Liputan6.com, Jakarta - Harry Kane membuktikan bahwa penolakan pada masa muda tidak menentukan masa depan seorang pesepak bola. Penyerang Bayern Munchen itu kini meraih Ballon d'Or 2026 setelah melewati perjalanan karier yang penuh tantangan.
Kane menjadi pemain Inggris pertama yang memenangkan penghargaan tersebut sejak Michael Owen pada 2001. Prestasi ini mengukuhkan namanya di antara pemain terbaik dalam sejarah sepak bola Inggris.
Advertisement
Namun, perjalanan Kane menuju puncak tidak selalu berjalan mulus. Saat berusia delapan tahun, ia pernah bergabung dengan akademi Arsenal sebelum dilepas hanya setahun kemudian.
Arsenal menilai Kane belum memiliki profil fisik ideal untuk menjadi pemain elite. Keputusan tersebut kini menjadi bagian menarik dari kisah sukses sang striker yang berhasil membuktikan kualitasnya di level tertinggi.
Arsenal Pernah Melepas Harry Kane karena Fisiknya
Kane memulai perjalanan sepak bolanya bersama klub lokal Ridgeway Rovers sebelum direkrut Arsenal saat berusia delapan tahun. Namun, kebersamaannya dengan klub London Utara itu hanya berlangsung selama 12 bulan.
Mantan direktur akademi Arsenal, Liam Brady, mengungkapkan alasan di balik keputusan tersebut. Kane dinilai terlalu gemuk dan kurang atletis untuk memenuhi standar pemain yang mereka harapkan.
"Dia agak 'chubby' (gemuk) dan tidak terlalu atletis, tetapi kami memang melakukan kesalahan," kata Liam Brady.
Penilaian Arsenal tersebut tidak menghentikan Kane untuk mengejar mimpinya. Ia kemudian bergabung dengan Tottenham Hotspur dan menjalani masa peminjaman ke Leyton Orient, Millwall, Norwich City, serta Leicester City sebelum mendapat kesempatan lebih besar.
Harry Kane Bersinar Bersama Tottenham hingga Raih Ballon d'Or
Kane mulai menunjukkan kualitasnya bersama Tottenham pada musim 2014/2015. Ia bahkan meraih penghargaan PFA Young Player of the Year sebagai pengakuan atas penampilan impresifnya.
Kariernya terus menanjak hingga menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Tottenham dengan koleksi 280 gol. Pada 2023, Kane pindah ke Bayern Munchen untuk melanjutkan kiprahnya di sepak bola Jerman.
Puncak perjalanan individu Kane datang melalui kemenangan Ballon d'Or 2026 saat berusia 33 tahun. Ia menjadi pemain Inggris kelima yang meraih penghargaan tersebut setelah Stanley Matthews, Bobby Charlton, Kevin Keegan, dan Michael Owen.
Keberhasilan itu sekaligus mengakhiri penantian panjang Inggris sejak 2001. Kisah Kane menjadi bukti bahwa penilaian pada usia muda tidak selalu mencerminkan potensi sebenarnya, terutama ketika bakat diiringi kerja keras dan kesempatan untuk berkembang.
Sumber: Planet Football