Liputan6.com, Jakarta - Akses terhadap hasil penelitian menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan usaha berbasis tanaman herbal. Berbagai bahan alam yang digunakan dalam jamu telah diteliti dan hasilnya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Namun, informasi tersebut perlu dihimpun dan disajikan secara lebih mudah diakses agar manfaatnya dapat menjangkau masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pembahasan tersebut menjadi salah satu topik yang disampaikan Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, saat menjadi pembicara dalam 2nd Ikafari International Conference (IIC) dan 4th International Conference on Health, Technology, and Life Sciences (ICOHELICS) 2026. Konferensi yang diselenggarakan Ikatan Farmakologi Indonesia (Ikafari) ini berlangsung pada 22–23 Oktober 2026 di Harris Hotel & Convention Solo, Jawa Tengah, dan dapat diikuti secara virtual melalui Zoom.
Advertisement
Dalam forum tersebut, Irwan menjelaskan upaya Sido Muncul membuka akses terhadap dokumentasi penelitian 66 bahan herbal melalui portal digital Sido HerbalPedia. Platform yang dapat diakses secara gratis melalui https://sidoherbalpedia.com ini diharapkan membantu masyarakat memperoleh referensi ilmiah sekaligus menjadi sumber informasi awal bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan produk berbasis herbal.
Irwan menjelaskan, pengembangan Sido HerbalPedia tidak selalu harus dimulai dengan penelitian baru. Berbagai hasil penelitian mengenai bahan jamu sebenarnya telah tersedia dalam jurnal ilmiah dan literatur yang dapat dipertanggungjawabkan. Tantangannya adalah menghimpun referensi tersebut dan menyajikannya agar lebih mudah dipelajari masyarakat.
"Bahan-bahan jamu itu kan semua sudah ada penelitiannya dan sudah diposting di jurnal-jurnal, ada literatur-literaturnya yang valid. Nah, saya tinggal buat tim," kata Irwan saat menjadi pembicara di Harris Hotel & Convention Solo, Jumat (23/10/2026).
Tim penyusun melibatkan Sido Muncul, Universitas Sanata Dharma, dan Universitas Negeri Semarang (UNNES). Mereka menggunakan pendekatan literature review untuk merangkum berbagai referensi ilmiah menjadi dokumentasi yang lebih terstruktur.
Hasilnya mencakup 66 bahan herbal, termasuk kunyit dan temulawak, yang dihimpun dalam bentuk buku serta platform digital. Informasi yang tersedia di Sido HerbalPedia mencakup profil tanaman, kandungan senyawa bioaktif, mekanisme kerja, hingga hasil penelitian dan uji klinis yang tersedia.
Sido Muncul memperkenalkan Sido HerbalPedia sebagai pusat informasi herbal dan kesehatan berbasis ilmiah pada April 2026. Platform ini juga dilengkapi fitur Literatur Herbal, Holistic Healthcare, serta Si Herbi, asisten herbal berbasis kecerdasan buatan (AI) yang membantu pengguna memperoleh informasi kesehatan.
Kehadiran platform tersebut menjadi salah satu upaya memperluas akses terhadap informasi mengenai tanaman herbal. Meski demikian, informasi yang tersedia tetap perlu dipahami sesuai konteks ilmiahnya. Literatur tentang bahan herbal tidak serta-merta menjadi pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan atau pengobatan medis yang diperlukan.
Buka Peluang Usaha Herbal bagi UMKM
Bagi Irwan, akses terhadap hasil penelitian memiliki arti penting bagi pelaku UMKM. Dengan memanfaatkan referensi yang telah tersedia, calon pengusaha dapat mempelajari bahan herbal dan menelusuri dasar ilmiahnya tanpa harus mengulang seluruh proses pencarian literatur dari awal.
"Ini kontribusi saya supaya bisa diambil masyarakat, UKM-UKM, masyarakat yang butuh informasi tentang obat herbal. Jadi enggak perlu ngeriset sendiri baru berharga, ini sudah ada risetnya," ujarnya.
Ia berharap pengetahuan mengenai bahan herbal tidak hanya dapat dimanfaatkan perusahaan farmasi berskala besar. Pelaku usaha kecil juga perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan bisnis dengan dukungan informasi yang memadai.
"Jadi semua bisa berbisnis setara. Kalau enggak, kan nanti yang bisa berbisnis pabrik farmasi. Saya padahal kita kepingin supaya semua bisa melakukan," tutur Irwan.
Akses terhadap penelitian dapat menjadi bekal awal bagi UMKM untuk mengenali bahan baku dan memahami landasan ilmiah produk yang ingin dikembangkan. Namun, ketersediaan literatur tidak berarti suatu produk dapat langsung dipasarkan. Pengembangan produk tetap memerlukan tahapan penelitian dan pengujian yang sesuai, pemenuhan standar keamanan, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Dorong Inovasi dan Hilirisasi Penelitian
Dalam kesempatan tersebut, Irwan juga menyinggung perlunya keterbukaan terhadap pendekatan penelitian yang berbeda. Ia melontarkan gagasan untuk mengeksplorasi metode penelitian selain yang lazim digunakan, termasuk contoh pengujian menggunakan kambing. Pernyataan tersebut disampaikannya secara berseloroh.
"Tapi menurut saya di luar itu masih banyak jalan ke Roma. Tadi kan saya terangin tuh nelitinya mesti pakai tikus, saya nyoba pakai kambing, hehehe, ya siapa tahu benar," katanya.
Gagasan itu disampaikan dalam konteks eksplorasi pendekatan penelitian. Meski demikian, pemilihan metode dan hewan uji harus tetap mempertimbangkan tujuan penelitian, rancangan ilmiah, serta ketentuan etika yang berlaku.
Melalui Sido HerbalPedia, hasil penelitian tanaman herbal diharapkan tidak berhenti sebagai publikasi akademik, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Bagi UMKM, akses terhadap referensi ilmiah dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan usaha herbal secara lebih terarah, dengan tetap mengutamakan keamanan dan dasar ilmiah.
Ketua Panitia IC-ICOHELICS 2026, dr. Ratih Puspita Febrinasari, menilai paparan Irwan memberikan perspektif mengenai hubungan antara penelitian dan pemanfaatannya dalam industri.
"Jadi dengan Sido Muncul ini memberi insight baru. Jadi tidak hanya meneliti, tapi sampai akhirnya nanti bisa dipasarkan," kata Ratih.
Konferensi Bahas Inovasi Klinis dan Farmakologi
Konferensi internasional tersebut mengusung tema “Advancing Clinical and Pharmacological Innovations to Achieve the SDGs: Tackling Obesity, Metabolic Disorders, and Diabetes for Global Health Equity.” Tema ini menyoroti pengembangan inovasi klinis dan farmakologi untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam menghadapi obesitas, gangguan metabolik, dan diabetes.
Forum yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan pembicara dari Indonesia, Malaysia, Swedia, Taiwan, Rumania, dan Australia. Materi yang dibahas mencakup pemanfaatan produk alami dalam pengobatan preventif, penemuan obat, faktor sosial yang memengaruhi kesehatan, hingga pendekatan perawatan bagi pasien dengan penyakit penyerta.
Dari Malaysia, Prof. Sharida Fakurazi, PhD, membawakan materi “Natural Products in Preventive Medicine for Metabolic Disorders: Mechanisms, Efficacy, and Future Perspectives”. Presentasinya membahas produk alami dalam pengobatan preventif untuk gangguan metabolik, termasuk mekanisme, efektivitas, dan prospek pengembangannya.
Prof. Nawi Ng, MD, MPH, PhD, dari Swedia menyampaikan materi “Obesity, Diabetes, and Multimorbidity in Indonesia: Why Social Determinants Must Be at the Centre of NCD Control Strategy”. Materi tersebut menyoroti obesitas, diabetes, dan multimorbiditas di Indonesia, dengan penekanan pada pentingnya faktor sosial dalam strategi pengendalian penyakit tidak menular.
Sementara itu, A/Prof. Kuei-Hung Lai, PhD, dari Taiwan membawakan materi “Innovations in Natural Product Drug Discovery for Inflammatory and Metabolic Diseases”, yang membahas inovasi penemuan obat berbasis produk alami untuk penyakit inflamasi dan gangguan metabolik.
Dari Rumania, Dr. Roxana Gheorghita mempresentasikan “Moringa oleifera: From Functional Nutrition to Translational Biomedical Application in Metabolic Disorders”. Pembahasannya mencakup pemanfaatan Moringa oleifera, mulai dari nutrisi fungsional hingga penerapan biomedis translasi dalam konteks gangguan metabolik.
Anthony Sunjaya, MD, MSc, PhD, dari Australia membawakan materi “Personalising Care for Those with COPD and Cardiometabolic Multimorbidity Through A Treatable Traits”. Presentasi ini membahas pendekatan perawatan yang dipersonalisasi bagi pasien penyakit paru obstruktif kronis (PPOK/COPD) dan multimorbiditas kardiometabolik melalui identifikasi karakteristik klinis yang dapat ditangani.
Adapun dari Indonesia, dr. dr. Ratih Dewi Yudhani, MSc, mempresentasikan materi “In Vitro Model of Insulin Resistance: A Recent Update”, yang membahas perkembangan terbaru model in vitro untuk penelitian resistensi insulin.
Melalui rangkaian diskusi tersebut, konferensi ini mempertemukan perspektif lintas disiplin mengenai tantangan kesehatan dan pengembangan inovasi berbasis bukti ilmiah. Pembahasan mengenai penelitian bahan alami dan pengembangan obat juga menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan yang relevan bagi dunia akademik maupun industri.
(*)