Liputan6.com, Jakarta - Tim keamanan siber dan administrator situs web kini berlomba memperbarui PHP setelah sejumlah celah keamanannya dipublikasikan.
Dalam hitungan jam setelah pengungkapan, penyerang mulai mencoba memanfaatkan kelemahan itu untuk menyusup ke sistem yang terhubung ke internet.
Advertisement
Dikutip dari Wired, Selasa (27/10/2026), kerentanan yang dikenal sebagai PHP2Shell menjadi sorotan karena artificial intelligence (AI) membantu peneliti menemukan cara praktis untuk mengeksploitasinya.
Sebagian masalah yang mendasarinya sudah diketahui selama bertahun-tahun, tetapi sebelumnya dianggap terlalu rumit untuk dimanfaatkan secara langsung.
Menurut analisis Cloudflare, jutaan percobaan eksploitasi terdeteksi dalam beberapa jam setelah informasi kerentanan dipublikasikan.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana AI berpotensi mempercepat upaya penyerang dalam memanfaatkan celah perangkat lunak.
Meski percobaan serangan meningkat tajam, kondisi tersebut belum berarti terjadi peretasan massal.
PHP Foundation Belum Menemukan Eksploitasi yang Berhasil
PHP Foundation menyatakan belum menemukan eksploitasi yang berhasil. Sejumlah contoh eksploitasi yang beredar di publik juga dinilai tidak efektif.
Peneliti perusahaan keamanan Calif mengidentifikasi PHP2Shell dan mengembangkan cara untuk mengeksploitasinya pada awal Agustus.
Mereka menggunakan model AI melalui program Patch the Planet dari OpenAI, tetapi prosesnya tetap membutuhkan keahlian manusia untuk memahami kode dan memastikan kelemahan itu bisa dimanfaatkan.
Sebagian masalah yang mendasari celah ini sebenarnya telah teridentifikasi pada 2024.
Celah Sudah Diketahui, tapi Sulit Dieksploitasi
Namun, saat itu peneliti belum menemukan cara praktis untuk mengeksploitasinya. Kemampuan AI membantu membuka jalan untuk memanfaatkan kelemahan yang sebelumnya sulit diubah menjadi serangan nyata.
Peneliti OpenAI dan perusahaan keamanan Wiz juga menemukan kerentanan terkait secara independen.
Menurut peneliti keamanan di Wiz, Sagi Tzadik, kelemahan ini telah diketahui tim PHP selama bertahun-tahun, tetapi belum ditangani karena belum ditemukan cara praktis untuk mengeksploitasinya.
AI Mempercepat Eksploitasi
Perkembangan AI membuat analisis kerentanan berlangsung lebih cepat dan meningkatkan tekanan terhadap pengembang serta administrator yang memiliki sumber daya terbatas.
Pembaruan keamanan Microsoft pada Oktober 2026 tercatat mencakup rekor 1.453 kerentanan. Bank of America pun merekrut 1.000 konsultan untuk memperbaiki kelemahan yang ditemukan AI Mythos milik Anthropic.
Meski begitu, AI tidak sepenuhnya mengubah prinsip dasar keamanan siber. Teknologi tersebut mempercepat pencarian dan analisis kelemahan, tetapi penelitian kompleks masih membutuhkan keahlian manusia.
Luasnya penggunaan PHP di internet juga membuat kasus ini belum tentu mewakili kondisi semua perangkat lunak.
Wakil Presiden Riset dan Pengembangan Hunter Strategy sekaligus mantan peretas NSA, Jake Williams, memperkirakan semakin banyak kerentanan lama akan ditemukan kembali.
Namun, ia menilai jumlah celah yang mudah ditemukan sekaligus dieksploitasi tetap terbatas, terutama karena tidak semua perangkat lunak memiliki tingkat keterpaparan seperti PHP.
AI Bisa Menemukan Kelemahan yang Menjadi Ancaman
Peneliti Calif yang menemukan celah ini, Ryan Austin, juga menegaskan bahwa model AI belum mampu menemukan seluruh bug hanya melalui perintah sederhana.
Peneliti keamanan, Niels Provos, turut mengingatkan agar publik tidak langsung panik karena penemuan PHP2Shell tetap membutuhkan tim dengan keterampilan tinggi.
Kasus ini menunjukkan bahwa AI bisa mengubah kelemahan lama menjadi ancaman yang lebih nyata dalam waktu lebih singkat.
Bagi pengelola server dan pengembang, langkah pentingnya adalah memeriksa sistem, memasang pembaruan keamanan, dan menindaklanjuti celah yang sudah diketahui sebelum penyerang berhasil memanfaatkannya.