Liputan6.com, Seoul - Pengunjung sebuah pos pengamatan di Korea Selatan yang menghadap langsung ke wilayah Korea Utara mengaku khawatir setelah melihat sejumlah senjata artileri dengan laras meriam mengarah ke selatan.
Hubungan Korea Utara dan Korea Selatan kembali memanas sejak September, setelah tiga tentara Korea Selatan terluka akibat ledakan ranjau di Zona Demiliterisasi (DMZ), kawasan perbatasan yang memisahkan kedua negara. Sejak insiden tersebut, kedua pihak saling melontarkan kecaman dan meningkatkan kesiagaan militer di sepanjang perbatasan.
Advertisement
Korea Selatan menuntut permintaan maaf dari Korea Utara atas insiden itu. Sebaliknya, Pyongyang menuduh Seoul mengarang kejadian tersebut.
Pada Kamis pekan lalu, Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara yang memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan, mengatakan bahwa Pyongyang akan menyiagakan pengeras suara di sepanjang perbatasan dalam beberapa hari untuk menyiarkan propaganda anti-Korea Selatan. Ia juga menyebut sejumlah langkah balasan baru telah disiagakan, tanpa menjelaskan lebih lanjut bentuknya.
Pada Jumat, media Korea Selatan memotret sebuah kendaraan lapis baja yang terlihat jelas di dekat perbatasan. Menurut seorang saksi mata Reuters, jumlah kendaraan tersebut bertambah menjadi tiga unit pada Senin (26/10), dengan laras meriam semuanya mengarah ke Korea Selatan.
"Sebelumnya, saya hanya melihat di televisi bahwa Korea Utara telah mengerahkan artileri kaliber 122 mm. Namun, setelah melihat langsung kawasan ini, saya semakin menyadari betapa nyata ancaman tersebut," kata Jang Gil-seong (83), veteran Perang Vietnam, saat ditemui di luar Pos Pengamatan Aegibong.
Pos pengamatan tersebut menghadap wilayah Kaephung di Korea Utara yang berjarak sekitar 1,4 kilometer.
"Saya sangat khawatir memikirkan seberapa besar persiapan yang harus dilakukan Korea Selatan untuk menghadapi ancaman ini ke depannya," ujar Jang.
Meski ketegangan antara kedua negara kerap meningkat, kawasan DMZ tetap menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Korea Utara dan Korea Selatan sendiri secara teknis masih berada dalam keadaan perang.
Hannah Robbins (28), wisatawan asal Kanada, mengatakan bahwa dirinya dan rombongan baru mengetahui keberadaan artileri tersebut setelah mendapat penjelasan dari pemandu wisata di pos pengamatan.
"Tentu saja kami agak takut," kata Robbins.
"Pemandu wisata kami bilang, 'Jangan khawatir, mereka tidak akan menembak.' Namun, tetap saja kami merasa waswas sekarang," lanjutnya.
Para analis mengidentifikasi persenjataan yang terlihat di perbatasan itu sebagai M-1981, yakni howitzer swagerak kaliber 122 mm. Senjata tersebut merupakan jenis artileri yang dapat bergerak menggunakan mesin sendiri dan tergolong sistem persenjataan lama Korea Utara yang diperkirakan mulai digunakan pada akhir 1970-an.
Menurut Yang Uk, pakar militer dari Asan Institute for Policy Studies di Seoul, artileri tersebut memiliki jangkauan tembak maksimum sekitar 24 kilometer. Dengan kemampuan itu, sejumlah wilayah Korea Selatan, termasuk kota Gimpo yang menjadi lokasi Pos Pengamatan Aegibong, berada dalam jangkauan tembaknya.
Meski demikian, daya tembak artileri tersebut masih berada di bawah sistem persenjataan generasi terbaru.
"Saya menilai pengerahan ini lebih merupakan aksi unjuk kekuatan militer daripada peningkatan kemampuan tempur yang berarti," kata Yang.
"Penempatannya di lokasi yang mudah terlihat juga menunjukkan bahwa senjata tersebut memang sengaja dikerahkan agar keberadaannya diketahui," tambahnya.
Militer Korea Selatan menyatakan pula bahwa artileri yang terlihat di perbatasan merupakan sistem persenjataan lama.
"Meskipun Korea Utara menyebut adanya sistem persenjataan baru dalam sejumlah pernyataan terakhirnya, kami menilai senjata ini tidak termasuk dalam kategori tersebut," kata Juru Bicara Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, Jang Do-young, dalam konferensi pers pada Selasa (27/10).