Liputan6.com, Jakarta - PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat penurunan pendapatan dan laba bersih hingga September 2026. Hal itu dipicu penurunan kinerja pada segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal dan metalurgi.
PT United Tractors Tbk meraup pendapatan bersih Rp 90,33 triliun hingga September 2026. Pendapatan turun 10 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp 100,46 triliun.
Advertisement
Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk, Ari Setiyawan menuturkan, pendapatan itu turun seiring penurunan kinerja pada segmen Alat Berat dan Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi sebagai dampak alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026 yang lebih rendah dan penjualan emas yang lebih rendah di PT Agincourt Resources.
“Hal ini sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor Kontraktor Penambangan yang terutama didorong oleh penguatan kurs dolar Amerika Serikat,” ujar dia, mengutip keterangan resmi, ditulis Selasa, (27/10/2026).
Seirin penurunan pendapatan itu, laba bersih Perseroan merosot 61% menjadi Rp 4,46 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 11,47 triliun.
Laba bersih Perseroan tidak termasuk non-recurring items turun 31% menjadi Rp 7,9 triliun, terutama karena penjualan emas yang lebih rendah dari PT Agincourt Resources dan penurunan pendapatan yang sebagian besar mencerminkan dampak dari alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.
“Penjualan emas yang lebih rendah dari Tambang Emas Martabe disebabkan oleh penghentian sementara operasional tambang tersebut. Tambang Emas Martabe telah kembali melanjutkan operasinya pada periode pelaporan triwulan kedua,” ujar Ari.
Hingga kuartal ketiga tahun 2026, Perseroan mencatat non-recurring items senilai Rp3,5 triliun, terutama terdiri dari (i) penurunan nilai atas Supreme Geothermal Energy dan (ii) pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan, sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.
Per 30 September 2026, Perseroan mencatat utang bersih sebesar Rp 4,6 triliun, dengan rasio gearing sebesar 4,2%, dibandingkan dengan posisi kas bersih sebesar Rp 7,7 triliun per 31 Desember 2025.
“Perubahan ini utamanya mencerminkan akuisisi perusahaan pertambangan emas dan program pembelian kembali saham,” kata dia.
Alat Berat
Segmen usaha Alat Berat mencatat penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 17% menjadi 3.026 unit terutama disebabkan oleh penurunan penjualan big machine di sektor pertambangan sebesar 48% menjadi 481 unit, dampak dari alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah.
Pendapatan Perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat meningkat 2% menjadi Rp 8,5 triliun dari Rp 8,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Total pendapatan bersih dari segmen Alat Berat turun 19% menjadi Rp23,6 triliun.
Untuk memperkuat layanan purna jual dan rantai pasok komoditas, Perseroan juga memiliki bisnis pendukung melalui anak usahanya yang menyediakan layanan engineering, manufaktur komponen dan attachment alat berat, serta menawarkan layanan logistik maritim, pembuatan dan pemeliharaan kapal.
Solusi Pertambangan
Segmen Usaha Kontraktor Penambangan
Segmen usaha Kontraktor Penambangan dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan anak usahanya PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining). PAMA dan KPP Mining menyediakan jasa pertambangan untuk pemilik konsesi tambang, dengan membantu mereka dalam pekerjaan pemindahan tanah dan produksi batu bara serta mineral lainnya.
Hingga kuartal ketiga 2026, PAMA dan KPP Mining mencatatkan volume pekerjaan pemindahan tanah yang lebih rendah sebesar 7% menjadi 766 juta bcm dan volume produksi batu bara untuk para kliennya turun 3% menjadi 106 juta ton dengan rata-rata stripping ratio sebesar 7,2x, mengikuti penyesuaian target produksi klien sesuai dengan RKAB yang telah disetujui.
Sejalan dengan peluang bisnis yang berkembang di sektor mineral selain batu bara, PAMA dan KPP Mining memperkuat ekspansinya ke sektor emas dan nikel. Langkah strategis ini merupakan bagian dari komitmen dalam membangun portofolio bisnis yang berkelanjutan serta memperkokoh fondasi pertumbuhan jangka panjang PAMA dan KPP Mining.
Total pendapatan bersih dari segmen Kontraktor Penambangan naik 11% menjadi Rp 44,5 triliun yang terutama disebabkan karena penguatan kurs dolar Amerika Serikat.
Segmen Usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi
Segmen usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi dijalankan oleh PT Tuah Turangga Agung (“Turangga Resources”).
Hingga kuartal ketiga 2026, tambang batu bara Turangga Resources mencatatkan volume penjualan batu bara sebesar 7,1 juta ton (termasuk 2,1 juta ton batu bara metalurgi), turun 23% dari periode yang sama di tahun 2025.
Pendapatan segmen usaha Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi turun sebesar 15% menjadi Rp 15,9 triliun, sejalan dengan penurunan volume penjualan batu bara.
Segmen Usaha Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya
Segmen usaha Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 53% menjadi Rp 4,9 triliun, terutama disebabkan oleh penurunan penjualan emas sebesar 70%.
Pertambangan Emas
Usaha pertambangan emas Perseroan dioperasikan oleh PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya, yang mencatatkan total penjualan setara emas sebesar 54 ribu ons sampai dengan kuartal ketiga 2026 dibandingkan tahun lalu sebesar 178 ribu ons.
Bisnis Nikel
PT Stargate Pasific Resources mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 1.157 ribu wet metric ton (wmt) hingga kuartal ketiga 2026, yang terdiri dari 390 ribu wmt saprolit dan 767 ribu wmt limonit.
Aksi Korporasi
Pada 30 September 2026, UT menyelesaikan program pembelian kembali saham tahap keempat yang dimulai pada 1 Juli 2026 dengan 58 juta lembar saham yang dibeli kembali. Selanjutnya, UT mengumumkan tahap kelima pembelian kembali saham dengan nilai maksimal sebesar Rp 2 triliun dari 1 Oktober-31 Desember 2026.
Secara akumulatif, UT telah melakukan pembelian kembali saham sebanyak 297 juta saham dengan total nilai sekitar Rp 8,5 triliun, sejak periode Juli 2022 hingga Januari 2023 dan Oktober 2025 hingga September 2026.
Ari menuturkan, program tersebut dijalankan dengan mengikuti peraturan Otoritas Jasa Keuangan terkait pembelian kembali saham dalam situasi pasar berfluktuasi.
“Program ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek Perseroan dan kemampuannya untuk menghasilkan arus kas yang berkelanjutan, juga bertujuan untuk mendukung Pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar modal,” ujar dia.