FEED) proyek LNG Abadi Masela yang berhasil diselesaikan tiga bulan lebih cepat oleh operatornya, INPEX Masela, Ltd.
Advertisement
"Alhamdulillah akhirnya lebih cepat tiga bulan, Oktober ini selesai. Tepuk tangan buat INPEX. Semoga FID-nya bisa segera menyusul akhir tahun ini, atau paling lambat Januari 2027," ujar Djoko dalam acara FEED Completion Ceremonydi Ritz-Carlton, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Djoko menilai penyelesaian FEED menjadi pijakan penting setelah proyek ini diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu. Tahap FEED sendiri mencakup penyusunan dasar desain, spesifikasi teknis, hingga pemetaan kebutuhan proyek. "Kami berharap penyelesaian seluruh pekerjaan FEED ini menjadi fondasi yang kokoh untuk mempercepat langkah menuju FID, lalu berlanjut ke tahap konstruksi skala besar," tambahnya.
Proses perancangan teknis ini melibatkan sejumlah perusahaan global dan nasional, seperti Saipem, Tripatra, McDermott,Technip, JGC, TEN, KBR Indonesia, PT Adhi Karya, Samsung E&A, hingga Worley.
Sebagai gambaran, Lapangan Abadi di Blok Masela terletak di Laut Arafura, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku—sekitar 750 kilometer di selatan Kota Ambon. Proyek ini diproyeksikan mampu menghasilkan 9,5 juta ton gas alam cair (LNG) per tahun.
Investasi Rp 340 Triliun dan Komitmen 60% Gas Domestik
Pemerintah memacu penggarapan megaproyek LNG Abadi Blok Masela dengan nilai investasi mencapai US$ 20,9 miliar atau sekitar Rp 340 triliun. Fasilitas ini dirancang tidak hanya untuk memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga lokal.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyampaikan bahwa perhatian publik terhadap nilai manfaat proyek ini merupakan hal yang wajar.
"Keberhasilan Proyek Strategis Nasional (PSN) sesungguhnya tidak hanya diukur dari besaran nilai investasinya, tetapi sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal," terang Dwi Anggia melalui keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).
Sejak diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 16 Juli 2026, proyek ini ditargetkan menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun, gas pipa sebesar 150 juta kaki kubik per hari (MMCFD), serta kondensat sebanyak 35.000 barel per hari.
Pemerintah mematok minimal 60% dari total produksi LNG Abadi Blok Masela wajib dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri. Pasokan gas tersebut disiapkan untuk menopang berbagai industri strategis nasional, mulai dari sektor pupuk hingga pembangkit listrik.
Dukung Transisi Energi Bersih
Tak sekadar mengejar target produksi migas, megaproyek Blok Masela juga mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Teknologi ini berfungsi menangkap dan menyimpan emisi karbon yang dihasilkan selama proses produksi.
Integrasi teknologi CCS sejak awal fase produksi ini menjadikan Blok Masela sebagai salah satu pionir pengembangan energi rendah emisi di Indonesia.
"Artinya, proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menjadi wujud nyata komitmen Indonesia menuju transisi energi bersih dan berkelanjutan," tutur Dwi Anggia.